GRID.ID – Kembali teringat dengan mendiang suaminya, tangis Fanny Kondoh pecah saat menceritakan kisah hidup bersama mendiang suaminya, Hajime Kondoh, pada press conference Rabu (26/8/2026).
Di tengah rasa haru, Fanny mengaku bersyukur karena perjuangan dan kisah hidup Hajime akhirnya bisa diabadikan melalui film Baby Udon. Baginya, film ini menjadi lebih dari sekadar tontonan karena menyimpan kenangan tentang sosok yang begitu berarti dalam hidupnya.
“Dari tadi aku jalan ke sini, aku nangis. Honey, kamu tahu nggak, akhirnya kamu nggak akan diingat menjadi abu saja,” ujar Fanny saat membayangkan mendiang suaminya.
Fanny ingin lebih banyak orang mengenal Hajime sebagai sosok pria yang luar biasa dan mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Ia berharap kisah mendiang suaminya yang diangkat ke layar lebar, dapat membuat sosok Hajime terus dikenang, bukan hanya sebagai seseorang yang telah pergi.
Bagi Fanny, kehadiran film baby Udon juga menjadi cara untuk menjaga memori indah mereka tetap hidup. Ia bahkan membayangkan Hajime bisa hadir dan menyaksikan kisah tersebut bersama para penonton.
“Aku berharap kamu bisa datang di salah satu kursi penonton ini, meskipun aku nggak bisa lihat kamu. Aku yakin kamu nggak akan pernah mati di hatiku karena kamu selalu bersamaku,” ungkap Fanny ditemui di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Fanny juga mengungkapkan ada satu adegan film Baby Udon yang begitu menguras emosinya, yakni saat kondisi kesehatan Hajime mengalami penurunan. Adegan tersebut memperlihatkan sisi lain Hajime yang berbeda dari sosok kuat dan mandiri yang selama ini dikenal Fanny.
“Ada adegan Hajime ngompol pipis darah di kasur. Di situ Hajime terlihat sangat hancur karena laki-laki kan selalu menaruh kebanggaannya pada ketangguhan di pekerjaan dan fisik,” jelas Fanny pada Rabu (26/8/2026).
Fanny mengungkapkan, kondisi tersebut membuat Hajime merasa kehilangan sosoknya sebagai suami yang selama ini ingin melindungi dan memberikan rasa aman kepada sang istri. Ia bahkan sempat merasa bersalah karena harus bergantung pada Fanny ketika kondisi tubuhnya sudah tak lagi sekuat sebelumnya.
“Laki-laki harusnya bisa memberikan kita security, tapi saat itu dia merasa gagal memberikan itu semua ke istrinya. Dia bilang, ‘Maafin ya, aku cuma bisa ngerepotin kamu’,” lanjutnya.
Namun, bagi Fanny, kondisi tersebut justru menjadi salah satu bentuk cinta yang paling tulus. Ia memilih tetap berada di sisi Hajime dan merawatnya ketika sang suami berada dalam kondisi paling lemah.

Melalui Baby Udon, Fanny juga ingin mengajak penonton untuk melihat kembali arti kebersamaan dengan orang-orang yang mereka cintai. Menurutnya, waktu bersama orang terkasih merupakan sesuatu yang sangat berharga dan tidak selalu bisa kembali.
Kehadiran buah hati mereka pun menjadi pengingat dari perjalanan cinta yang pernah dibangun bersama Hajime. Meski sang suami telah tiada, Fanny percaya kenangan, cinta, dan nilai yang ditinggalkan Hajime akan terus hidup melalui keluarga mereka.
“Semoga film ini bisa memberikan kita makna bahwa apa yang kita punya itu benar-benar berharga banget. Nobody can replace you,” pungkas Fanny sambil meneteskan air mata.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.