Garut -
Pendakian ke Gunung Sagara di Kabupaten Garut, Jawa Barat, ini bermula dari keputusan spontan lima orang sahabat yakni saya, Meh, Fahmi, Koba, dan Zaky.
"Yang dadakan itu biasanya malah jadi," ujar Meh.
Kalimat itu terus terngiang di kepala kami hingga motor mulai melaju membawa lima carrier menuju Gunung Sagara. Tanpa banyak pembahasan dan persiapan berminggu-minggu, rencana tersebut akhirnya benar-benar menjadi kenyataan.
Perjalanan dimulai sekitar pukul 14.30 WIB dari Cileunyi, Kabupaten Bandung, menuju basecamp Gunung Sagara di kawasan Sagara, Desa Tenjonagara, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Tiga motor melaju beriringan, sesekali berhenti untuk memastikan rombongan tetap utuh.
Carrier yang menempel di punggung membuat perjalanan terasa semakin menantang, terutama ketika melewati tanjakan.
Sekitar pukul 17.00 WIB, kami tiba di basecamp. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan bermotor seolah terbayar lunas ketika langit sore menyuguhkan pemandangan matahari terbenam yang indah.
"Ini baru di basecamp saja kita sudah dikasih sunset seindah ini, apalagi nanti di atas, nggak kebayang bakal seindah apa," ujar Fahmi.
Komentar itu membuat kami semakin bersemangat untuk melanjutkan perjalanan.
Menembus Jalur Malam dengan Canda Tawa
Selepas salat Magrib, pendakian pun dimulai. Sebelum berangkat, kami berdoa bersama agar perjalanan menuju puncak hingga kembali turun nanti berjalan lancar dan selamat.
Jalur yang kami lalui mulai gelap. Namun, suasana tetap terasa menyenangkan berkat canda tawa yang terus mengiringi langkah kami.
Ketika ada yang mulai kelelahan, Zaky mengingatkan, "Kalau ada yang capek bilang, nggak usah gengsi, nanti kita istirahat bareng dulu."
Kalimat sederhana itu menjadi pengingat bahwa pendakian bukan sekadar soal mencapai puncak, melainkan juga tentang memastikan semua anggota rombongan bisa melewati perjalanan bersama.
Setelah sekitar empat jam berjalan, tepatnya sekitar pukul 22.30 WIB, kami akhirnya tiba di area perkemahan.
Sesampainya di sana, kami langsung membagi tugas. Sebagian mendirikan tenda, sementara yang lain menyiapkan makan malam.
Makanan sederhana terasa begitu nikmat setelah perjalanan panjang. Sambil menyantap hidangan, kami berbincang santai sebelum beristirahat dan mempersiapkan diri untuk summit attack keesokan paginya.
Sunrise Gunung Sagara Membayar Semua Lelah
Pukul 03.30 WIB, udara dingin membuat kami enggan beranjak dari sleeping bag. Namun, keinginan menyaksikan matahari terbit dari puncak mengalahkan rasa malas.
Kami pun bangun, mengambil air wudu dari persediaan yang dibawa sejak bawah, lalu menunaikan salat Subuh. Setelah itu, kami menyeduh minuman hangat untuk mengusir dingin sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak.
Ternyata, puncak Gunung Sagara tinggal satu tanjakan lagi.
Setibanya di atas, semua rasa lelah dan dingin seolah langsung terbayar. Perlahan, matahari muncul di ufuk timur, menyinari gugusan pegunungan dan hamparan lautan awan yang membentang di hadapan kami.
Dari puncak, Telaga Bodas yang menjadi salah satu daya tarik kawasan ini turut menambah keindahan panorama.
Kami sempat terdiam, menikmati pemandangan yang tersaji di depan mata. Sesekali, kami saling menoleh, seolah ingin memastikan bahwa keindahan itu benar-benar sedang kami saksikan bersama.
Di tengah suasana tersebut, rasa syukur kepada Sang Pencipta menjadi hal pertama yang terlintas dalam pikiran.
Setelah puas menikmati pemandangan dan mengabadikan momen, kami kembali turun menuju tenda untuk sarapan.
Turun dengan Selamat, Pulang Membawa Kenangan
Usai sarapan, kami berkemas dan bersiap turun gunung. Kami memastikan tidak ada sampah yang tertinggal, sekecil apa pun, agar kawasan pendakian tetap terjaga kebersihannya.
Perjalanan turun berlangsung lancar hingga kami tiba kembali di basecamp dengan selamat. Kelima anggota rombongan kembali dalam keadaan lengkap, persis seperti doa yang kami panjatkan sebelum memulai pendakian.
Bagi kami, hal paling membekas dari perjalanan ke Gunung Sagara bukanlah betapa dadakannya rencana ini. Lebih dari itu, ada banyak kenangan sederhana yang tercipta sepanjang perjalanan.
Mulai dari saling bertanya, "Masih kuat?" ketika melewati tanjakan dalam gelap, berbagi minuman hangat di tengah dinginnya udara, hingga berdiri bersama menyaksikan matahari terbit dari puncak.
Pada akhirnya, pendakian ini mengajarkan bahwa perjalanan yang berkesan tidak selalu harus direncanakan jauh-jauh hari. Terkadang, keputusan spontan justru membawa kita pada pengalaman yang sulit dilupakan.
Sebab, bukan hanya pemandangan indah yang membuat sebuah perjalanan berarti, melainkan juga orang-orang yang berjalan bersama kita hingga kembali pulang dengan selamat.