Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Migrain dapat muncul saat seseorang menjalani aktivitas sehari-hari. Pemicu bisa berasal dari terlalu lama menatap layar, kurang tidur, terlambat makan, hingga kondisi lingkungan tertentu.
Dokter Spesialis Neurologi (Saraf) Konsultan Nyeri dan Nyeri Kepala, dr. Iswandi Erwin, Sp.N., Subsp.NN(K), M.Ked, menjelaskan sejumlah kondisi sehari-hari dapat menjadi pencetus migrain.
Salah satunya paparan cahaya, baik dari matahari maupun layar perangkat.
“Umumnya orang-orang bule itu migraine-nya tercetus dengan paparan matahari, handphone, dan terlalu lama bekerja juga bisa,” kata Iswandi dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Minggu (4/10/2026).
Menurut Iswandi, pada masyarakat Asia, pencetus migrain juga dapat berkaitan dengan suara dan bau tertentu.
Migrain dapat disertai fotofobia, yakni kepekaan terhadap cahaya.
Iswandi menyebut pada populasi Asia terdapat pula kondisi ketika migrain dipicu suara atau bau tertentu, seperti lingkungan yang terlalu berisik atau aroma yang terlalu kuat.
“Khusus masyarakat Asia, selain fotofobia, bahwa ada satu studi mengatakan bahwa fonofobia, bau-bauan, mencium bau parfum yang terlalu kuat, atau bau masakan mungkin,” ujarnya.
Karena itu, orang yang sering mengalami migrain perlu memperhatikan situasi ketika sakit kepala mulai muncul.
Bukan hanya makanan, tetapi juga kondisi lingkungan.
Misalnya, apakah migrain muncul setelah berada di tempat ramai dan bising, mencium aroma menyengat, terlalu lama bekerja di depan layar, atau terpapar cahaya.
Baca juga: Tips dan Solusi Agar Anak Tidak Lagi Takut saat Periksa ke Dokter Gigi
Kebiasaan sehari-hari juga dapat berperan sebagai pemicu migrain.
Kurang tidur, terlambat makan, dan dehidrasi disebut sebagai beberapa kondisi yang dapat memicu munculnya migrain.
Artinya, pengelolaan migrain tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan ketika kepala sudah terasa sakit. Kebiasaan sebelum sakit kepala muncul juga perlu diperhatikan.
Iswandi mengatakan tidur yang cukup menjadi salah satu hal yang perlu diupayakan.
“Jadi kita upayakan tidur yang cukup, artinya cukup itu 7-8 jam, tidak lebih dan tidak kurang, karena kebanyakan tidur juga seseorang bisa juga mengalami kumat sakit kepalanya,” jelasnya.
Selain faktor fisik dan lingkungan, kondisi psikososial juga dapat berpengaruh terhadap munculnya sakit kepala.
Stres menjadi salah satu pencetus yang perlu diperhatikan, terutama ketika seseorang mengalami tekanan dan gangguan tidur.
“Jadi stresor psikososial merupakan salah satu pencetus nyeri kepala,” kata dr. Iswandi.
Orang yang sering mengalami migrain dapat mencatat waktu munculnya sakit kepala, kondisi tidur, pola makan, aktivitas di depan layar, lingkungan yang bising, atau paparan bau tertentu.
Catatan tersebut dapat membantu mengenali pola pemicu yang berulang.
Namun, tidak semua pemicu akan menyebabkan migrain pada setiap orang.
Migrain sendiri termasuk nyeri kepala primer, yaitu sakit kepala yang merupakan penyakit itu sendiri, bukan akibat penyakit lain. Kondisi ini secara umum lebih banyak dijumpai pada perempuan.
Pada migrain, sakit kepala dapat terasa berdenyut dan disertai mual atau muntah serta sensitif terhadap cahaya atau suara. Keluhan tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Karena itu, ketika migrain semakin sering muncul atau mulai mengganggu aktivitas, keluhan sebaiknya tidak terus dianggap sebagai sakit kepala biasa.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.