BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN- Cahaya keemasan dari nyala api obor menerangi kegelapan malam di Desa Murung Jambu, Kecamatan Paringin, Balangan. 

Suasana sakral yang hangat begitu terasa saat sepasang pengantin berjalan perlahan melewati lorong-lorong cahaya obor yang berjejer rapi di kiri dan kanan jalan. 

Langkah demi langkah kedua mempelai juga dinaungi oleh gapura berbahan bambu yang terpasang obor menyala di atasnya.  Warga menyebutnya Bagunung Api, yang diangkat tepat di atas kepala pengantin sembari menaungi jalan mereka.

Pengantin pria mengenakan gamis putih lengkap, sementara pengantin wanita nampak tampil anggun dalam balutan busana bernuansa senada.

Baca juga: Kiprah Pencinta Layangan Dandang di Tapin, Reza Ingin Lestarikan Warisan Tradisi Turun-temurun

Di bawah  bambu dan kawalan warga desa, mereka melintasi jalur khusus tujuh gapura atau yang dikenal dengan tradisi Balawang Tujuh.  

Sebelum mengikuti tradisi sambutan cahaya obor, pasangan pengantin ini diarak warga menggunakan mobil yang sudah dihias dan diikuti iring-iringan kendaraan di jalan raya, yang tentunya juga tak lepas dari pengawalan kepolisian yang memimpin jalan.

Bagi masyarakat lokal di Desa Murung Jambu, tradisi ini bukan sekadar prosesi penyambutan dalam pesta pernikahan.

Lebih dari itu, prosesi menembus tujuh gapura ini merupakan simbol perjalanan hidup berumah tangga yang tidak pernah lepas dari rintangan dan ujian. 

Selama ini, Balawang Tujuh umumnya dikenal dan diidentikkan dengan prosesi pernikahan bagi pasangan janda dan duda. Namun, potensi nilai kulturalnya yang sangat mendalam mendorong pemerintah desa setempat untuk mengembangkannya lebih jauh. 

Kepala Desa Murung Jambu, H Abdul Hadi, mengungkapkan komitmennya untuk mengangkat dan melestarikan tradisi ini agar tidak tergerus zaman, sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.

Ia bahkan berharap tradisi unik ini kelak dapat diperkenalkan dan diterapkan juga bagi pasangan muda yang baru pertama kali membina rumah tangga.  

"Pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang untuk menemani hidup. Pernikahan juga tentang kesediaan menerima kekurangan, belajar dari masa lalu, serta berjuang bersama ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan," tutur Abdul Hadi, Kamis (29/10/2026).

Abdul Hadi mengungkapkan keberadaan tujuh pintu atau gapura dalam tradisi Balawang Tujuh memiliki filosofi mendalam sebagai cerminan tahapan kehidupan pernikahan.

Pasangan suami istri dipastikan akan melewati berbagai fase kehidupan, mulai dari momen kebahagiaan hingga perbedaan pendapat dan cobaan hidup yang membutuhkan kesabaran ekstra serta kebersamaan. 

Tak kalah bermakna, pendar nyala api obor dalam prosesi yang dinamakan Bagunung Api yang menaungi kedua mempelai membawa pesan mendalam. 

"Nyala api ini menjadi simbol semangat dan perjuangan. Ini mengingatkan pasangan bahwa kehidupan rumah tangga membutuhkan keberanian, tanggung jawab, dan komitmen kuat dari kedua belah pihak," ungkapnya.

Baca juga: Intip Keseruan Menangguk Iwak, Tradisi Tahunan Warga Tebing Tinggi Balangan Kalsel Saat Sungai Surut

Melalui pelestarian Balawang Tujuh, Abdul Hadi berharap nilai-nilai luhur Banjar seperti saling menghargai, menjaga kepercayaan, dan menyelesaikan setiap permasalahan secara bersama-sama dapat terus tertanam pada pasangan yang menikah. 

Kini, Pemerintah Desa Murung Jambu terus berupaya menjadikan Balawang Tujuh sebagai ikon budaya resmi desa.

Bersama pemuda setempat yang aktif dalam melestarikan budaya tersebut, Abdul Hadi berharap langkah yang mereka lakukan dapat memperkuat identitas serta pengenalan budaya lokal Balangan ke kancah yang lebih luas, sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap lestari dan bernapas di tengah modernisasi.(Banjarmasinpost.co.id/Isti Rohayanti)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.