Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anak yang mengalami disleksia kerap dianggap malas belajar atau kurang pintar karena mengalami kesulitan membaca dan menulis. 

Padahal, gangguan belajar ini tidak berkaitan langsung dengan tingkat kecerdasan anak. Dengan penanganan yang tepat, anak dengan disleksia tetap dapat mengembangkan kemampuan dan potensinya secara optimal.

Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia sekaligus pendiri dr. Kristiantini Learning Center (dKLC), Dr. Kristiantini Dewi, Sp.A, mengatakan, disleksia merupakan gangguan belajar yang membutuhkan pemahaman serta pendampingan sesuai dengan kondisi masing-masing anak.

Menurutnya, anak dengan disleksia dapat memiliki tingkat kecerdasan tinggi dan mampu memahami berbagai informasi yang disampaikan secara lisan.

Namun, mereka bisa mengalami kesulitan ketika harus membaca, menulis, atau mengolah informasi dalam bentuk tulisan.

“Banyak juga anak yang pintar, misalnya IQ-nya sangat tinggi, tetapi mengalami disleksia. Dia kesulitan membaca dan menulis, tetapi secara lisan dan pemahaman sebenarnya mengerti,” ujar dr Kristiantini saat workshop kegiatan Bulan Kesadaran Disleksia Dunia di Fakultas Psikologi Unpad, Sabtu (10/10/2026).

Kondisi tersebut membuat disleksia kerap tidak terdeteksi sejak awal.

Anak mungkin mampu menjawab pertanyaan guru dengan baik sehingga dianggap tidak mengalami masalah belajar.

Namun, ketika harus mengerjakan soal tertulis secara mandiri, anak bisa mengalami kesulitan.

Dokter Kristiantini menjelaskan, dampaknya dapat mulai terlihat ketika tuntutan akademik semakin meningkat. 

Anak yang sebelumnya mampu mengikuti pembelajaran melalui penjelasan lisan dapat mengalami kesulitan saat harus memahami soal, menyusun jawaban, atau menyelesaikan tugas tertulis.

Jika tidak mendapat pendampingan yang sesuai, pengalaman gagal berulang dapat menurunkan kepercayaan diri anak.

“Biasanya ketika mulai kelas tiga SD, kesulitannya semakin terasa. Anak merasa bisa mengerjakan ujian, tetapi nilainya rendah karena salah mengartikan atau memahami soal,” katanya.

Menurutnya deteksi dini menjadi penting agar anak memperoleh bantuan sebelum mengalami terlalu banyak pengalaman negatif dalam proses belajar.

Dokter Kristiantini menegaskan, disleksia bukan penyakit yang dapat disembuhkan, melainkan kondisi yang dapat ditangani melalui intervensi dan pendampingan yang sesuai.

“Anak yang mengalami kesulitan dalam membedakan atau mengolah bunyi bahasa dapat membutuhkan terapi bicara. Sementara itu, anak yang menunjukkan kesulitan perilaku ketika berhadapan dengan aktivitas belajar mungkin membutuhkan intervensi perilaku sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu. Terapi biasanya beragam, tergantung kondisi dan profil anak. Ada terapi remedial, terapi perilaku, dan terapi bicara jika diperlukan,” jelasnya.

Ia menambahkan, penanganan disleksia tidak dapat hanya mengandalkan satu profesi. 

Dokter, psikolog, tenaga pendidik, dan apabila diperlukan psikiater perlu bekerja sama untuk memahami kebutuhan anak secara menyeluruh.

Pendekatan lintas disiplin tersebut menjadi salah satu materi dalam workshop mengenai asesmen komprehensif kesulitan belajar yang diselenggarakan Asosiasi Disleksia Indonesia bersama dKLC di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menyemarakkan Dyslexia Awareness Month atau Bulan Kesadaran Disleksia yang diperingati setiap Oktober.

Dokter Kristiantini mengatakan, workshop itu diikuti sekitar 60 mahasiswa program profesi psikologi dan alumni.

Peserta memperoleh materi teori dan contoh asesmen, kemudian dibagi ke dalam kelompok untuk membahas kasus berdasarkan materi yang telah diberikan.

Melalui kegiatan tersebut, pihaknya berharap para calon psikolog memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dalam melakukan asesmen dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai bagi anak dengan kesulitan belajar.

Melalui Bulan Kesadaran Disleksia, dokter Kristiantini berharap masyarakat, terutama orang tua dan tenaga pendidik semakin memahami karakteristik anak dengan disleksia dan tidak terburu-buru memberikan label negatif.

Ia juga berharap sekolah semakin terbuka dalam menyesuaikan sistem pembelajaran agar anak dengan disleksia memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Sementara itu Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Anissa Lestari Kadiyono, M.Psi., mengatakan, pelabelan negatif terhadap anak dengan disleksia dapat memengaruhi perkembangan psikologis mereka.

Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan diri atau harga diri (self-esteem), tetapi juga dapat berlanjut pada perkembangan sosial dan emosional anak.

“Kalau sejak dini sudah mulai ada cap negatif, tidak mampu, tidak pintar, tidak bisa mengikuti pembelajaran, itu akan memengaruhi kesadaran dirinya dan self-esteem-nya,” ujar Anisa.

Menurutnya, anak yang mengalami kesulitan belajar perlu dikenali kondisinya sejak dini agar tidak terus tumbuh dengan anggapan bahwa dirinya lebih rendah dibandingkan teman-temannya.

“Orang tua juga perlu memahami bahwa kesulitan membaca dan menulis bukan berarti anak tidak memiliki kemampuan untuk belajar. Sebaliknya, anak membutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya,” ucapnya. 

Apabila anak mulai menunjukkan penurunan kepercayaan diri atau kesulitan beradaptasi, keluarga perlu memberikan dukungan dan mencari bantuan profesional.

Pendampingan dapat melibatkan psikolog dan dokter, serta psikiater apabila dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan.

Anisa menilai, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental dan tumbuh kembang anak semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Perkembangan teknologi dan media sosial turut membantu masyarakat mengenali berbagai persoalan yang dapat memengaruhi perkembangan anak.

Meski demikian, peningkatan kesadaran tersebut masih perlu diikuti dengan pemahaman yang lebih baik mengenai disleksia dan akses terhadap pemeriksaan serta penanganan yang tepat.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.