Grid.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya fenomena astronomis Gerhana Bulan Sebagian yang akan berlangsung pada Jumat (28/8/2026). Bisakah dilihat langsung dari Indonesia?

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memberikan penjelasan tentang terjadinya Gerhana Bulan Sebagian tersebut.

Ia menyebut, saat fenomena gerhana terjadi, wilayah Indonesia sedang berada pada waktu pagi hingga siang hari. Sehingga posisi Bulan pada waktu itu berada di bawah ufuk, yakni di sisi Bumi yang membelakangi wilayah Indonesia.

Oleh karenanya, masyarakat Indonesia tidak bisa menyaksikan fenomena Gerhana Bulan Sebagian ini secara langsung. Pasalnya, posisi Indonesia berada di luar area visibilitas gerhana.

“Kondisi ini menyebabkan Gerhana Bulan Sebagian tidak terlihat dari wilayah Indonesia,” kata Ayu pada Rabu (26/7/2026), dikutip dari situs resmi BMKG.

Lebih lanjut, Ayu menjelaskan bahwa fenomena Gerhana Bulan Sebagian ini hanya dapat disaksikan oleh masyarakat yang berada di sebagian besar benua Amerika, Afrika, Eropa, serta wilayah Asia bagian Tengah dan Timur Tengah. Keseluruhan prosesnya diperkirakan memiliki total durasi selama 5 jam 38 menit.

Adapun fase terjadinya Gerhana Bulan Sebagian dimulai dengan Gerhana Penumbra Mulai (P1) pada 01.23.55 UT / 08.23.55 WIB (Kontak pertama Bulan dengan bayangan penumbra); Gerhana Sebagian Mulai (U1): 02.33.48 UT / 09.33.48 WIB (Kontak pertama Bulan dengan bayangan umbra);Puncak Gerhana (MID): 04.14.04 UT / 11.14.04 WIB; Gerhana Sebagian Berakhir (U4): 05.51.55 UT / 12.51.55 WIB (Kontak akhir Bulan dengan bayangan umbra); dan Gerhana Penumbra Berakhir (P4): 07.01.41 UT / 14.01.41 WIB (Kontak akhir Bulan dengan bayangan penumbra).

Seperti diketahui, Gerhana Bulan terjadi akibat pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan. Saat fase Bulan purnama, Bumi bergerak berada tepat di antara Matahari dan Bulan dalam posisi sejajar. Posisi ini menghalangi pancaran cahaya Matahari sehingga tidak semuanya sampai ke permukaan Bulan.

Nah, pada 28 Agustus 2026 mendatang, posisi sejajar tersebut membuat sebagian piringan Bulan masuk ke dalam bayangan umbra Bumi. Akibatnya, saat mencapai puncak gerhana, bagian Bulan yang terpapar bayangan umbra akan terlihat berwarna jauh lebih gelap.

Umbra sendiri merupakan bayangan inti di bagian tengah yang sangat gelap karena proyeksi bayangan Bumi menutup cahaya Matahari secara penuh. Sementara itu, Penumbra adalah bayangan kabur di bagian luar yang lebih terang karena bayangan Bumi hanya menutup sebagian cahaya Matahari.

Namun, jangan sedih! Masyarakat Indonesia masih punya kesempatan untuk menyaksikan fenomena Gerhana Bulan secara langsung. Dilansir situs NASA dan Time and Date pada Rabu (26/8/2026), Indonesia bakal kebagian ‘jatah’ melihat gerhana bulan mulai tahun 2027.

Fenomena terdekat akan terjadi pada 20 Februari 2027, yaitu fenomena gerhana bulan penumbra. Kemudian pada 2 Agustus 2027, terjadi gerhana matahari sebagian. Selanjutnya pada 17 Agustus 2027, masyarakat dapat menyaksikan gerhana bulan penumbra kembali.

Sementara pada tahun 2028, terdapat tiga fenomena astronomi, yakni gerhana bulan sebagian pada 6 Juli, gerhana matahari sebagian pada 22 Juli, dan gerhana bulan total pada 31 Desember 2028.

Akan tetapi, bagi masyarakat Indonesia yang tidak sabar menunggu sampai tahun depan, masih bisa menyaksikan fenomena Gerhana Bulan Sebagian pada 28 Agustus 2028 melalui siaran langsung kanal resmi NASA.

Berbeda dengan Gerhana Matahari, BMKG telah memastikan bahwa pengamatan Gerhana Bulan pada dasarnya sangat aman disaksikan secara langsung dengan mata.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.