TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW – Muncul di sekitar foto booth, batik lengan panjang berwarna kuning yang dikenakan Rizal Tanzil tampak mencuri perhatian. 

Ini terbukti dengan fotografer dari penyelenggara langsung memintanya berpose di depan kamera. 

Sejumlah delegasi dari berbagai negara sekaligus penggemar fashion yang hadir di Zaryadye Concert Hall, Moskow, memang mengenakan berbagai macam desaian pakaian yang unik. 

Akan tetapi, batik warna kuning emas berpadu hitam yang dikenakan Rizal tetap saja tampil mencolok.

"Saya sengaja mengenakan batik. Itu cara saya agar mudah dikenal apalagi jika ada delegasi dari Indonesia. Ini jurus saya," kata Business Development & ESG Executive PT PAN Brothers Tbk ini. 

Kepada Tribunnews.com, Rizal mengaku sudah kali kedua menjadi delegasi dari Indonesia di ajang tahunan yang digelar di Moskow ini. 

Seperti tahun sebelumnya, kali ini ia juga hadir menjadi satu pembicara dalam panel diskusi bertajuk Manufacturing Technologies: What Will Change in the Next 5 Years?

Di hadapan pengusaha, pegiat fashion dan pemilik brand ternama dari berbagai belahan dunia, Rizal mengatakan, transformasi manufaktur garmen tidak lagi sekadar soal otomatisasi, tapi soal kombinasi manusia dan teknologi yang berkelanjutan.

Tahun ini, BRICS+ Fashion Week menggelar total 26 panel diskusi.

Dari kesekian banyak diskusi tersebut, sasaran yang ingin dicapai adalah upaya untuk mendukung merek lokal, tren baru di pasar internasional, menarik investasi, peran kerajinan tradisional dalam industri desain, preferensi anak muda, penggunaan kecerdasan buatan, dan material canggih.

Baca juga: Corak Tenun Meriahkan Moscow Fashion Week 2025

"Ada tiga isu utama yang diangkat tahun ini, yaitu perubahan kondisi makroekonomi, perilaku konsumen yang berkembang, dan integrasi kecerdasan buatan dalam desain dan produksi," kata Rizal, yang asal Boyolali ini. 

Terkait dengan kemajuan tekhnologi dan AI, ia menyebut bahwa otomatisasi akan mengubah pekerjaan repetitif, sekaligus menciptakan permintaan untuk keterampilan digital, teknik, AI, data, dan keberlanjutan. 

"Rasanya yang harus dipahami oleh pengusaha garmen di Indonesia adalah, investasi pada reskilling dan kolaborasi antara industri, pemerintah, dan pendidikan akan sama pentingnya dengan investasi pada mesin. Pabrik masa depan akan menggabungkan keahlian manufaktur Indonesia dengan teknologi, fleksibilitas, dan keberlanjutan," imbuhnya. 

Terkait dengan BRICS+ Fashion Summit, Rizal mengatakan bahwa setiap penyelenggaran, BRICS+ selalu memberikan sejumlah kejutan. 

"Tahun ini BRICS Fashion Summit 2026 lebih berkesan karena banyak peserta hadir dari Afrika dan Middle East. Potensi pasar mereka besar dan pengembangan manufacture dan fashion masih terbuka luas," ujar Rizal.

Ia mengaku antusias hadir di ajang ini lantaran ia dan perusahaan yang diwakilinya memiliki tiga manfaat langsung dari BRICS+ Fshion Summit. 

Manfaat pertama adalah pemahaman tentang tren ke depan yang digemari pasar sehingga ia bisa menyiapkan komoditas yang diinginkan pasar. 

“BRICS+ juga membuka peluang pasar bagi produksi garmen dari Indonesia,” katanya. 

Manfaat berikutnya tentu adalah kesempatan untuk memperluas jangkauan pasar utamanya di negara-negara BRICS+. 

"Yang jelas tidak bisa dipungkiri adalah, melalui BRICS+ kita bertemu langsung dengan para pemain fashion dari berbagai negara sehingga networking kita menjadi semakin luas," sambungnya. 

Apa yang disampaikan Rizal bukan isapan jempol semata. Dari penyelenggaraan-penyelenggaraan sebelumnya, even ini telah membukukan setidaknya 70 perjanjian kemitraan sekaligus investasi setidaknya 400 juta Rubel. 

(Tribun Jateng/Ibnu Taufik Juwariyanto)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.