SURYA.co.id, SURABAYA – Kesulitan ekonomi hampir membuat Aisyah kehilangan kesempatan untuk meraih cita-citanya melalui pendidikan.
Siswi asal Surabaya, Jawa Timur, itu terpaksa berhenti sekolah karena keluarganya tidak lagi mampu membayar biaya pendidikan.
Padahal, Aisyah masih ingin belajar dan melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.
Keinginannya untuk kembali ke bangku sekolah terbentur kondisi keluarga yang serba terbatas.
Ibunya menjadi tulang punggung keluarga sekaligus harus menghadapi penyakit kanker yang dideritanya.
Aisyah sebenarnya pernah mencoba pindah ke sekolah lain yang biayanya lebih terjangkau.
Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena masih ada tunggakan di sekolah sebelumnya sebesar Rp1,8 juta.
Persoalan itu membuat Aisyah semakin khawatir terhadap masa depannya apabila tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Baca juga: Wanti-wanti Eri Cahyadi Usai Bereskan Pungli Romokalisari Surabaya, Camat - Lurah Bisa Kena Sanksi
Harapan baru muncul setelah keluarganya mengadukan kondisi tersebut kepada Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melalui pesan langsung atau direct message (DM).
Eri merespons laporan itu dan membantu mencarikan sekolah agar Aisyah bisa kembali belajar tanpa harus menunggu lama.
Kisah Aisyah menjadi gambaran bagaimana persoalan ekonomi dapat menghambat akses pendidikan anak. Di sisi lain, respons Eri Cahyadi membuka kembali kesempatan bagi Aisyah untuk mengejar cita-cita yang sempat terhenti.
Sebelum berhenti sekolah, Aisyah tercatat pernah mengenyam pendidikan di bangku SMP hingga kelas VIII.
Namun, kemampuan ekonomi keluarga tidak cukup untuk membiayai pendidikannya secara berkelanjutan.
Keluarganya hanya mampu membayar biaya sekolah selama satu tahun. Setelah itu, mereka kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran sehingga Aisyah tidak bisa melanjutkan sekolah seperti teman-teman seusianya.
Keluarga Aisyah sempat berusaha mencari sekolah lain yang dinilai lebih terjangkau.
Sayangnya, rencana tersebut juga menemui kendala karena masih terdapat tunggakan Rp1,8 juta di sekolah sebelumnya.
Menurut penuturan keluarga, persoalan itu turut menghambat pengiriman data yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah baru.
Akibatnya, Aisyah tidak bisa meneruskan sekolah meskipun sudah berusaha mencari alternatif.
Baca juga: Usai Eri Cahyadi Sidak SD di Surabaya Kekurangan Fasilitas dan Guru, Kepala Dispendik Diwanti-wanti
Kondisi tersebut menjadi beban tersendiri bagi Aisyah. Ia masih memiliki keinginan kuat untuk bersekolah, tetapi keadaan ekonomi membuatnya tidak memiliki banyak pilihan.
“Aku tidak tahu kalau aku tidak sekolah, ke depannya akan seperti apa. Aku cuma ingin mengejar mimpi, membanggakan orang tua, sekolah sampai lulus supaya bisa membantu orang tua dan menyekolahkan adik,” ungkap Aisyah, dikutip SURYA.co.id dari instagram @ericahyadi.
Keinginan Aisyah bukan sekadar mendapatkan ijazah. Ia ingin memiliki bekal pendidikan yang lebih baik agar kelak bisa membantu keluarganya keluar dari kesulitan ekonomi.
Di balik keinginan Aisyah untuk kembali sekolah, terdapat perjuangan keluarga yang tidak mudah.
Ibunya menjadi tulang punggung keluarga dan harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi.
Dalam percakapan dengan Eri Cahyadi, keluarga menjelaskan bahwa ibu Aisyah menderita kanker dan telah menjalani operasi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tambahan ketika keluarga juga berupaya memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Anggota keluarga yang mengadukan persoalan Aisyah mengaku memikirkan masa depan anak tersebut apabila tidak memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Ia khawatir Aisyah akan semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan pada masa mendatang jika tidak memiliki bekal pendidikan yang memadai.
“Ya, soalnya kondisi ekonominya kurang. Aku juga pengin sekolah. Tapi kalau memang tidak bisa, bagaimana lagi? Ibu sudah berusaha semaksimal mungkin,” demikian penggalan ungkapan Aisyah saat menceritakan keadaan keluarganya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan anak putus sekolah tidak selalu berhenti pada kemampuan membayar biaya pendidikan.
Ketika keluarga menghadapi masalah kesehatan dan keterbatasan penghasilan secara bersamaan, keberlanjutan pendidikan anak juga ikut terancam.
Karena itu, upaya mengembalikan Aisyah ke sekolah menjadi langkah penting agar kondisi ekonomi keluarga tidak terus membatasi masa depannya.
Bantuan untuk Aisyah bermula dari komunikasi keluarga dengan pihak Eri Cahyadi.
Anggota keluarga yang menghubungi wali kota tersebut sebelumnya bertemu dengan istri Eri dalam sebuah kegiatan anak-anak TK Angkasa yang bermain angklung.
Dalam kesempatan itu, terdapat sesi tanya jawab. Keluarga Aisyah kemudian mendapat informasi bahwa mereka bisa menyampaikan persoalan yang belum terjawab melalui pesan langsung.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menceritakan kondisi Aisyah secara lengkap, mulai dari riwayat berhenti sekolah, tunggakan biaya, hingga kesulitan ekonomi keluarga.
Keluarga mengaku tidak menyangka pesan tersebut mendapat respons langsung dari Eri Cahyadi. Sekitar satu minggu setelah komunikasi berlangsung, bantuan untuk mengatasi persoalan pendidikan Aisyah mulai ditindaklanjuti.
Eri kemudian berkomunikasi dengan keluarga dan membantu mencarikan sekolah yang bisa menerima Aisyah kembali.
Dalam percakapan tersebut, Eri memastikan Aisyah bisa melanjutkan pendidikan di jenjang SMP. Ia juga menegaskan bahwa persoalan seragam akan dibantu agar tidak kembali menjadi penghalang.
“Urusan seragamnya nanti saya tangani,” ujar Eri dalam percakapan tersebut.
Saat ditanya kapan siap kembali bersekolah, Aisyah menjawab singkat, “Besok, Pak.”
Jawaban itu memperlihatkan bahwa Aisyah masih memiliki semangat untuk belajar meskipun sebelumnya sempat kehilangan kesempatan bersekolah. Kesempatan yang kembali terbuka membuatnya tidak perlu menunda lagi keinginannya untuk melanjutkan pendidikan.
Bagi Eri Cahyadi, upaya membantu Aisyah tidak cukup hanya dengan mengembalikannya ke bangku sekolah. Ia juga mengingatkan agar kesempatan tersebut dijaga sehingga Aisyah tidak kembali putus sekolah di tengah jalan.
Eri mendorong Aisyah untuk belajar dengan sungguh-sungguh, berbakti kepada ibunya, serta tetap memperhatikan adik-adiknya.
Ia juga menanamkan harapan agar Aisyah bisa melanjutkan pendidikan hingga lulus SMA, bahkan kuliah.
Pesan itu sejalan dengan keinginan Aisyah yang ingin memiliki kehidupan lebih baik daripada orang tuanya.
Dalam percakapan tersebut, Eri juga menyampaikan harapannya agar anak-anak yang menghadapi persoalan serupa di Surabaya tetap memperoleh kesempatan untuk belajar.
“Kalau pun ada, bisa kita bantu dan kita sekolahkan sehingga bisa meraih cita-citanya,” tutur Eri.
Pernyataan itu menempatkan akses pendidikan sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama.
Anak-anak yang mengalami kesulitan ekonomi tetap memerlukan jalan keluar agar hambatan biaya tidak berujung pada hilangnya kesempatan belajar.
Khusus bagi Aisyah, keberhasilan kembali bersekolah menjadi awal dari perjuangan berikutnya. Ia tetap harus menjalani pendidikan dengan tekun agar kesempatan yang telah diperoleh tidak terhenti kembali.
Bantuan yang diterima Aisyah disambut dengan rasa syukur. Ia menyampaikan terima kasih karena bisa kembali bersekolah tanpa harus menunggu lebih lama.
“Pertama-tama, terima kasih banget sudah membantu sampai bisa sekolah. Sampai tidak perlu menunggu lama, besok langsung sekolah,” kata Aisyah.
Ia berharap bisa belajar dengan baik, menyelesaikan pendidikan, dan membuat orang tuanya bangga. Lebih jauh, Aisyah ingin memiliki kemampuan untuk membantu kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan adik-adiknya kelak.
Keluarga Aisyah juga berharap kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan. Mereka ingin Aisyah rajin belajar dan tidak bolos agar perjuangan yang telah dilakukan tidak berakhir sia-sia.
Di sisi lain, percakapan dengan Eri turut menyinggung kemungkinan bagi ibu Aisyah untuk memperoleh tambahan penghasilan melalui keterampilan memotong kain.
Peluang itu menjadi bagian dari upaya membantu keluarga memenuhi kebutuhan rumah tangga, meskipun rincian pelaksanaannya belum dijelaskan secara terperinci dalam transkripsi.
Dukungan terhadap pendidikan Aisyah dan kemungkinan penguatan ekonomi keluarga memiliki kaitan erat. Kesempatan sekolah dapat membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik, sedangkan kondisi keluarga yang lebih stabil dapat membantu anak bertahan dalam pendidikan.
Kisah Aisyah memperlihatkan bahwa bantuan untuk anak putus sekolah bukan hanya soal mengurus kepindahan atau menyediakan seragam. Hal terpenting adalah memastikan mereka bisa terus belajar hingga menyelesaikan pendidikan.
Bagi Aisyah, kesempatan itu kini kembali terbuka. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menjadi akhir dari mimpinya.
Dengan semangat untuk membanggakan orang tua dan membantu adik-adiknya, Aisyah berharap bisa menapaki kembali jalan pendidikan yang sempat terputus. Sementara itu, tantangan selanjutnya adalah menjaga agar kesempatan tersebut benar-benar berlanjut hingga ia meraih cita-citanya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.