BANJARMASINPOST.CO.ID - Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor hortikultura di Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat kenaikan signifikan pada September 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel yang dirilis Oktober 2026, NTP hortikultura meningkat 11,48 persen hingga mencapai 132,52.
Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya harga yang diterima petani, khususnya dari kelompok sayur-sayuran.
Kepala BPS Kalsel, Muhammad Mukhanif, mengatakan, perkembangan NTP menjadi salah satu indikator untuk melihat daya tukar atau kemampuan ekonomi petani melalui perbandingan indeks harga yang diterima dengan indeks harga yang dibayar petani.
Pada subsektor hortikultura, indeks harga yang diterima petani (It) meningkat 11,89 persen pada September 2026. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) hanya naik 0,36 persen.
Kenaikan harga yang diterima petani terjadi pada tiga kelompok utama hortikultura, yakni sayur-sayuran, buah-buahan, dan tanaman obat-obatan. Kelompok sayur-sayuran mencatat kenaikan tertinggi, yakni sebesar 19,60 persen.
Baca juga: Kabut Asap Pekat Selimuti Wilayah HSS, ISPU Kategori Berbahaya, PJJ Kembali Diberlakukan
Kenaikan indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh meningkatnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,43 persen dan indeks biaya produksi serta penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,05 persen.
Perbedaan kenaikan antara harga yang diterima dan harga yang dibayar petani tersebut mendorong NTP hortikultura mengalami peningkatan cukup besar dibandingkan subsektor pertanian lainnya yang tercatat dalam data tersebut.
Sedangkan NTP subsektor tanaman pangan juga mengalami kenaikan pada September 2026, yakni sebesar 1,77 persen.
Peningkatan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani tanaman pangan naik 2,09 persen, lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang meningkat 0,32 persen.
Berdasarkan kelompok penyusunnya, kenaikan indeks harga yang diterima petani dipengaruhi oleh meningkatnya indeks kelompok padi sebesar 2,12 persen. Sebaliknya, kelompok palawija mengalami penurunan sebesar 1,62 persen.
Sementara itu, kenaikan indeks harga yang dibayar petani didorong oleh meningkatnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,40 persen serta indeks biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,07 persen.
Perkembangan menunjukkan kenaikan indeks harga yang diterima petani tanaman pangan lebih besar dibandingkan kenaikan indeks pengeluaran yang harus dibayarkan petani.
Kenaikan juga terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat. September 2026, NTP subsektor ini meningkat 1,55 persen.
Kenaikan didorong oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,10 persen. Indeks harga yang dibayar petani naik 0,54 persen.
Dari sisi pengeluaran, indeks konsumsi rumah tangga meningkat 0,65 persen, sedangkan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal naik 0,09 persen.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani yang lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar menjadi faktor yang mendorong peningkatan NTP perkebunan rakyat pada periode tersebut.
(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.