TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Wilayah Provinsi Bali saat ini mulai memasuki masa peralihan (pancaroba) dari musim kemarau menuju musim hujan.
Beberapa hari belakangan ini, wilayah Bali sudah terjadi hujan dengan intensitas sedang.
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi serta gelombang tinggi di sejumlah perairan laut.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Luh Eka Arisanti menjelaskan, secara umum wilayah Bali saat ini masih berada dalam periode musim kemarau.
Baca juga: Bali Masuki Peralihan Musim Kemarau ke Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi
Namun, curah hujan dengan intensitas ringan hingga lebat sudah mulai turun secara tidak merata dalam tiga hari terakhir.
“Awal musim hujan diprediksi mulai masuk secara bertahap di wilayah Bali pada bulan November hingga Desember 2026,” ujar Eka Arisanti, Kamis (29/10).
Lebih lanjut, Eka Arisanti memprakirakan untuk tiga hari ke depan, wilayah Bali masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang penyebarannya belum merata.
Menghadapi periode peralihan musim ini, BBMKG mengeluarkan sejumlah imbauan penting bagi masyarakat.
Eka Arisanti menekankan perlunya kewaspadaan ekstra terhadap kondisi cuaca ekstrem yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti genangan air, banjir, hingga tanah longsor.
“Pada periode peralihan ini, kami mengimbau masyarakat untuk melakukan penyesuaian kegiatan, terutama pada sektor pertanian. Selain itu, penting untuk selalu menjaga kondisi kesehatan diri mengingat cuaca yang kerap berubah, dan selalu mengupdate informasi prakiraan cuaca atau iklim resmi dari BMKG,” jelasnya.
Tidak hanya di darat, peringatan juga ditujukan bagi masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan dan maritim.
Pihaknya meminta para nelayan maupun pelaku pelayaran untuk mewaspadai potensi peningkatan tinggi gelombang laut.
Baca juga: BMKG Pantau Curah Hujan Dua Hari ke depan, Jembrana Mulai Hujan, Belum Dipastikan Tanda Awal
“Untuk kegiatan maritim, masih perlu diwaspadai potensi tinggi gelombang laut yang dapat mencapai 2 meter atau lebih. Kondisi ini berpeluang terjadi di Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, dan Perairan Selatan Bali,” ucapnya.
Di wilayah Kabupaten Jembrana juga mulai terjadi hujan dengan intensitas sedang. Namun, pihak BMKG masih belum berani memastikan apakah ini tanda awal musim hujan.
Namun, jika melihat kondisi saat ini bisa dikatakan sebagai periode peralihan atau musim pancaroba dari musim kemarau ke penghujan.
Staf Analis Stasiun Klimatologi BMKG Bali, Trayi Budi Samantu menjelaskan, saat ini memang beberapa wilayah di Bali sudah ada yang turun hujan, terutama wilayah Kabupaten Tabanan yang hujannya cukup intens beberapa hari terakhir ini.
Namun begitu, kata dia, saat ini pihaknya belum berani memastikan apakah saat ini bisa dibilang tanda awal musim hujan atau belum. Sebab, pihaknya harus melihat atau memonitoring kondisi curah hujan selama dua dasarian lagi ke depan atau 20 hari ke depan.
“Monitoring ini untuk menentukan apakah ini sudah awal musim hujan. Dikarenakan awal musim hujan ditentukan dengan jumlah curah hujan >= 50 mm per dasarian diikuti dengan 2 dasarian berikutnya,” jelasnya saat dikonfirmasi, Kamis (29/10).
Trayi menyebutkan, jika melihat kondisi saat ini lebih cenderung atau bisa dibilang periode peralihan (pancaroba) dari kemarau ke penghujan.
Di mana kondisi atmosfer sedang mengalami kondisi yang tidak stabil karena adanya pola pergantian dinamika atmosfernya.
“Sehingga kita perlu melihat lagi dua dasarian ke depan apakah masih berlanjut hujan atau ada jeda lagi. Akhir bulan Oktober nanti kami akan menganalisis dahulu prediksi peluang curah hujan untuk 2 dasarian ke depan seperti apa,” tandasnya.
Sementara itu, lima desa di Kabupaten Buleleng masih mengandalkan suplai air bersih dari truk tangki untuk memenuhi kebutuhan warga di tengah musim kemarau.
Kondisi ini diperkirakan belum segera berakhir karena musim hujan di Buleleng diprediksi baru mulai November 2026.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng, Gede Suyasa, mengatakan, hingga saat ini penyaluran air bersih masih dilakukan ke sejumlah desa yang membutuhkan. Adapun lima desa tersebut yakni Desa Tejakula dan Desa Madenan, Kecamatan Tejakula; Desa Sinabun, Kecamatan Sawan; serta Desa Cempaga dan Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.
“Dalam penyalurannya kami kerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM). Selain itu kami juga dibantu oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui pemerintah provinsi Bali,” katanya, Kamis (29/10/2026).
Di sisi lain, berdasarkan informasi BMKG yang diterima, musim hujan di Kabupaten Buleleng diperkirakan baru mulai pada November 2026. Namun, belum ada kepastian mengenai waktu masuknya musim hujan, apakah pada awal, pertengahan, atau akhir November.
“Masih (musim kemarau). Buleleng diperkirakan mulai masuk musim penghujan sekitar November. Memang diperkirakan lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Suyasa.
Mantan Camat Tejakula itu mengatakan, sesuai prediksi BMKG, pada November 2026 hanya 33 persen wilayah Bali termasuk Kabupaten Buleleng yang turun hujan.
Sedangkan puncak musim hujan, diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Sementara itu, BPBD Buleleng juga mulai mempersiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi bencana saat musim hujan.
Salah satunya dengan memastikan kesiapan peralatan untuk menangani pohon tumbang, termasuk mesin gergaji mesin atau chainsaw.
Selain menyiapkan peralatan, BPBD telah memberikan edukasi kepada sejumlah desa yang dinilai rawan terdampak saat musim hujan, di antaranya Gitgit, Pancasari, dan Wanagiri.
“Jelang musim hujan ini, kami juga telah mengedarkan surat kepada pemerintah desa, kecamatan, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar melakukan upaya mitigasi secara mandiri. Salah satunya melalui pemangkasan ranting pohon yang berpotensi tumbang dan membahayakan lingkungan sekitar,” tandasnya.
Denpasar Normalisasi Drainase dan Sungai
Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar menggelontorkan anggaran Rp 15 miliar untuk mengantisipasi banjir.
Anggaran ini digunakan untuk normalisasi sungai dan saluran drainase di 40 titik. Kegiatan ini telah dilakukan sejak dua bulan lalu dengan menyasar sejumlah sungai, got, dan saluran air yang dinilai membutuhkan penanganan.
Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara mengatakan, pengerjaan normalisasi terus dilakukan sebagai langkah mengurangi risiko banjir di wilayah Kota Denpasar.
“Tim terus bekerja turun di lapangan, tidak baru hujan saat ini. Sudah dari dua bulan sebelumnya sudah turun. Sekarang alat berat-alat berat kita semuanya ada di sungai-sungai, di tempat normalisasi,” Jaya Negara, Kamis (29/10).
Ia menjelaskan, sejumlah lokasi yang menjadi sasaran normalisasi di antaranya Tukad Badung, Tukad Mati, dan Tukad Loloan, Sanur.
Menurutnya, pengerahan alat berat dan pelaksanaan normalisasi di sejumlah titik diharapkan dapat membantu memperlancar aliran air, terutama ketika curah hujan meningkat.
Meski demikian, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan langkah yang dilakukan pemerintah.
Jaya Negara menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan ke sungai maupun saluran drainase.
Pasalnya, sampah yang menumpuk dapat menghambat aliran air dan memperburuk kondisi ketika hujan deras mengguyur Kota Denpasar.
“Bagaimanapun juga, tanpa dukungan masyarakat, terutama dalam membuang sampah ini, kita tidak akan maksimal juga. Ini butuh kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat di dalam mengendalikan banjir seperti ini,” katanya. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.