Jakarta (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan perbedaan gejala yang disebabkan oleh influenza A dengan common cold atau yang juga dikenal sebagai selesma.
“Ingat ya tidak sama influenza atau flu itu dengan selesma atau common cold,” kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K) dalam diskusi daring di Jakarta, Jumat.
Anggraini yang merupakan lulusan Universitas Padjajaran itu mengatakan influenza disebabkan oleh berbagai tipe virus influenza yang terbagi dalam beberapa jenis mulai A yang sub tipenya meliputi H1N1 dan H3N2, B, C dan D. Sedangkan common cold kebanyakan disebabkan oleh rhinovirus.
Meski kedua penyakit itu disebabkan oleh virus, tingkat keparahan yang disebabkan sangat berbeda. Gejala yang tampak serupa dari keduanya seperti hidung tersumbat, batuk dan sakit tenggorokan.
Menurut Anggraini, pada selesma gejalanya terbilang ringan dan paling terasa di area kepala hingga hidung. Penderitanya akan merasakan kelelahan ringan dan keparahannya akan bertambah secara bertahap.
“Jadi bisa merasa capek, pegal tapi ringan. Dia akan sembuh dalam jangka waktu yang lebih pendek,” katanya.
Sementara pada Influenza, perburukan akan lebih berat dan gejalanya berlangsung dengan cepat. Penderita akan merasakan demam tinggi, kelelahan dan kehilangan nafsu makan.
Penderitanya juga dapat merasa pegal-pegal hebat di seluruh area tubuh dan hidung yang berair. Waktu pemulihan pun butuh durasi yang lebih panjang hingga berminggu-minggu.
Sedangkan saat menanggapi adanya isu kenaikan kasus influenza A, Anggraini melanjutkan influenza menjadi salah satu jenis penyakit yang perlu diwaspadai karena virusnya dapat cepat bermutasi tidak hanya pada manusia, tetapi juga hewan terutama babi.
Influenza A juga dapat menyebabkan pandemi dan bisa mengenai kalangan usia manapun, terutama kelompok berisiko seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita penyakit bawaan (komorbid).
“Influenza dia itu lebih berat, dan begitu dia masuk, dia akan mengikuti bagaimana DNA genetik kita, sehingga dia bisa memperbanyak dirinya di dalam sel kita, sampai sel kita rusak, kemudian dia akan dikuatkan. Begitu dikuatkan dia banyak dia ke jaringan-jaringan untuk pernafasan, menyebabkan adanya peradangan,” ujar Anggraini.
Ia menyampaikan kedua jenis penyakit ini sudah bisa disembuhkan dengan bantuan vaksinasi. Di samping itu, cara pencegahan yang tepat adalah dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti rajin mencuci tangan dan mengonsumsi makanan sehat serta mencukupi cairan tubuh.
Ia mengatakan berjemur di bawah sinar matahari, membuka jendela agar sirkulasi udara menjadi baik dan mengurangi aktivitas di dalam ruang ber-AC yang dikerumuni banyak orang juga bisa menjadi bentuk pencegahan dari penularan influenza.
“Kalau ternyata ruangannya tidak ada ventilasinya, berkumpul banyak orang seperti misalnya di lift atau di ruangan, lebih baik itu pakai masker,” kata dia.
Bagi pihak yang membutuhkan obat-obatan, Anggraini menilai paracetamol masih diperbolehkan, namun untuk antibiotik tidak terlalu dianjurkan mengingat virus influenza dapat menyebar dan menempel ke berbagai permukaan barang.