TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Suara percakapan terdengar bersahutan di antara pengunjung yang mengelilingi sebuah meja seduh kopi di Kedai Kopi Antarakata yang terletak di Tembalang Semarang.
Beberapa orang mengangkat ponsel untuk merekam, sementara lainnya memperhatikan gerakan peserta yang menuangkan air panas ke bubuk kopi dalam dripper.
Di atas meja berlapis kain biru, sejumlah peralatan seduh tertata. Ada teko berleher angsa, timbangan digital, grinder, dripper, hingga gelas-gelas kecil untuk menampung hasil seduhan.
Di hadapan para penonton, seorang peserta tampak berkonsentrasi meracik kopi.
Tangannya mengendalikan teko, menjaga aliran air agar membasahi bubuk kopi secara merata.
Sesekali ia memeriksa peralatan di atas meja sebelum melanjutkan proses penyeduhan.
Di sisi lain, peserta berikutnya bersiap dengan peralatannya sendiri. Tak ada panggung besar atau sekat yang memisahkan peserta dengan penonton.
Siapa pun yang datang bisa melihat langsung proses penyeduhan dari jarak dekat.
Begitulah suasana Tarung Tangan, kompetisi seduh kopi manual atau manual brew yang mempertemukan para barista dan penikmat kopi di Kota Semarang.
Alih-alih mengandalkan kemegahan acara, kompetisi ini menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan keseharian pekerja kedai kopi.
Meja seduh menjadi pusat perhatian, sementara orang-orang yang berdiri mengelilinginya ikut membangun suasana kompetisi yang cair.
Beberapa penonton terlihat tersenyum dan berbincang sambil menyaksikan jalannya perlombaan. Ada pula yang mengabadikan momen melalui ponsel.
Di tengah kerumunan itu, para peserta tetap berusaha menjaga konsentrasi, mengatur gerakan, dan menyelesaikan seduhan mereka.
Bagi sebagian orang, menyeduh kopi mungkin sekadar menuangkan air panas ke dalam cangkir. Namun, bagi para peserta Tarung Tangan, proses tersebut membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan pemahaman terhadap karakter kopi.
Setiap gerakan memiliki peran dalam menghasilkan seduhan. Mulai dari menyiapkan bubuk kopi, mengatur aliran air, hingga memastikan hasil akhirnya siap dicicipi.
Koordinator Kompetisi Tarung Tangan, Vincentius Dimas Sanubari, mengatakan kegiatan tersebut bermula dari obrolan santai sekelompok teman yang ingin membuat aktivitas berbeda saat berkumpul.
"Awalnya kami lagi nongkrong biasa. Tiba-tiba ada yang nyeletuk, daripada cuma ngobrol-ngobrol, mending bikin lomba kecil-kecilan," kata Dimas.
Pada penyelenggaraan pertama, kompetisi itu berlangsung sederhana. Pesertanya hanya sekitar delapan hingga sepuluh orang. Mereka membayar biaya pendaftaran, kemudian uang yang terkumpul diberikan kepada pemenang. Belum ada konsep besar yang dirancang secara khusus. Tarung Tangan awalnya memang sebatas kegiatan internal untuk bersenang-senang.
Namun, gagasan sederhana itu perlahan berkembang. Ketika kompetisi kembali digelar, semakin banyak pekerja industri kopi yang tertarik untuk ikut serta. Pada volume kedua, Tarung Tangan diselenggarakan di Sure Coffee Company.
Kompetisi kemudian berlanjut ke volume ketiga dengan antusiasme yang tetap terjaga.
Pesertanya tidak lagi terbatas pada barista yang bekerja di kedai kopi. Sejumlah penikmat kopi rumahan atau home brewer hingga pemilik usaha di industri kopi juga ikut meramaikan kegiatan tersebut.
Menurut Dimas, perkembangan itu menjadi hal menarik karena Tarung Tangan bisa mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda dalam satu ruang yang sama.
"Yang menyenangkan, ternyata yang terlibat bukan cuma pekerja barista, tetapi juga ada owner kedai. Jadi, kami bisa menggabungkan beberapa genre untuk bertukar pikiran dan berbagi ilmu," ujarnya.
Tarung Tangan dirancang sebagai kompetisi yang tidak terlalu kaku. Penyelenggara ingin mempertahankan suasana akrab agar peserta tetap bisa menikmati kegiatan tersebut tanpa kehilangan semangat berkompetisi.
Pada setiap volume, panitia menyediakan 24 slot peserta. Sementara itu, jumlah penonton terkadang bisa melampaui 50 orang.
Kerumunan yang terbentuk di sekitar meja seduh menjadi bagian dari daya tarik acara. Penonton bisa menyaksikan langsung teknik yang digunakan para peserta, sekaligus melihat bagaimana masing-masing barista menangani peralatan dan menyelesaikan seduhannya.
Format kompetisi yang dekat dengan penonton juga membuka kesempatan untuk saling bertukar pengalaman.
Peserta tidak hanya bertemu ketika perlombaan berlangsung, tetapi juga berkesempatan mengenal rekan sesama pekerja kopi dari kedai yang berbeda.
Dimas mengatakan, Tarung Tangan saat ini berfokus pada kompetisi manual brew. Jenis kopi yang digunakan dapat berbeda dalam setiap penyelenggaraan. Pada salah satu volume sebelumnya, misalnya, peserta menggunakan kopi robusta.
Adapun penilaian hasil seduhan dilakukan oleh juri yang memiliki pengalaman di industri kopi.
Sejumlah orang yang berkecimpung dalam dunia sangrai kopi atau roasting juga terlibat dalam penjurian. Meski demikian, penyelenggara tidak ingin membuat kompetisi terasa terlalu formal.
"Intinya kami ingin bersenang-senang, mengumpulkan teman-teman barista. Teknisnya juga tidak kaku-kaku banget karena memang tujuannya untuk bersenang-senang," jelasnya.
Kompetisi ini direncanakan berlangsung setiap bulan dengan lokasi yang berpindah-pindah. Penyelenggara menyasar kedai kopi di Semarang yang memiliki ruang cukup luas untuk menampung peserta dan penonton.
Pemilihan tempat juga mempertimbangkan kebutuhan teknis, seperti ketersediaan listrik, air, serta peralatan pendukung penyeduhan.
Karena itu, kolaborasi dengan kedai kopi menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Tarung Tangan.
Memasuki volume keempat, penyelenggara telah merencanakan kegiatan di Ahead. Kedai tersebut dipilih karena memiliki ruang yang cukup luas dan memungkinkan kompetisi digelar setelah jam operasional berakhir.
Kolaborasi dengan kedai kopi juga membuka peluang dukungan berupa peralatan dan bahan baku.
Dengan begitu, penyelenggara dapat menggelar kompetisi tanpa harus menyediakan seluruh kebutuhan secara mandiri. Sementara itu, penyelenggara berupaya menghadirkan hadiah yang lebih besar dengan menggandeng sejumlah sponsor.
"Hadiah bagi pemenang ditargetkan bisa mencapai Rp 1 juta," ujarnya. (Rezanda Akbar)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.