TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengungkap 28 persen remaja perempuan di seluruh dunia tidak melakukan aktivitas fisik minimum 60 menit setiap harinya
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan remaja laki-laki yang mencapai 22 persen.
Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan aktivitas fisik antara remaja perempuan dan laki-laki yang masih menjadi persoalan kesehatan global.
Berdasarkan perkiraan global terbaru WHO yang dirilis pada 4 November 2026, sekitar satu dari empat remaja berusia 11–17 tahun atau sekitar 240 juta anak muda melaporkan tidak memenuhi aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari dalam kurun waktu tujuh hari.
Secara rata-rata, remaja hanya aktif bergerak selama 2,7 hari dalam seminggu.
Bahkan, hanya 14 persen remaja yang melaporkan melakukan aktivitas fisik selama 60 menit setiap hari dalam sepekan.
Baca juga: Menkes Budi Gunadi Sadikin Masuk 7 Kandidat Dirjen WHO, Ini Tahapan Pemilihannya hingga 2027
Menurut WHO, satu hari dianggap memenuhi tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan ketika remaja melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik sedang hingga berat, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau bermain olahraga yang meningkatkan detak jantung dan laju pernapasan.
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dunia belum menunjukkan kemajuan berarti dalam meningkatkan aktivitas fisik remaja selama 15 tahun terakhir.
"Selama 15 tahun, dunia hampir tidak membuat kemajuan dalam mendorong kaum muda untuk bergerak, dan anak perempuan paling tertinggal," kata Tedros dikutip dari website resmi WHO, Jumat (6/11/2026).
Menurutnya, persoalan kurangnya aktivitas fisik tidak cukup diselesaikan dengan meminta remaja lebih rajin berolahraga.
Lingkungan tempat tinggal, sekolah, dan ruang publik juga perlu mendukung anak agar lebih mudah bergerak dan bermain.
Baca juga: WHO Peringatkan Krisis Iklim Kian Ancam Kesehatan, 710.000 Kematian Terkait Panas pada 2023
"Jawabannya bukanlah dengan menyuruh remaja untuk berusaha lebih keras. Jawabannya adalah membangun sekolah, jalan, dan komunitas di mana bergerak, bermain, dan aktif adalah hal yang aman, mudah, dan normal," ujarnya.
Kesenjangan aktivitas fisik juga terlihat dari jumlah remaja yang mampu memenuhi kebutuhan gerak setiap hari.
WHO mencatat, hanya 11 persen remaja perempuan yang melaporkan aktif bergerak selama 60 menit setiap hari dalam seminggu.
Sementara itu, pada remaja laki-laki angkanya mencapai 17 persen.
Artinya, remaja perempuan tidak hanya lebih banyak yang sama sekali tidak memiliki hari aktif, tetapi juga lebih sedikit yang mampu memenuhi aktivitas fisik setiap hari.
Perbedaan tersebut ditemukan di hampir setiap negara dan wilayah WHO.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Global Health ini didasarkan pada 389 survei berbasis populasi dari 140 negara dan wilayah, dengan melibatkan lebih dari 3,2 juta remaja.
WHO menjelaskan, tidak ada satu penyebab tunggal yang membuat aktivitas fisik remaja sulit meningkat.
Kebiasaan bergerak dipengaruhi oleh berbagai hal, mulai dari lingkungan tempat tinggal, kegiatan sekolah, cara bepergian, hingga aktivitas saat waktu luang.
Kesempatan berjalan kaki dan bersepeda dengan aman, ketersediaan ruang publik, kondisi lingkungan sekolah, kemampuan ekonomi, norma sosial, serta gaya hidup yang semakin banyak menggunakan layar juga dapat memengaruhi aktivitas fisik remaja.
Kurangnya aktivitas fisik bukan hanya berkaitan dengan kebugaran tubuh. Kebiasaan ini juga menjadi salah satu faktor risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.
Karena itu, WHO menilai pembentukan kebiasaan aktif sejak usia muda penting untuk melindungi kesehatan anak hingga dewasa.
Upaya meningkatkan aktivitas fisik remaja pun perlu melibatkan berbagai sektor, tidak hanya keluarga dan sekolah.
WHO mendorong penguatan kebijakan di bidang pendidikan, transportasi, perencanaan kota, olahraga, dan kesehatan.
Sekolah dapat menyediakan lebih banyak kesempatan bagi siswa untuk bergerak dan bermain.
Sementara itu, lingkungan tempat tinggal perlu mendukung aktivitas berjalan kaki dan bersepeda dengan jalur yang aman.
Bagi orang tua, temuan ini menjadi pengingat bahwa aktivitas fisik anak tidak harus selalu berupa olahraga terstruktur.
Kesempatan bergerak dalam keseharian, seperti berjalan kaki, bermain di luar rumah, bersepeda, maupun mengikuti kegiatan fisik di sekolah, juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan aktif.
Dengan lingkungan yang mendukung, aktivitas fisik diharapkan tidak menjadi beban tambahan bagi remaja, melainkan bagian alami dari kehidupan sehari-hari.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.