TRIBUNPADANG.COM, SIJUNJUNG - Pengelolaan sampah dapur dari program Makan Bergizi Gratis kini mulai disiapkan secara terpadu di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.
Langkah ini diambil guna mencegah penumpukan limbah sisa pengolahan makanan sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang memberi dampak positif bagi sektor pertanian setempat.
Upaya tersebut dimotori oleh kolaborasi antara Bank Sampah HOPE dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Badunsanak, Nagari Sijunjung.
Komitmen bersama ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang berlangsung pada Senin (19/10/2026).
Melalui kerja sama ini, pengelolaan limbah diarahkan pada pemisahan dan pengolahan sampah sejak dari titik sumbernya.
Baca juga: Pemkab Solok Selatan Salurkan 6.990 Stel Seragam Gratis untuk Pelajar di Sungai Pagu
Aktivitas dapur operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang agar tidak hanya berfokus pada penyediaan asupan nutrisi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Skema tata kelola yang disiapkan membagi pemrosesan sampah ke dalam dua jalur utama, yakni organik dan anorganik.
Sampah organik sisa bahan makanan akan dipilah untuk diolah menjadi pupuk organik cair (POC) serta pupuk organik padat atau kompos.
Produk pupuk yang dihasilkan dari olahan limbah dapur tersebut diproyeksikan dapat menyokong kebutuhan para petani di wilayah sekitar.
Dengan demikian, sisa bahan makanan yang sebelumnya berpotensi membusuk dan mencemari lingkungan dapat terhubung langsung dengan rantai produksi pertanian warga.
Baca juga: Cuaca 7 Kota di Sumbar Hari Ini Kamis 22 Oktober 2026, Padang Panjang Berkabut
Di sisi lain, sampah anorganik akan dikategorikan berdasarkan jenis serta karakteristik materialnya.
Pemilahan yang presisi memungkinkan limbah non-hayati ini dimanfaatkan kembali atau didaur ulang secara optimal sesuai dengan potensinya masing-masing.
Penerapan pemilahan ini ditujukan untuk memangkas tonase sampah yang bermuara ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Mengurangi beban TPA menjadi isu krusial seiring dengan terus meningkatnya skala operasional penyediaan makanan harian.
Asisten Lapangan Yayasan Badunsanak Sijunjung, Taufik, menegaskan bahwa aspek keberlanjutan lingkungan harus berjalan berdampingan dengan pemenuhan gizi masyarakat.
Baca juga: Populer Padang: Kejanggalan Pelecehan Polwan, Cekcok Penertiban PKL, dan Festival Silat Tradisi
Penanganan sisa produksi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari standar operasional dapur.
“Kami tidak ingin aktivitas dapur MBG hanya menghasilkan makanan bergizi, tapi juga sampah yang menumpuk. Mulai dari dapur, bergerak untuk bumi. Limbah yang ada harus kembali memberi manfaat untuk masyarakat dan petani,” ujar Taufik dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2026).
Ia menambahkan, pengubahan sisa dapur menjadi pupuk merupakan solusi konkret untuk menutup celah pemborosan sumber daya.
Hubungan timbal balik antara operasional dapur umum dan kebutuhan pupuk petani dinilai menjadi wujud nyata dari ekonomi sirkular tingkat lokal.
Senada dengan Taufik, Pendiri Bank Sampah HOPE, Govvinda Yuli Effendi, menyampaikan bahwa inisiatif ini bertujuan membuktikan kemudahan pengelolaan sampah jika dilakukan dari skala domestik atau dapur pengolahan.
Baca juga: Temui Kejanggalan, LBH Padang Desak Kapolri Evaluasi Sidang Kode Etik AKBP F, Minta Proses Diulang
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari aktivitas sehari-hari. Sampah organik yang selama ini berpotensi terbuang dapat diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah anorganik dipilah agar dapat dimanfaatkan kembali sesuai jenisnya. Harapannya, sistem ini bisa menjadi contoh pengelolaan sampah yang dapat diterapkan di lingkungan dapur lainnya,” kata Govvinda.
Untuk memastikan sistem berjalan dengan baik, Bank Sampah HOPE menyusun rangkaian kegiatan edukasi.
Sosialisasi dan pelatihan praktik langsung pengelolaan sampah organik dipersiapkan secara khusus bagi seluruh relawan Dapur Badunsanak.
Pelatihan ini menargetkan peningkatkan kapasitas dan pemahaman teknis para relawan dalam mengenali serta memilah material limbah.
Peran relawan dianggap mendasar karena efektivitas pemrosesan sampah sangat bergantung pada konsistensi pemilahan tahap awal.
Baca juga: Nasib Pedagang Pasar Raya Padang Usai Ditertibkan: Dagangan Tak Laku hingga Terancam Rugi
Ketika pemilahan di awal operasional telah menjadi rutinitas harian, risiko tercampurnya sampah organik dan anorganik dapat ditekan secara signifikan.
Kondisi ini akan memudahkan proses pengolahan lanjutan, baik untuk pembuat kompos maupun pengumpul sampah daur ulang.
Adapun kolaborasi strategis antara SPPG Dapur Badunsanak dan Bank Sampah HOPE ini berada di bawah naungan program kemitraan bersama Yayasan KEHATI.
Kemitraan tersebut berfokus pada penguatan pengelolaan sampah berbasis komunitas di tingkat tapak.
Harapan besar disematkan pada model pengelolaan ini agar dapat direplikasi oleh satuan pelayanan pemenuhan gizi di daerah lain.
Terintegrasikannya aspek nutrisi, pengelolaan sampah, dan penyediaan pupuk organik diharapkan mampu menciptakan ekosistem pelayanan publik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.