Grid.ID - Pembunuhan Mozza, gadis asal Semarang yang hilang sejak 2025 kini terungkap. Pelaku ternyata pernah pinjam lakban ke teman kos.
Tampang MVDA, pria berusia 22 tahun yang diamankan polisi terkait kasus hilangnya dan meninggalnya Mozza Axillia Gunarsa, muncul saat digiring polisi ke tahanan di Mapolrestabes Semarang, Sabtu (5/9/2026) siang.
Terbaru, jejak pembunuhan Mozza kini mulai terungkap. Pelaku ternyata pernah pinjam lakban ke teman kos.
Melansir dari TribunJateng.com, MVDA tampak memakai kaus tahanan berwarna oranye dengan nomor 24. Wajahnya juga terlihat tertutup masker medis.
Saat dibawa menuju ruang tahanan Sat Tahti Polrestabes Semarang, kedua tangan MVDA dalam keadaan terborgol dan ia dikawal oleh sejumlah petugas.
Sepanjang perjalanan melewati area gedung, MVDA lebih banyak menundukkan kepala serta tidak banyak memberikan keterangan. Ketika ditanya mengenai alasan atau motif di balik tindakannya, pria tersebut memilih untuk tetap bungkam.
Polisi menangkap MVDA di wilayah Blora pada Rabu (3/9/2026) malam. Penangkapan dilakukan setelah penyidik menelusuri sejumlah komunikasi yang berkaitan dengan korban, Mozza.
Hasil penyelidikan kemudian mengarahkan polisi kepada MVDA. Ia diketahui menjadi salah satu orang yang terakhir kali berkomunikasi dengan korban sebelum keberadaan Mozza tidak diketahui.
Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Srinitri, mengatakan bahwa saat peristiwa terjadi, MVDA berstatus sebagai pengangguran.
"Pada saat kejadian pelaku menganggur dan masih mencari pekerjaan di Kota Semarang," kata Kompol Ni Made saat konferensi pers di Mapolrestabes Semarang, dikutip dari TribunJateng.com.
MVDA diketahui baru beberapa waktu tinggal di Semarang. Sekretaris RW setempat, Didi, yang kediamannya berada persis di depan indekos tempat dugaan pembunuhan berlangsung, menyebut MVDA baru menempati kamar kos tersebut sekitar dua minggu.
Menurut Didi, kedatangan MVDA juga memiliki perbedaan dibandingkan calon penghuni kos lainnya. MVDA disebut hanya berniat mencoba tinggal terlebih dahulu selama satu bulan.
Untuk biaya sewa, MVDA membayarnya secara langsung dengan uang tunai. Namun, saat pengelola meminta kartu tanda penduduk (KTP) sebagai data identitas, MVDA tidak menyerahkannya.
"Baru dua minggu kos di sini terus ada kejadian," kata Didi ketika ditemui.
Usai kejadian tersebut, MVDA diketahui langsung meninggalkan tempat tinggalnya tanpa berpamitan kepada warga sekitar.
Didi menuturkan, kamar yang sebelumnya dihuni MVDA mendadak sudah tidak berpenghuni. Kepergian tersebut dilakukan tanpa memberi tahu lingkungan sekitar maupun pihak terkait.
Selain soal proses penyewaan kamar, Didi juga mengingat adanya aktivitas MVDA yang belakangan kembali menjadi sorotan. Menurutnya, MVDA pernah meminjam lakban kepada Muis, warga yang tinggal di kamar kos sebelahnya.
"Setelah itu, pelaku pinjam lakban ke Mas Muis," kata Didi, dikutip dari Kompas.com.
Menurut Didi, lakban tersebut kemudian habis.
"Lakban itu terus katanya habis, lakbannya habis," tambah Didi.
Saat itu, Muis disebut tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kamar MVDA.
"Mas Muis sebenarnya enggak tahu persoalan," ujar Didi.
Setelah itu, MVDA meninggalkan indekos tersebut. Kamar yang sebelumnya ditempatinya mendadak sudah dalam keadaan kosong.
Polisi mengungkap dugaan pembunuhan Mozza berlangsung di kamar indekos tersebut pada 25 Juni 2025. Berdasarkan keterangan awal MVDA, perselisihan antara dirinya dan Mozza terjadi ketika korban berada di kos. Pertengkaran itu diduga dipicu oleh persoalan kecemburuan.
MVDA kemudian mengaku membekap Mozza dengan menggunakan tangan hingga korban dalam kondisi lemas. Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Srinitri, menyebut Mozza diduga meninggal dunia akibat kehabisan napas setelah dibekap.
"Tersangka emosi, selanjutnya membekap korban hingga lemas," kata Ni Made dalam pengungkapan kasus.
Dalam pemeriksaan awal, MVDA kepada polisi mengaku membekap Mozza selama sekitar tujuh menit. Meski demikian, kepolisian masih menantikan hasil pemeriksaan resmi dari dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Semarang untuk memastikan penyebab kematian korban.
Setelah Mozza dinyatakan meninggal, MVDA disebut sempat meninggalkan indekos. Polisi menduga saat itu ia keluar untuk mencari sekaligus mengamati lokasi yang akan digunakan sebagai tempat membuang korban.
"Karena bingung, baru survei tempat, ketemu, kemudian pelaku balik lagi ke kos," tutur Ni Made.
Jenazah korban diduga terlebih dahulu diikat dan dibungkus sebelum dikeluarkan dari kamar kos. Sekitar pukul 18.30 WIB, tubuh tersebut diduga dibawa menggunakan sepeda motor milik Mozza menuju kawasan Jangli, Kota Semarang, untuk kemudian dibuang.
Setelah lebih dari setahun berlalu, polisi kembali melakukan pencarian di lokasi tersebut berdasarkan petunjuk dari MVDA. Pada Jumat (4/9/2026), petugas menemukan kerangka manusia di sebuah lereng terjal yang tertutup semak-semak.
Kerangka itu kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Semarang untuk menjalani pemeriksaan. Beberapa tanda, seperti tambalan dan bentuk gigi serta keberadaan jepit rambut, membuat pihak keluarga menduga kerangka tersebut adalah Mozza. Kendati demikian, kepolisian masih perlu melakukan pemeriksaan DNA untuk memastikan identitasnya.
Di sisi lain, penyidik masih terus menguji keterangan MVDA dengan berbagai temuan di lapangan. Polisi antara lain memeriksa rekaman CCTV di sekitar indekos serta sejumlah barang bukti yang telah diamankan.
Ponsel yang disita dari tersangka juga sedang diperiksa lebih lanjut di laboratorium. Sementara itu, pengakuan MVDA mengenai motif kecemburuan masih didalami dan belum menjadi kesimpulan akhir penyidik.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.