TRIBUNCIREBON.COM- Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawati buka suara soal dugaan kasus keracunan Makan Bergizi Gratis yang menimpa ratusan siswa di Kota Cirebon, Jawa Barat sejak Selasa (20/10/2026).
Dinkes Kota Cirebon juga menyoroti dugaan sup telur puyuh yang kuahnya dikeluhkan terasa asam oleh sejumlah pasien.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Mayoritas korban merupakan murid TK hingga SD di wilayah Kecamatan Harjamukti.
Keluhan yang dilaporkan antara lain mual, muntah, dan diare. Berikut hasil wawancara lengkap dengan Kadinkes Kota Cirebon, Siti Maria Listiawati, Rabu (21/10/2026):
Bagaimana awal
mula Dinas Kesehatan mendapatkan informasi terkait kejadian ini?
Kadinkes: “Awal kami mendapat informasi sekitar jam 3 dan ternyata telah terjadi dugaan keracunan makanan akibat konsumsi MBG atau mungkin disebut dengan kejadian menonjol. Tim surveilans kami dan tenaga kesehatan meluncur ke Siloam, kemudian kami juga ke Siloam dan di sana sudah ada Pak Dandim. Ternyata pasien terus bertambah di Siloam hingga sore itu mencapai sore ya, itu di 42.”
2. Bagaimana langkah penanganan dan mobilisasi pasien saat IGD penuh?
Kadinkes: “Kemudian dengan kondisi hektik di IGD Siloam, kami berinisiatif untuk berealokasi beberapa pasien yang baru datang ke IGD, karena jangan sampai tidak tertangani di rumah sakit yang sudah penuh. Dan kami juga mendatangkan tim bantuan dari Puskesmas, tenaga-tenaga kesehatan bahu-membahu di IGD Siloam. setelah tersedia sekitar 14 ambulans, begitu pasien datang karena pasien itu kan tidak serempak datangnya, begitu datang kita mobilisasi langsung distribusikan ke rumah sakit yang masih belum penuh. Harapannya apa? Harapannya jangan sampai offload dan juga pasien kurang tertangani dengan baik.”
Kadinkes: “Saat itu pertama alokasi ke Ciremai yang paling dekat dengan tempat, kemudian sesudah Ciremai itu Rumah Sakit Gunung Jati, dan terakhir itu sudah melibatkan delapan rumah sakit di Kota Cirebon.”
3. Berapa total data terbaru pasien yang terdampak?
Kadinkes: “Baik untuk siswa, data tadi siang ini ditarik jam... itu data jam... itu masih di 270 terdampak. 270 terdiri dari 231 anak dan ada 39 itu dewasa.”
Baca juga: Saksi Kata Keracunan MBG di Cirebon:Makan Pukul 10.00, Muntah Pukul 17.00, Ini Kesaksian Ayah Korban
4. Q: Dari mana saja mayoritas korban yang terdampak?
Kadinkes: “Mayoritas itu adalah anak sekolah, anak sekolah dari karena yang menerima itu institusi pendidikan ada 28 sekolah ya, dari mulai TK, SD, dan sebagainya, dan setingkatnya gitu, termasuk ada day care seperti itu ya. Dan ada juga yang dibawa pulang ternyata, jadi adiknya yang dapat MBG, kakaknya ikut makan; ada juga cucunya dapat MBG, neneknya ikut makan, karena ada nenek-nenek kena. Ada juga kami juga sampai di Rumah Sakit Gunung Jati, itu ada dua dari petugas SPPG-nya yang juga terdampak.”
Kadinkes: “Dari Posyandu juga, tapi penerima manfaat dari Posyandu sudah ada, tadi malam itu tiga, nah ini masih kami sisir.”
5. Tindak lanjut apa saja yang sudah dilakukan oleh Dinkes?
Kadinkes: “Pertama di beberapa nomor satu banget adalah penanganan... kedua mobilisasi... kami koordinasi dan lapor ke pimpinan ke Pak Wali yang juga semalam hadir, lapor supaya dari Dinas Pendidikan menyisir melalui kepala sekolah-kepala sekolah melalui guru-gurunya, biasanya wali kelas, ada tidak anak yang makan apabila bergejala tolong dibawa ke fasilitas kesehatan, jangan sampai sakit-sakit di rumah. Kemudian kami juga menyisir... ke Posyandu terkait dengan 3B (Bumil, Busui, Balita).”
6. Berapa rincian jumlah pasien yang masih dirawat dan yang sudah pulang?
Kadinkes: “Baik untuk yang rawat jalan ada 77, yang rawat inap ada 211, berarti masih 211 yang dirawat di rumah sakit, delapan rumah sakit itu.”
7. Bagaimana penanganan sampel makanan dan pemeriksaan laboratorium?
Kadinkes: “Alhamdulillah untuk sampel telah kami amankan di SPPG karena itu sesuai prosedur, SPPG harus menyimpan sampel 2 x 24 jam... sampel sudah kami ambil itu berarti kan sampel awal. Kemudian kami juga mengambil sampel muntah-muntahan pasien itu di Rumah Sakit Siloam, kemudian karena gejalanya termasuk adalah diare maka kami juga mengambil sampel tinja dari feses diare itu dari Rumah Sakit Ciremai... dan sampel itu semua dikumpulkan... pagi ini berangkat sudah berangkat ke Kesda Provinsi Jawa Barat.”
8. Apakah status kejadian ini sudah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)?
Kadinkes: “Nah, kami akan konsultasi karena ini bukan pertama kali, tapi memang kondisinya sampai bregbreg seperti itu waktu siang baru tadi malam ya... dan ini tapi yang jelas kami sih penanganannya yang paling penting bagi kami adalah bagaimana penanganan terhadap masyarakat semua tertangani inti ya, itu yang kami kejar nomor satu.”
9. Kapan hasil laboratorium diperkirakan keluar dan apa hasil sementara tes darah pasien?
Kadinkes: “Kalau untuk hasil lab yang ke Kesda itu biasanya paling cepat 14 hari paling cepat. Tapi dari hasil laboratorium, rata-rata pasien tadi malam itu sudah ada hasil, rata-rata menunjukkan gejala peningkatan sel leukosit atau leukositosis. Leukositosis ini sel darah putihnya meningkat, itu indikasi bahwa terjadi adanya infeksi bakteri.”
10. Bagaimana kondisi pasien terparah yang sempat dilaporkan?
Kadinkes: “Kondisi pasien terparah tadi malam awalnya sih terlaporkan ada dua penurunan kesadaran, ternyata yang satu itu bukan karena MBG... nah, yang satu lagi itu penurunan kesadaran, yang satu di Rumah Sakit Siloam, seorang balita 4 tahun penurunan kesadaran, jadi sudah tidur aja, pas buka mata dia sudah kayak kurang sadar, akhirnya masuk ke PICU (intensif)... magriban ya... jam 11 malam itu masih sama Pak Wali dan Forkopimda, itu ternyata pasiennya alhamdulillah sudah sadar, alhamdulillah sampai saat ini tidak ada kondisi yang kritis lagi.”
11. Apakah ada informasi hoaks tentang korban meninggal dunia?
Kadinkes: “Kami mendapatkan informasi itu pada saat kami sedang berada di Rumah Sakit Ciremai, saat itu juga kami konfirmasi baik ke kepala puskesmas, petugas di lapangan, sampai kepada kader... ternyata tidak ada kejadian itu, fix enggak ada, hoaks ya Bu ya? Hoaks ya, itu sudah betul-betul cari lagi... berarti tidak ada korban jiwa, maksudnya tidak ada yang sampai meninggal, tapi penurunan kesadaran saja ya Bu ya?”
Kadinkes: “Penurunan kesadaran satu orang, penurunan kesadarannya adalah karena syok hipovolemik, jadi pengeluaran cairan secara cepat, cairan anak kecil itu di dalam tubuhnya tidak banyak, tapi dia muntah-muntah terus kemudian diare lagi, jadi terkuras cairan, nah itu syok hipovolemik.”
12. Apa dugaan menu makanan yang menjadi penyebab?
Kadinkes: “Kalau sejauh dari hasil kami anamnesa juga dengan petugas yang menangani itu rata-rata dan wawancara langsung itu rata-rata mengeluhkan adalah sup telur puyuh. Sup telur puyuh, iya, rata-rata mengeluhkan itu, informasinya asem kuahnya.
Ada juga guru, guru dia mencicipi kuahnya saja, enggak makan sebelumnya, nah itu juga sama menderita diare. Hanya kuahnya saja atau sampai telurnya juga? Iya, itu hanya kuahnya saja, jadi kebetulan guru itu guru kelas 6 sebelum anak-anak lain makan, guru itu mencoba dulu, begitu terasa asam, 'Udah anak-anak jangan dimakan ya,' alhamdulillah pak guru telah berbuat banyak untuk murid-murid.”
13. Bagaimana terkait perizinan (SLHS) dan sertifikasi halal SPPG tersebut?
Kadinkes: “Saya sudah konfirmasi dan membuka catatan bahwa yang bersangkutan sebenarnya sudah dilakukan pelatihan penjamah dan sudah dilakukan pengujian sampel-sampel makanan pada saat kita memeriksa, dan untuk pemenuhan persyaratan SLHS itu dan IKL-nya (Indeks Kesehatan Lingkungan) pada saat itu sudah lebih dari 80 persen pada saat kita ketemu, nah sehingga SLHS-nya sudah keluar.
Nah, kalau sertifikasi halal tidak di ranah kami... namun sertifikat itu harusnya memang menjadi pedoman, pelatihan yang sudah dilalui itu harusnya memang benar-benar dikerjakan SOP-nya sehingga jangan sampai itu hanya menjadi syarat saja.”
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.