TRIBUNNEWS.COM - Perubahan iklim mulai mengubah wajah lautan di kawasan kutub secara cepat.
Bukan hanya luas es laut yang menyusut, pemanasan juga mengubah habitat satwa, mempercepat erosi pantai Arktik, hingga meningkatkan risiko terhadap masyarakat dan infrastruktur di kawasan pesisir.
Laporan tahunan Copernicus Ocean State Report edisi ke-10 menunjukkan wilayah laut kutub, yang mencakup sekitar 20 persen permukaan laut dunia, mengalami perubahan yang sangat cepat.
Suhu gabungan permukaan laut dan permukaan es di kawasan Arktik meningkat sekitar 4,2 derajat Celsius sepanjang 1982-2024, atau rata-rata sekitar 1 derajat Celsius per dekade.
Angka itu jauh di atas kenaikan suhu permukaan laut global yang sekitar 0,12 derajat Celsius per dekade.
Direktur Jenderal Mercator Ocean International Pierre Bahurel mengatakan perubahan tersebut tidak lagi bisa dipandang sebagai gejala terpisah.
"The message is very clear. The ocean is changing rapidly," kata Bahurel, dikutip dari laporan AFP yang dimuat Kuwait Times.
Perubahan paling mencolok terjadi di Arktik.
Menurut laporan Copernicus, es laut Arktik menyusut hampir 500.000 kilometer persegi setiap dekade sejak 1979. Luasan yang hilang tersebut kira-kira setara dengan wilayah Spanyol dalam setiap 10 tahun.
Pemanasan bahkan jauh lebih tinggi di sejumlah kawasan.
Baca juga: Indonesia dan Negara Produsen Lada Hadapi Tantangan Perubahan Iklim Hingga Keamanan Pangan
Di Laut Kara, sebelah utara Siberia, suhu tercatat meningkat sekitar 6,7 derajat Celsius sejak 1982, atau rata-rata 1,68 derajat Celsius per dekade.
Penyusutan es kemudian membuka lebih banyak permukaan laut dan membuat garis pantai Arktik semakin terpapar gelombang.
Dampaknya tidak berhenti pada ekosistem. Erosi pantai meningkat dan mengancam permukiman maupun infrastruktur masyarakat pesisir.
Karina von Schuckmann, direktur laporan Copernicus Ocean State Report, mengatakan sekitar 60 persen infrastruktur pesisir Arktik berada dalam kondisi rentan terhadap erosi dan kenaikan muka laut.
"The Arctic sea ice has been declining since the early 80s, leaving around 60 percent of coastal infrastructure vulnerable to erosion and sea level rise," ujar von Schuckmann dalam pengarahan media.
Perubahan es laut memiliki konsekuensi lebih luas karena kawasan tersebut merupakan bagian penting dari sistem iklim Bumi.
Kajian Copernicus menyebut laut kutub berperan dalam menyerap dan menyimpan panas serta karbon akibat aktivitas manusia. Wilayah tersebut juga berhubungan dengan sirkulasi laut global yang mendistribusikan panas dan karbon ke berbagai bagian dunia.
Hilangnya es laut turut memicu umpan balik iklim.
Es memiliki kemampuan memantulkan radiasi matahari. Ketika es menyusut, permukaan laut yang lebih gelap terbuka dan menyerap lebih banyak energi matahari sehingga memperkuat pemanasan di kawasan tersebut.
Dengan demikian, pencairan es bukan hanya akibat pemanasan, tetapi dapat ikut memperkuat perubahan sistem iklim.
Habitat Satwa Kutub Ikut Bergeser
Perubahan fisik laut kutub juga mengubah ekosistem.
Di Samudra Selatan, penyusutan es laut beririsan dengan wilayah yang menjadi habitat koloni penguin. Copernicus menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan konservasi karena habitat yang menopang keanekaragaman hayati ikut berubah.
Penelitian yang diterbitkan Nature Climate Change pada Februari 2026 menunjukkan dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Antarktika dapat muncul pada waktu dan wilayah yang berbeda.
Peneliti memodelkan perubahan pada es laut, fitoplankton, krill, ikan dan penguin.
Hasilnya menunjukkan perubahan yang didorong iklim pada ikan dan penguin dapat muncul lebih awal dibandingkan perubahan yang terdeteksi pada es laut dan tingkat trofik yang lebih rendah. Dampaknya juga tidak selalu negatif di semua tempat dan musim.
Salah satu dampak paling nyata terlihat pada penguin kaisar.
Es laut yang stabil dibutuhkan penguin kaisar untuk hidup, mencari makan dan berkembang biak. Anak penguin yang terjun ke air sebelum bulunya menjadi kedap air berisiko mati karena suhu yang sangat dingin.
Rekor rendah es laut Antarktika pada 2022 bertepatan dengan kegagalan pembiakan massal penguin kaisar yang pertama kali tercatat.
Pada April 2026, status penguin kaisar juga dinaikkan dari "near threatened" menjadi "endangered" oleh IUCN.
Jika penyusutan es laut berlanjut pada tingkat saat ini, lebih dari 90 persen koloni penguin kaisar berpotensi mendekati kepunahan pada 2100.
Perubahan Tidak Seragam di Antarktika
Meski demikian, ilmuwan tidak menggambarkan perubahan Antarktika sebagai proses yang seragam.
Penelitian Nature Climate Change menemukan sinyal perubahan iklim muncul lebih awal di wilayah Antarktika Timur, sementara Laut Ross diproyeksikan tetap menjadi kawasan yang relatif terlindungi hingga abad ke-21.
Di Laut Weddell, berkurangnya es laut musim panas bahkan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ikan dan krill dalam beberapa dekade mendatang, sembari masih memungkinkan habitat penguin kaisar tetap bertahan.
Temuan ini menunjukkan bahwa pemanasan global tidak menghasilkan satu pola ekologis yang sama di seluruh wilayah kutub.
Namun, perubahan habitat tetap menjadi persoalan utama karena setiap spesies memiliki ketergantungan berbeda terhadap es, suhu laut dan rantai makanan.
Data satelit NASA dan National Snow and Ice Data Center (NSIDC) juga menunjukkan tekanan terhadap es Arktik belum berakhir.
Es laut Arktik mencapai luas minimum tahunan pada 12 September 2026 dengan luas sekitar 4,6 juta kilometer persegi.
Angka tersebut menyamai posisi ke-10 terendah dalam catatan satelit. Bahkan, seluruh 20 tahun dari 2007 hingga 2026 mencatat 20 luas minimum es laut Arktik terendah sejak pengamatan satelit berkelanjutan dimulai pada 1978.
Kajian terbaru Nature Reviews Earth & Environment juga mencatat musim pencairan es Arktik memanjang sekitar 7,4 hari setiap dekade selama 1979-2024, disertai penurunan ketebalan es musim dingin.
Laporan Copernicus menegaskan perubahan laut kutub tidak dapat dipisahkan menjadi persoalan es, satwa, pesisir atau iklim secara terpisah.
Pemanasan laut, penyusutan es, perubahan habitat dan erosi pesisir merupakan rangkaian proses yang saling berhubungan.
Karena itu, perlindungan keanekaragaman hayati di kutub tidak cukup hanya dengan konservasi lokal.
Copernicus menilai perlindungan habitat harus berjalan bersamaan dengan pengurangan tekanan iklim melalui mitigasi global.
Perubahan yang kini terlihat di wilayah paling utara dan selatan Bumi pada akhirnya menjadi indikator perubahan sistem laut global.
Dengan laut kutub terus menghangat dan habitat berbasis es semakin tertekan, persoalannya bukan lagi sekadar seberapa banyak es yang hilang, tetapi ekosistem dan masyarakat seperti apa yang mampu bertahan ketika es tersebut semakin sedikit.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.