Liputan6.com, Jakarta - Kamera pengawas atau CCTV di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK) mati. Hal ini menyebabkan petugas kesulitan memantau kondisi realtime aktivitas gunung yang berada di Selat Sunda tersebut.


"CCTV di lapangan off," kata Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono, Kamis (29/10/2026).


Selain melaporkan kondisi CCTV, Deny juga menjelaskan bahwa sempat terjadi gempa amplitudo 48 mm selama 8 detik dalam rentang pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB.


Kemudian terjadi satu gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 39 mm selama 16 detik. Selanjutnya satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 5-35 mm, dominan 10 mm.


"Satu kali gempa embusan dengan amplitudo 44 mm, dan lama gempa 38 detik," tulisnya lagi.


Gunung Anak Krakatau setinggi 157 mdpl itu tertutup kabut, asap kawah tidak teramati, cuaca berawan hingga hujan, angin lemah ke arah barat laut.


Masyarakat, wisatawan hingga nelayan, dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau, serta tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar. Selalu memastikan kebenarannya melalui sumber resmi.


"Tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 1 km dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau," dalam kutipannya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.