Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
Bangka Belitung butuh rencana ketika tambang habis. Ia butuh imajinasi tentang dirinya sendiri.
Kalimat itu begitu material dan sederhana. Namun, saban bulan dan tahun kerap terdengar. Entah pergantian tahun, entah saat Bangka Belitung bakal memasuki hari lahirnya atau entah saat kampus berikut organisasi menggelar sebuah diskusi, seminar atau sarasehan.
Saat berbicara tentang imajinasi Bangka Belitung, biasanya kerap disertakan angka, produksi, pertumbuhan, investasi, lapangan kerja, sederet angka keuangan daerah dan bahkan hingga angka lalu lalang orang yang berwisata ke Bangka Belitung.
Semua itu terasa penting. Sebab, gambaran masa depan di dalam kepala orang tentang kehidupan macam apa yang akan dibangun, tumpah di berbagai ruang.
Dalam ruang itu, imajinasi bukan dalam pengertian berkhayal, atau angan-angan menghibur saat kenyataan kehidupan yang dijalani terlalu keras. Imajinasi yang tumpah ruah justru kemampuan untuk melihat sesuatu yang belum ada, dan kemudian menjadi impian bersama.
Sorotan lain juga muncul. Pulau ini bukan sekadar koordinat di peta. Ia menjadi tanah air ketika timah, lada, laut, kampung, bahasa, cerita leluhur, pengalaman kolonial, kehidupan nelayan, kebun, tambang dan ingatan keluarga bertemu menjadi kesadaran bahwa ini rumah kita.
Uniknya, dalam imajinasi yang lahir, kerap kali muncul dua pertanyaan. Pertama, apa yang akan terjadi ketika timah habis. Atau bisa juga setelah timah, kita ingin menjadi apa dan siapa?
Pertanyaan itu terasa masuk akal. Namun, ada perbedaan. Bedanya pun tipis, tetapi akibatnya besar. Pertanyaan pertama bersifat defensif. Ia berbicara tentang bagaimana bertahan setelah sesuatu berakhir. Sedangkan, pertanyaan kedua bersifat imajinatif. Ia berbicara tentang bagaimana menciptakan sesuatu yang baru.
Sebuah masyarakat yang hanya menunggu tambangnya habis akan selalu berada dalam posisi kehilangan. Tetapi masyarakat yang mampu membayangkan dirinya setelah tambang dapat mulai memikirkan masa depan sebelum masa lalu berlalu.
Dalam konteks sederhana atas gagasan tersebut, imajinasi yang dibangun tidak boleh menjadi pengganti kenyataan. Ia harus menjadi cara baru membaca kenyataan. Karena itu, membayangkan Bangka Belitung setelah timah, bukan berarti latah untuk mengatakan bahwa besok kita akan menjadi pusat ekonomi kreatif Asia.
Bukan pula sekadar membuat slogan tentang ekonomi biru, pariwisata berkelanjutan, hilirisasi atau industri digital. Sebab, semua itu baru kata-kata sebelum diuji oleh kenyataan.
Untuk itu, imajinasi membutuhkan ilmu. Membutuhkan data. Membutuhkan pendidikan. Membutuhkan keberanian untuk mengakui kegagalan. Dan terutama membutuhkan masyarakat yang mampu mengatakan bahwa barangkali cara lama yang berjalan memang tidak lagi cukup.
Barangkali kita perlu mulai membayangkan Bangka Belitung bukan berdasarkan apa yang hendak kita ambil dari tanah ini, tetapi berdasarkan apa yang hendak kita wariskan kepadanya.
Bayangkan sebuah daerah yang tidak kehilangan anak mudanya hanya karena kesempatan tidak tersedia.
Bayangkan universitas yang bukan sekadar tempat orang pergi untuk memperoleh gelar, tetapi menjadi pusat pengetahuan bagi persoalan-persoalan kepulauan.
Bayangkan laut bukan hanya sebagai latar belakang foto wisata, melainkan sebagai sumber pangan, ilmu, pekerjaan dan kebudayaan.
Bayangkan ekonomi lokal di mana nelayan, petani, pelaku UMKM, pekerja kreatif dan koperasi tidak sekadar menjadi pelengkap statistik ekonomi.
Bayangkan kota yang memberi ruang bagi musik, buku, teater, seni, teknologi dan percakapan.
Bayangkan industri yang tidak hanya mengirim bahan mentah keluar pulau, tetapi meninggalkan pengetahuan, keterampilan dan nilai tambah di tempat asalnya.
Terakhir, bayangkan anak muda yang pergi ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta atau luar negeri tidak dianggap sebagai kehilangan. Mereka pergi untuk belajar. Dan suatu hari, mereka pulang membawa sesuatu. Bukan karena dipaksa. Tetapi karena rumahnya telah berubah menjadi tempat yang memungkinkan gagasannya tumbuh.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.