TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA — Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Wirandita Gagat Widyatmoko, secara tegas menyayangkan dan menyoroti dugaan tindakan nirempati dari seorang pegawai Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Bantul.
Pegawai tersebut diduga mengolok-olok korban dalam insiden keamanan pangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara, melalui sebuah video yang kini viral dan memicu kritik keras dari warganet.
Berdasarkan narasi dan cuplikan rekaman yang beredar luas di berbagai platform media sosial, seorang pria yang dikaitkan oleh warganet sebagai pegawai SPPG Muntuk, Dlingo, Bantul merekam dirinya tengah menyantap sepotong chicken katsu.
Selesai mencicipi makanan tersebut, ia melontarkan kalimat yang diduga bernada satir, "Gua makan chicken katsu masakan kemarin apakah masih enak oh tidak. Ingatanku hilang tujuh puluh persen".
Ucapan dalam video tersebut dinilai publik sebagai dugaan sindiran langsung yang mengejek Febiona Purba, siswi SMK Bersama Berastagi di Karo, yang sebelumnya dilaporkan mengalami gangguan kesehatan, trauma, hingga penurunan daya ingat setelah menjadi korban keracunan massal program MBG.
Insiden ini sontak memicu kemarahan publik yang menganggap tindakan tersebut sangat tidak berempati terhadap korban yang sedang mengalami gangguan kesehatan serius.
Menanggapi hal ini, Wirandita Gagat Widyatmoko menegaskan bahwa setiap kejadian yang menyangkut keamanan pangan dan berdampak pada penerima manfaat mutlak harus disikapi secara serius, penuh empati, dan didasari rasa kemanusiaan.
“Kami prihatin dan menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan dari jajaran SPPG yang tidak menunjukkan empati terhadap masyarakat yang diduga terdampak. Dalam kondisi seperti ini, yang harus dikedepankan adalah rasa kemanusiaan, empati, sensitivitas, dan saling menghormati,” ujar Gagat.
Menurut Gagat, insiden yang terjadi di satu wilayah seharusnya menjadi pusat perhatian dan pembelajaran berharga bagi seluruh jajaran SPPG di wilayah lainnya.
Ia sangat menentang keras adanya kejadian yang menimpa penerima manfaat justru dijadikan bahan candaan, olok-olok, atau komentar yang dapat melukai perasaan pihak-pihak yang sedang menghadapi kondisi sulit.
Ia juga menekankan bahwa proses penanganan pada setiap insiden harus selalu berpegang teguh pada fakta dan dilarang mendahului proses pemeriksaan aparat atau pihak berwenang.
Istilah-istilah asas praduga seperti “dugaan”, “indikasi”, atau “informasi awal” wajib digunakan secara tepat oleh jajarannya sampai proses verifikasi dan pembuktian benar-benar selesai.
“Kita harus bisa membedakan antara memberikan klarifikasi, memberikan pendapat, dan memberikan penilaian terhadap suatu kejadian. Jangan sampai karena ingin memberikan komentar, justru muncul pernyataan yang tidak sensitif dan kemudian memperbesar persoalan,” ujarnya.
Sebagai langkah mitigasi dan penertiban internal, Gagat telah memberikan peringatan kepada seluruh struktur jajaran BGN di wilayahnya, mulai dari Koordinator Wilayah (Korwil), Koordinator Kecamatan (Korcam), Kepala SPPG, Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, hingga seluruh personel SPPG di lapangan.
Seluruh pihak diinstruksikan untuk menjaga etika komunikasi yang baik, terutama dalam penggunaan media sosial. Setiap personel dituntut untuk sadar dan memahami bahwa pernyataan yang dilempar ke ruang publik akan berdampak langsung terhadap tingkat kepercayaan masyarakat pada penyelenggaraan Program MBG secara keseluruhan.
Sikap tegas ini sejalan dengan urgensi BGN dalam memperkuat tata kelola kelembagaan dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) penyelenggaraan SPPG, terlebih setelah rentetan kejadian terkait keamanan pangan mulai menjadi sorotan tajam publik.
“Kami mengajak seluruh jajaran untuk saling menghormati. Ketika ada saudara kita, penerima manfaat, atau masyarakat yang diduga terdampak suatu kejadian, respons pertama kita seharusnya adalah empati, bukan menghakimi. Jadikan setiap kejadian sebagai pembelajaran untuk memperbaiki pelayanan dan memperkuat pencegahan,” papar Gagat lebih lanjut.
Gagat menambahkan bahwa BGN tetap menghormati penuh proses pemeriksaan dan pembuktian terhadap setiap kejadian di lapangan.
Fokus utama institusi beserta seluruh jajaran saat ini adalah berupaya maksimal untuk memastikan keamanan pangan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mencegah kejadian serupa terulang melalui penerapan SOP yang konsisten.
“Kita bekerja untuk masyarakat. Karena itu, mari jaga bukan hanya kualitas makanan yang kita berikan, tetapi juga cara kita memperlakukan dan berkomunikasi dengan masyarakat. Sensitif terhadap keadaan, empati terhadap yang terdampak, dan saling menghormati harus menjadi bagian dari budaya kerja kita,” pungkasnya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.