Nakita.id -Kehadiran sebuah ruang tidak hanya dapat menjadi tempat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkembang menjadi wadah untuk berkreasi, berkolaborasi, dan menghadirkan pengalaman yang lebih relevan bagi masyarakat. Semangat tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan TOSERBAKU (Toko Serba TUKU) yang memasuki tahun keempat sebagai lini beyond coffee dari Toko Kopi TUKU.
Vice President Growth and Expansion Toko Kopi TUKU, Diana Frances, menjelaskan bahwa TOSERBAKU hadir untuk melengkapi pengalaman pelanggan Toko Kopi TUKU. Gagasan tersebut berawal dari kebutuhan-kebutuhan kecil yang muncul dalam keseharian pelanggan ketika berada di toko.
“Dari kebutuhan kecil tetangga, akhirnya kami mengobservasi dan mengembangkannya menjadi wadah untuk berkarya dan berkolaborasi,” ujar Diana.
Menurutnya, TOSERBAKU dirancang untuk menghadirkan produk gaya hidup yang relevan dan fungsional, sekaligus memiliki keterhubungan dengan komunitas. Salah satu contoh sederhananya adalah ketika pelanggan membutuhkan jepit rambut karena barang yang digunakan rusak atau patah saat berada di Toko Kopi TUKU.
“Dari awal kami ingin Toko Kopi TUKU menjadi tempat di mana orang datang dan pulang dengan suasana hati yang lebih baik untuk menjalani harinya. TOSERBAKU menjadi perpanjangan tangan Toko Kopi TUKU untuk menemani keseharian pelanggan,” jelas Diana.
Memasuki usia empat tahun, TOSERBAKU mengangkat tema “Ramah” yang tidak hanya dimaknai sebagai keramahan terhadap pelanggan, tetapi juga sebagai upaya untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitar.
Pada kesempatan yang sama, Sustainability Operations Manager MAKA, Gita Aditya, mengatakan bahwa semangat keberlanjutan tersebut sebenarnya telah mulai dibangun sejak 2019. Saat itu, Toko Kopi TUKU mulai melihat persoalan sampah yang muncul dari aktivitas operasional toko dan mencari cara agar material yang masih memiliki nilai guna tidak langsung berakhir sebagai limbah.
Salah satu inisiatif yang kemudian berkembang adalah pemanfaatan kembali kantong primer. Dari proses tersebut, material yang sebelumnya menjadi sampah diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna, seperti tas belanja, pouch, sleeve laptop, dan produk lainnya.
“Kalau dilihat dari yang sudah kami lakukan, sekitar 5,53 ton kantong primer telah diolah menjadi berbagai produk bernilai guna,” ungkap Gita.
Inisiatif tersebut tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Proses upcycling juga melibatkan masyarakat, termasuk para penjahit lokal. Saat ini, terdapat hampir 40 perempuan penjahit yang terlibat dalam proses tersebut sehingga upaya pengelolaan limbah turut memberikan dampak terhadap pemberdayaan ekonomi.
Semangat Ramah juga diwujudkan melalui pemanfaatan kembali material lain yang berasal dari aktivitas Toko Kopi TUKU. Poster dan spanduk yang sebelumnya digunakan untuk berbagai kebutuhan komunikasi, misalnya, tidak langsung dibuang setelah masa penggunaannya selesai. Material tersebut dikumpulkan dan diolah kembali menjadi produk seperti pouch.
“Ramah itu bukan hanya soal upcycling produk, tetapi juga bagaimana kami berkolaborasi dengan partner. Kami tidak bisa berdiri sendiri,” kata Gita.
Karena itu, kolaborasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan TOSERBAKU. Toko Kopi TUKU berupaya menggandeng berbagai pelaku usaha, UMKM, seniman, hingga ilustrator lokal di berbagai daerah.
Pendekatan tersebut juga diterapkan ketika Toko Kopi TUKU berekspansi ke sejumlah kota. Setiap daerah memiliki karakter dan komunitasnya masing-masing, sehingga kolaborasi dengan pelaku kreatif lokal menjadi cara untuk membangun keterhubungan dengan lingkungan tempat toko tersebut hadir.
Diana mencontohkan kolaborasi dengan 347 di Bandung yang kemudian dilanjutkan dengan sejumlah kolaborator lokal di kota lainnya. Di Bali, misalnya, terdapat kolaborasi dengan kreator lokal, sementara di kota-kota lain TOSERBAKU juga berupaya menghadirkan produk yang merepresentasikan karakter daerah masing-masing.
“Setiap kota punya cerita sendiri. Karena itu, ketika kami hadir di tempat-tempat baru, kami juga berusaha berkolaborasi dengan seniman atau ilustrator yang ada di sana,” ujar Diana.
Menurutnya, pemilihan partner tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan untuk menghasilkan sebuah produk. Kesamaan visi dan nilai menjadi salah satu pertimbangan utama agar kolaborasi yang dilakukan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Gita menambahkan, prinsip tersebut juga berlaku dalam pemilihan mitra pengolahan material. TOSERBAKU berupaya mengutamakan pihak-pihak yang berada di sekitar lingkungan operasionalnya. Salah satunya adalah UMKM di kawasan Gunung Sindur yang telah menjadi bagian dari proses pengolahan material.
“Yang kami utamakan adalah bagaimana visi dan misi kami bisa nyambung. Banyak pihak yang bisa mengerjakan produknya, tetapi kesatuan visi mengenai apa yang ingin dicapai menjadi hal yang penting,” jelas Gita.
Ke depan, komitmen terhadap keberlanjutan juga diarahkan pada langkah-langkah yang lebih terukur. Gita menjelaskan bahwa laporan keberlanjutan tidak hanya dipandang sebagai laporan tahunan, tetapi juga dapat menjadi alat ukur untuk melihat capaian sekaligus menentukan langkah perbaikan selanjutnya.
Aspek keberlanjutan yang diperhatikan pun tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Toko Kopi TUKU melihat keberlanjutan melalui berbagai aspek, mulai dari efisiensi operasional, pengelolaan limbah, emisi karbon, hingga aspek sosial dan tata kelola.
Dari sisi sosial, misalnya, perhatian juga diarahkan pada inklusi, pemberdayaan, serta pengembangan kapasitas karyawan. Sementara dari sisi lingkungan, pengelolaan sampah menjadi salah satu fokus yang terus dikembangkan.
Sejumlah langkah sederhana juga telah diterapkan dalam operasional. Salah satunya adalah perubahan pada kemasan gelas dan botol satu liter.
Logo yang sebelumnya dicetak menggunakan tinta kini dibuat lebih sederhana, termasuk penggunaan emboss pada botol. Langkah tersebut dilakukan agar material kemasan lebih mudah digunakan kembali dan didaur ulang.
“Kami berusaha mulai dari hal-hal terkecil, seperti cup dan botol. Saat ini mungkin belum semua jenis material bisa kami kurangi, tetapi kami berusaha agar material tersebut tetap bisa didaur ulang,” ujar Diana.
Selain pengelolaan material dari internal, TOSERBAKU juga mendorong kebiasaan pelanggan untuk ikut berkontribusi. Salah satunya melalui program membawa kembali kemasan atau sampah tertentu, termasuk pemberian insentif dalam bentuk diskon.
Dengan demikian, semangat Ramah tidak hanya berhenti pada produk yang dihasilkan dari proses upcycling, tetapi menjadi bagian dari cara TOSERBAKU melihat keseluruhan ekosistem bisnisnya.

Memasuki tahun keempat, TOSERBAKU pun terus memperluas lini produknya, mulai dari apparel, tumbler, hingga berbagai produk hasil kolaborasi.
Produk-produk tersebut juga tidak selalu tersedia di semua lokasi karena beberapa di antaranya dibuat secara khusus untuk merepresentasikan karakter kota atau komunitas tertentu.
Untuk produk hasil kolaborasi dengan seniman lokal, misalnya, distribusinya dapat difokuskan pada toko di kota asal kolaborator serta sejumlah gerai TOSERBAKU tertentu. Pendekatan ini sekaligus memberikan ruang bagi karya lokal untuk memiliki karakter dan cerita yang lebih kuat.
Bagi Diana dan Gita, perjalanan TOSERBAKU selama empat tahun menunjukkan bahwa keberlanjutan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Mulai dari melihat kebutuhan pelanggan, memanfaatkan kembali material yang tersedia, menggandeng penjahit dan UMKM lokal, hingga membangun kolaborasi dengan kreator dari berbagai daerah.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya TOSERBAKU untuk terus berkembang bukan hanya sebagai lini produk gaya hidup, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang membawa nilai keberlanjutan lebih dekat dengan keseharian masyarakat.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.