Nakita.id -Industri kopi Indonesia terus berkembang, tidak hanya dari sisi produksi dan bisnis, tetapi juga dari semakin luasnya perhatian terhadap asal-usul, kualitas, serta cerita di balik secangkir kopi.
Di tengah perkembangan tersebut, muncul kebutuhan untuk memastikan bahwa kemajuan industri tetap berjalan seiring dengan penguatan ekosistem dan penghargaan terhadap manusia yang menjadi bagian penting di dalamnya.
Dalam empat tahun sejak berdiri pada 2022, Roemah Koffie, Member of RAI (Royal Agro Industri), berkembang menjadi ekosistem bisnis kopi yang mencakup roastery dan pengembangan produk, jaringan coffee shop, penyediaan kopi serta solusi F&B bagi pelanggan B2B, produk konsumen yang tersedia melalui supermarket dan kanal modern trade, hingga Roemah Koffie Academy yang berfokus pada pendidikan dan pengembangan talenta kopi.
Melalui lini bisnis yang saling terhubung, Roemah Koffie tidak hanya berupaya memperluas akses terhadap kopi Indonesia, tetapi juga membawa kualitas, pengetahuan, dan cerita budaya di baliknya kepada konsumen, mitra bisnis, serta pelaku industri.
Bagi Felix TJ, CEO Roemah Koffie, pertumbuhan industri kopi tidak semestinya hanya dilihat dari skala bisnis, jumlah produk, maupun perkembangan teknologi. Lebih dari itu, ada manusia yang menjadi bagian penting dari perjalanan kopi dan perlu terus mendapatkan perhatian.
Pemikiran tersebut terangkum dalam gagasan “Rehumanize Coffee” yang dibawa Felix dalam sesi IdeaFest 2026 bertajuk “Rooted in Culture, Brewed by Hand: Rehumanizing Coffee” di Jakarta International Convention Center (JICC), bersama moderator Iwet Ramadhan.
“Di balik satu cangkir kopi ada ekosistem manusia yang panjang dan saling terhubung. Ada petani yang menanam, pemetik yang memilih buah matang, prosesor yang mengolah, roaster yang menentukan karakter rasa, hingga barista yang menyajikannya. Budaya kopi bukan hanya tentang minumannya, tetapi juga tentang manusia yang bekerja dan hidup berdampingan dengan kopi,” ujar Felix.
Pertumbuhan Harus Memperbesar Nilai bagi Manusia di Balik Kopi
Pertumbuhan industri kopi Indonesia tidak terlepas dari peran jutaan orang yang terlibat di dalamnya. Kementerian Pertanian mencatat produksi kopi nasional pada 2024 mencapai sekitar 813 ribu ton.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan menyebut lebih dari 95 persen produksi kopi Indonesia dikelola oleh petani kecil, dengan sekitar 1,2 juta keluarga petani menjadi bagian dari industri tersebut. Perempuan juga memiliki peran besar dalam berbagai tahapan produksi.
Pada 2025, nilai ekspor kopi Indonesia bahkan mencapai rekor sekitar USD2,513 miliar dengan volume 511.182 ton. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi industri kopi Indonesia sekaligus pentingnya memastikan pertumbuhan memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh ekosistem.
“Kalau pertumbuhan hanya berarti menjual lebih banyak kopi, tetapi petani tetap menghadapi risiko yang sama, kapasitas di daerah asal tidak berkembang, dan proses dipercepat dengan mengurangi standar, maka pertumbuhan tersebut belum tentu memperkuat ekosistem,” jelas Felix.
Dalam sesi tersebut, Felix juga mengajak audiens melihat kembali makna specialty coffee. Menurutnya, kekhususan kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh angka, grade, atau metode penyeduhannya.
Nilai tersebut juga lahir dari cara masyarakat memperlakukan kopi berdasarkan pengetahuan, filosofi, dan budaya yang berkembang di setiap daerah.
“Specialty coffee bagi saya sangat luas. Bukan hanya mengenai grade, tetapi juga mengenai manusia dan budaya, bagaimana mereka memperlakukan kopi berdasarkan filosofi serta pengetahuan yang mereka miliki. Kemudian, setiap orang di dalam ekosistem tersebut ikut memproses dan menyajikan kopi yang autentik, premium, dan berasal dari Indonesia,” katanya.
Pandangan tersebut membuat Roemah Koffie menempatkan petani dan pengolah bukan sekadar sebagai pemasok bahan baku, melainkan mitra strategis. Pengetahuan dan keputusan mereka turut menentukan karakter akhir kopi yang dihasilkan.
Filosofi “Bean to Heart” menggambarkan perjalanan kopi yang tidak berhenti ketika biji berubah menjadi minuman. Di setiap tahapnya, terdapat manusia yang menyumbangkan pengetahuan, waktu, keterampilan, dan keputusan.
Filosofi ini juga tercermin dalam identitas visual Roemah Koffie yang berbentuk segitiga. Menurut Felix, dua sisi segitiga merepresentasikan perusahaan dan komitmennya, sementara bagian puncak menggambarkan kemuliaan kopi Indonesia. Di bagian tengah terdapat tangan para petani yang telah bekerja dari generasi ke generasi.
“Tanpa mereka, kami bukan apa-apa,” tegas Felix.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Felix adalah ketika bertemu dengan keluarga petani di Garut. Anggota termuda keluarga tersebut, Robby, tidak menyelesaikan pendidikan SMP. Namun, melalui telepon genggamnya, ia secara mandiri mempelajari berbagai metode pengolahan kopi, termasuk proses fermentasi anaerobik.
Robby kemudian meminta sebagian hasil panen keluarganya untuk diolah menggunakan metode yang dipelajarinya. Hasilnya memiliki karakter rasa dan nilai yang lebih tinggi dibandingkan kopi yang sebelumnya hanya dijual sebagai hasil panen mentah.
Bagi Felix, kisah tersebut menunjukkan bahwa teknologi, rasa ingin tahu, dan kesempatan dapat membantu generasi baru menciptakan nilai tanpa harus memutus hubungan dengan pengetahuan yang diwariskan keluarganya.
Di sisi lain, Felix melihat regenerasi petani sebagai tantangan yang perlu mendapat perhatian. Di sejumlah daerah yang dikunjunginya, pertanian kopi masih banyak dijalankan oleh generasi yang lebih tua, sementara jumlah penerusnya semakin terbatas.
“Kalau generasi berikutnya meninggalkan pertanian, kopi Indonesia akan kehilangan bukan hanya produksinya, tetapi juga pengetahuan dan budaya yang selama ini menjaganya. Karena itu, ekosistemnya harus dibuat tetap bernilai dan relevan bagi generasi berikutnya,” ujar Felix.
Teknologi Adalah Alat, Bukan Pengganti Manusia
Perkembangan teknologi membuka peluang bagi industri kopi untuk meningkatkan kualitas, memperluas akses informasi, serta menghubungkan produsen dengan konsumen. Namun, bagi Felix, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat yang digunakan dan diarahkan oleh manusia.
“Technology is just a tool. Kita tidak mengagungkan teknologinya, tetapi menggunakannya sebagai alat yang tepat. Teknologi tidak boleh melampaui kehebatan manusianya,” kata Felix.
Menurutnya, keterbukaan informasi melalui internet dan media sosial memungkinkan konsumen mempelajari asal produk, nilai sebuah brand, hingga manusia yang berada di baliknya. Teknologi juga dapat membantu cerita kopi Indonesia menjangkau lebih banyak daerah, generasi, bahkan negara.
Meski demikian, keputusan mengenai bagaimana teknologi digunakan tetap perlu berangkat dari tujuan yang jelas. Teknologi seharusnya memperkuat kreativitas, pengetahuan, dan hubungan antarmanusia, bukan membuat proses kehilangan identitas.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting karena karakter kopi Indonesia dibentuk oleh praktik yang berkembang di setiap daerah. Felix mencontohkan keterlibatan perempuan dalam proses pemilihan biji kopi di Flores.
Ketelitian mereka tidak hanya memengaruhi kualitas akhir kopi, tetapi juga menunjukkan bagaimana peran sosial, pengalaman, dan nilai komunitas terhubung dengan proses produksi.
Karena itu, modernisasi tidak seharusnya menghapus praktik lokal. Sebaliknya, teknologi dapat digunakan untuk membantu praktik tersebut bertahan, terdokumentasi, dan dikenal lebih luas.
“Teknologi, budaya, dan karya-karya yang lahir di Indonesia merupakan bagian dari jati diri kita. Modernisasi seharusnya membantu kita membawa jati diri tersebut ke generasi berikutnya, bukan menghilangkannya,” lanjut Felix.
Dari “Rasa dan Kisah” Menuju Gerakan Budaya
Pendekatan Roemah Koffie kemudian diterjemahkan melalui filosofi “Rasa dan Kisah”. Rasa menghadirkan pengalaman yang autentik, sementara kisah memberikan konteks mengenai manusia, daerah asal, serta nilai yang melahirkan sebuah produk.
Filosofi tersebut diwujudkan melalui penggunaan lagu daerah sebagai nama produk. Rangkaian ini dimulai dengan Rambadia dari Sumatera Utara yang menceritakan perkenalan antarmarga, dilanjutkan Anak Daro tentang pernikahan dan awal kehidupan baru, serta Cublak Suweng yang menggambarkan perjalanan menemukan makna dan ketenangan dari dalam diri.
Setiap lagu menjadi bagian dari rangkaian cerita kehidupan sekaligus cara untuk memperkenalkan kembali warisan budaya yang semakin jarang terdengar.
Pada Juli 2026, Roemah Koffie memperkenalkan Cublak Suweng sebagai premium roastery blend yang memadukan kopi Gayo, Aceh, dan Temanggung, Jawa Tengah. Nama, asal kopi, profil rasa, dan cerita budaya di baliknya dirancang menjadi satu pengalaman yang utuh.
“Cerita yang kami ambil berasal dari lagu-lagu folklor Indonesia. Semuanya memiliki makna yang dalam. Kami ingin membawa cerita dari Sabang sampai Merauke dan menjadikannya bagian dari perjalanan menikmati kopi,” jelas Felix.
Menurut Felix, sebuah brand tidak perlu menciptakan cerita yang sebenarnya sudah dimiliki Indonesia. Kekayaan budaya, kerajinan, musik, filosofi, dan pengetahuan lokal dapat diolah serta disampaikan melalui medium yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pendekatan tersebut juga dibawa ke panggung internasional. Di World of Coffee, Roemah Koffie memadukan instalasi visual dan suara, cerita komunitas penghasil kopi, live roasting, lokakarya, serta Roemah Koffie Academy. Format ini memungkinkan audiens tidak hanya mencicipi kopi, tetapi juga memahami konteks budaya yang membentuknya.
Felix menggambarkan Roemah Koffie sebagai bagian dari gerakan budaya yang menggunakan kopi untuk memperkuat kecintaan terhadap Indonesia. Melalui video, podcast, komunitas, desain, musik, dan berbagai medium digital, warisan budaya dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh generasi berikutnya, bukan sekadar disimpan sebagai peninggalan masa lalu.
“Cita-citanya bukan hanya agar dunia mengetahui bahwa Indonesia menghasilkan kopi. Kita ingin dunia memahami bahwa kopi Indonesia membawa pengetahuan, keterampilan, keragaman budaya, dan cerita manusia,” tutup Felix.
Melalui gagasan Rehumanize Coffee, Roemah Koffie ingin memastikan bahwa ketika kopi Indonesia menjangkau pasar yang lebih luas, manusia, keterampilan, dan budaya yang membentuknya juga mendapatkan pengakuan serta nilai yang sepadan.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.