TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mulai menggulirkan uji coba konsep baru Jam Belajar Masyarakat (JBM), demi membiasakan budaya belajar sejak dini. Langkah ini dinilai menjadi salah satu best practice dalam memperkuat serta mengisi predikat Yogyakarta sebagai kota pendidikan, sekaligus kota pelajar. 


Untuk memastikan program tak sekadar formalitas, jajaran Kelurahan dan Kemantren di wilayah Kota Yogyakarta diminta terjun langsung mengawasi penerapannya.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dan pejabat wilayah setempat, mengingat keberhasilan pendidikan anak-anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pihak sekolah semata.

"Saya ingin Jam Belajar Masyarakat itu diimplementasikan betul di Kota Yogyakarta. Betul-betul bisa menjadi best practice. Karena untuk mengisi predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar harus ada tandanya, jam belajarnya bagus, kemudian pendidikannya juga bagus," katanya, belum lama ini.

Hasto menegaskan, dalam skema pelaksanaannya terdapat petugas pendamping di setiap wilayah yang ditunjuk dan menerima honorarium dalam nominal tertentu. Fungsi pengawasan dari lurah hingga mantri pamong praja menjadi hal yang krusial, agar program ini benar-benar menghadirkan dampak nyata.

"Kami juga titip untuk Jam Belajar Masyarakat itu ada output-nya. Makanya, tolong bapak, ibu lurah juga ikut mengawasi, menjadi bagian dari pengawasan," tandasnya.

Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat dan PAUD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta, Siti Hidayati menambahkan, skema pendampingan JBM telah disiapkan berjenjang dari tingkat kelurahan hingga kemantren.

Petugas pendamping di tingkat kelurahan bertugas memantau pelaksanaan JBM, berkoordinasi dengan kemantren, menyusun laporan, hingga menindaklanjuti hasil kegiatan. Sementara pendamping di tingkat kemantren bertanggung jawab mengoordinasikan instrumen pemantauan, merekap data, menyusun narasi dan dokumentasi.

Selain itu, melalui laporan kegiatan yang disusun secara spesifik, pihaknya pun melangsungkan evaluasi rutin terkait Jam Belajar Masyarakat setiap bulannya.

"Kegiatan JBM sudah ada lama di Yogya. Tapi, tahun ini kami coba JBM konsep baru, dengan mendatangkan guru secara profesional dari sekolah untuk memberikan materi pembelajaran kepada anak di empat kelurahan yang menjadi pilot project," ucapnya.

"Program sudah berjalan mulai bulan September, difokuskan pada budaya belajar, sehingga anak-anak diharapkan tahu saat JBM itu ya harus belajar," imbuh Siti.

Ia merincikan, empat kelurahan yang menjadi pilot project JBM dengan menghadirkan guru profesional fasilitas Dindikpora tersebut meliputi Kelurahan Tahunan, Sorosutan, Tegalrejo, dan Bumijo.

Di empat wilayah percontohan ini, JBM digelar setiap Senin hingga Kamis mulai pukul 19.30 sampai 20.30 WIB dengan memanfaatkan fasilitas kantor kelurahan, balai RW, maupun balai RT setempat. Sedangkan untuk wilayah di luar empat kelurahan tersebut, pelaksanaan JBM disesuaikan dengan fleksibilitas dan potensi kegiatan masing-masing wilayah.

"Seperti kegiatan tematik seni budaya hingga mendatangkan mentor bimbingan belajar. Sementara di 2026 ini empat wilayah kelurahan dulu. Kami sambil berjalan dan evaluasi terus," ucapnya. (aka)

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.