Pengembangan destinasi pariwisata perdesaan di Kulon Progo membuktikan bahwa integrasi Tanah Kas Desa, Bantuan Keuangan Khusus Danais, dan keterlibatan aktif warga mampu menyerap puluhan tenaga kerja lokal sekaligus menekan angka pengangguran di kawasan pinggiran DIY.

TRIBUNJOGJA.COM - Bagi pelancong yang mulai jenuh dengan hiruk-pikuk pusat Kota Yogyakarta, perbukitan di bagian barat Kulon Progo menawarkan jeda. Di Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Glimpang Glamping hadir bukan sekadar sebagai tempat pelarian melepas penat, melainkan bentuk jawaban atas tantangan pemerataan ekonomi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Lewat pendekatan quality tourism yang memadukan edukasi ternak hingga pengamatan burung, destinasi ini menjadi bukti bagaimana pariwisata perdesaan mampu mengurai ketimpangan sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga lokal.

Isu sentralisasi pariwisata dan ketimpangan ekonomi wilayah menjadi latar belakang utama dikembangkannya kawasan ini. Dalam forum diskusi Rembag Kaistimewan bertajuk "Glimpang Glamping: Menemukan Cerita di Balik Destinasi" yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Paniradya Kaistimewan pada Kamis, 22 Oktober 2026, terungkap bahwa pergerakan wisatawan di DIY selama ini masih didominasi wilayah perkotaan.

Merespons pergeseran karakter wisatawan modern

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Eling Priswanto, S.E., M.M., mengungkapkan bahwa Yogyakarta sebenarnya memiliki potensi pariwisata yang sangat komplit, mulai dari seni budaya, alam, kuliner, hingga produk UMKM. Namun, konsentrasi kunjungan yang menumpuk di pusat kota menciptakan pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah daerah terkait pemerataan pendapatan.

"Kalau kita bicara pariwisata di DIY itu apa sih yang enggak ada di DIY? Mau dari sisi budayanya? Oh, banyak. Dari sisi seninya? Ada. Alamnya? Oke. Kulinernya? Maju. UMKM-nya? Oke. Oleh-oleh semua ada. Cuma kan kalau di Jogja masih banyak terpusat di kota-kota ya. Jadi, orang ke sini paling tahunya cuma Malioboro, Kraton, kemudian ini. Nah, kami dari Dinas Pariwisata tentunya supaya karena memang di DIY tidak kita pungkiri ada sisi yang menjadi PR kita bersama, apa itu? Kemiskinan. Satu kemiskinan, dua gini ratio. Gini ratio itu masih agak timpang, jadi salah satu upaya untuk meratakan pendapatan, salah satunya dengan mengembangkan destinasi-destinasi wisata di yang tidak berada cuma di pusat kota, salah satunya di Glimpang Glamping ini," terpapar Eling Priswanto.

Eling menambahkan, pemilihan konsep glamping merespons pergeseran karakter wisatawan modern yang tidak lagi sekadar menikmati pemandangan, melainkan berinteraksi langsung dengan ekosistem lokal. Posisi strategis Kulon Progo yang berdekatan dengan Yogyakarta International Airport (YIA) serta rencana akses jalan tol di masa depan juga diproyeksikan menjadi katalisator arus kunjungan wisatawan tanpa memicu kemacetan parah di kawasan perkotaan.

Perjalanan Glimpang Glamping menuju destinasi yang terstruktur mengalami pasang surut yang panjang. Ketua Desa Wisata Purwosari, Kiswantara, membeberkan sejarah awal pembentukan kawasan ini yang berakar dari pengelolaan air terjun Curug Glimpang pada awal tahun 2014.

​"Glimpang Glamping awalnya berdiri pada awal 2014 hanya sebagai pengelola wisata informal (tanpa izin resmi). Saat itu, fokus kami hanya menyediakan tempat parkir dan menarik biaya tiket masuk di area air terjun yang bagus," cerita Kiswantara.
​
"Namun, pada akhir 2014 hingga awal 2015, pihak Dinas Pariwisata Kabupaten datang dan membina. Mereka menjelaskan bahwa kegiatan pariwisata harus memiliki izin resmi, pemandu wisata, serta standar pelayanan. Dari situ, kami akhirnya resmi mendirikan Desa Wisata pada awal 2015."

Tantangan tidak berhenti di situ. Keterbatasan debit air saat musim kemarau sempat memicu kekecewaan pengunjung. Situasi diperparah ketika pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2019 hingga membuat operasional vakum total. Titik balik baru tercipta pada kurun waktu akhir 2022 hingga awal 2023, saat Kalurahan Purwosari resmi ditetapkan sebagai Kampung Pramuka.

Momentum tersebut mendorong kolaborasi antara kegiatan kepramukaan dan kepariwisataan. Lahan Tanah Kas Desa (TKD) disulap menjadi camping ground dan unit glamping yang menawarkan pengalaman belajar autentik bagi pengunjung.

"Maka tercetus ide untuk membuat glamping-nya. Yang waktu itu ada tren glamping, kemudian piye carane gawe glamping sing mungkin berbeda dengan glamping-glamping yang lainnya. Maka glamping yang ada di kami itu terintegrasi dengan desa wisata. Jadi paket-paket glamping-nya itu teman-teman kalau nginep di glamping kami, itu iso sisan sinau perkambingan, peras susu kambing, pemeliharaan kambing kontes, kemudian bird watching, kemudian edukasi teh kopi itu jadi satu paket dengan glamping-nya," sambung Kiswantara.

Kolaborasi Empat Urusan Keistimewaan dan Tata Kelola Danais
Keberlanjutan Glimpang Glamping ditopang oleh skema Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kalurahan dari Dana Keistimewaan (Danais). Kepala Bidang Urusan Pertahanan Paniradya Kaistimewan, R. Noorman Windarto, S.G., M.M., menjelaskan bahwa Kalurahan Purwosari menjadi daerah istimewa karena didukung oleh empat urusan keistimewaan sekaligus, yaitu tata ruang, pertanahan, kebudayaan, dan kelembagaan.

"Purwosari itu kebetulan masuk di empat urusan keistimewan. Dari urusan keistimewan tata ruang, itu ada satuan ruang strategis yang masuk di Perbukitan Menoreh. Kedua, dari sisi pertanahan, tanah yang digunakan itu tanah Kas Desa atau TKD. Kemudian dari sisi kebudayaan, mungkin ada potensi-potensi budaya. Makanya kemarin pas proses mengusulkan BKK desa wisata sudah dikurasi oleh teman-teman dari OPD Dinas, nah ini layak untuk dilontarkan dana keistimewan untuk BKK di Purwosari," ujar Noorman Windarto.

Dukungan keistimewaan tersebut juga mencakup infrastruktur jalan Prangkokan–Kebonharjo melalui Dinas Pekerjaan Umum Kulon Progo untuk mempermudah aksesibilitas menuju lokasi.
Noorman menekankan pentingnya mempersiapkan kemandirian desa serta memilih arah pengembangan wisata yang berfokus pada kualitas (quality tourism) ketimbang sekadar kuantitas (quantity tourism).

"Apakah mau quality tourism? Quality tourism itu yang berkelanjutan, yang lama tinggalnya di situ, nanti jadi memang wisatawan-wisatawannya itu akan kembali lagi ke situ. Kalau yang quantity tourism tadi datang, foto-foto, wis bar (selesai), nanti enggak ada keinginan lagi ke Purwosari. Ini memang butuh diskusi yang panjang karena enggak sebentar bisa langsung terwujud, perlu kekompakan, perlu konsep yang jelas, jadi masyarakat, wisatawan datang itu puas," tegas Noorman.

Dampak Nyata terhadap Penyerapan Laboratorium Kerja Lokal

Kehadiran Glimpang Glamping memberikan dampak riil terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan warga sekitar perbukitan Menoreh. Lurah Kalurahan Purwosari, Sri Murtini, A.Md, memaparkan bahwa potensi alam dan SDM Purwosari—seperti Gua Kiskendo, Ayunan Langit, Gua Maria Lawangsih, serta wisata pertanian sawah terasering—kini makin solid dengan adanya fasilitas glamping.

"Alhamdulillah dengan adanya Glamping Glamping Kampung Pramuka ini, sudah ada 20 tenaga kerja yang terserap di kegiatannya Glimpang Glamping. Teman-teman kami ada yang menjadi marketing-nya, ada yang menjadi kebersihan, terus memasak untuk menanggapi tamu yang datang," tutur Sri Murtini.

Terkait statistik kunjungan, Sri Murtini merincikan bahwa sepanjang periode 2023 hingga 2025, tercatat tak kurang dari 2.500 pengunjung mendatangi kawasan ini. Tren positif tersebut berlanjut pada tahun 2026 yang hingga pertengahan tahun saja sudah membukukan sekitar 2.000 pengunjung.

Pengelola Glimpang Glamping, Setia Pambudi menambahkan bahwa fasilitas akomodasi di lokasi mencakup unit Tenda Naturhike berukuran 4x5 meter dengan kapasitas empat hingga enam orang. Tenda dilengkapi fasilitas dua single bed (beserta opsi extra bed), kulkas, serta panorama langsung ke perbukitan dan aliran sungai.

Tarif reservasi ditawarkan sangat fleksibel, mulai dari Rp65.000 hingga Rp100.000 per orang tergantung pada paket yang dipilih, dengan kemudahan reservasi hingga H-1 jam tanpa batasan minimal jumlah tamu. Seluruh hasil pengelolaan alokasi keuangan destinasi disinergikan melalui Badan Usaha Milik Kalurahan (Bumkal) Purwosari untuk memupuk Pendapatan Asli Kalurahan demi sebesar-besarnya kemaslahatan masyarakat setempat.

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.