Singapura -

Kualitas udara di Singapura menjadi sorotan. Salah satu negara paling kaya ini terkepung kabut asap di tengah ajang balapan Formula 1.


Singapura, salah satu kota terkaya di dunia, telah menjadi kota paling tercemar di planet ini karena diselimuti kabut asap tebal dan beracun yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.


Meski polusi udara sempat sedikit menurun pada malam hari, kualitas udara di Singapura masih berada di tingkat tidak sehat pada Sabtu (10/10/2026). Kondisi ini terjadi setelah Singapura mencatat rekor kabut asap terburuk tahun ini pada hari Jumat.






Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) mengatakan bahwa titik-titik panas yang tersebar terdeteksi di Kalimantan dan Sumatra, sementara beberapa titik panas terdeteksi di tempat lain di bagian selatan Asia Tenggara.



Kabut asap lintas batas sedang juga diamati meliputi sebagian Semenanjung Malaysia, Singapura, Kalimantan, Sarawak, dan bagian selatan Sumatra.


"Situasi titik panas dan kabut asap mungkin membaik di daerah yang mengalami hujan tetapi juga akan tetap tinggi di daerah yang mengalami periode cuaca kering yang berkepanjangan, dengan risiko terjadinya kabut lintas batas yang berkelanjutan," kata NEA dikutip dari (CNA).


NEA memperingatkan pada hari Jumat bahwa PSI 24 jam dapat melebihi 200 dan memasuki kisaran Sangat Tidak Sehat, karena kabut asap dari Sumatera selatan dan Kalimantan terus tertiup ke arah Singapura.


Langit Singapura, termasuk Marina Bay Sands dan gedung pencakar langit lainnya, tampak samar-samar di tengah polusi. Polusi telah menyelimuti negara ini di tengah persiapannya menjadi tuan rumah dari berbagai acara besar, mulai dari konferensi internasional hingga balapan Formula Satu (F1) Grand Prix.


Acara hiburan yang diadakan di luar ruangan pada ajang F1 di Singapura berpotensi terpengaruh, tetapi badan pengatur olahraga motor FIA mengatakan kalau balapan itu sendiri tidak akan terpengaruh.


Pada hari Jumat, penyelenggara balapan Singapore GP mengatakan kepada bahwa saat ini tidak ada rencana untuk mengubah kegiatan hiburan di acara tersebut. Penampil yang akan menghibur penonton F1 di antaranya adalah Janet Jackson dan The Killers.


Ini bukan pertama kalinya balapan malam Singapura menghadapi masalah kualitas udara. Balapan pada tahun 2015 dan 2019 juga diselimuti kabut tebal dan tetap berlangsung.


Meskipun demikian, Dewan Pariwisata Singapura mengatakan pada hari Jumat bahwa rencana pengganti telah disiapkan berdasarkan intensitas kabut.


Para pembalap F1 tampaknya tidak terlalu khawatir. Pembalap Cadillac, Valtteri Bottas, yang bersepeda lebih dari 400 km (248 mil) dari Malaysia ke Singapura minggu ini, memberi komentar santai.


"Saya rasa situasinya belum terlalu ekstrem. Maksud saya, memang tidak bagus, tetapi saya rasa tidak banyak yang bisa dilakukan," jawabnya.


Lewis Hamilton, pebalap Ferrari mengatakan kepada Reuters bahwa ia memiliki masalah yang jauh lebih besar untuk difokuskan.




























Bonauli


Jurnalis detikcom





Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.