TRIBUNNEWS.COM - Kebanyakan orang tua sering kali memberikan protein nabati seperti sayuran kepada anak dalam Makanan Pendamping ASI (MPASI).
Padahal, protein hewani lebih penting dibanding sayuran bagi tubuh anak.
Dokter Spesialis Anak di Mommies Premiere, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dr. Sandi Nugraha, Sp.A, Subsp.NPM(K), mengatakan penyerapan protein hewani lebih maksimal dibanding protein nabati.
"Anak sangat disarankan proteinnya hewani, karena di dalam protein hewani itu sebagian besar akan diserap, sebagian kecil dibuang," katanya saat hadir dalam podcast Momspiration di Studio 5 Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
"Berbeda dengan protein nabati. Protein nabati itu sebagian besar dibuang," jelasnya.
Dari pernyataan dr. Sandi menjelaskan mengapa saat anak makan sayur, sering kali sisa seratnya masih keluar utuh saat buang air besar.
Menurut Sandi, manusia diciptakan memakan segalanya, sedangkan di pencernaan tidak memiliki enzim untuk mencerna semuanya.
Selain itu, Sandi juga meluruskan kekhawatiran orang tua mengenai lemak dan kolesterol hewani.
"Otak anak itu sebagian besarnya terdiri dari lemak. Jadi untuk anak yang awal-awal atau pengenalan MPASI, tidak perlu memikirkan kolesterol dan sebagainya, tidak kayak orang tua," ungkap Sandi.
Menurut Sandi, pemberian protein hewani tidak harus mengandalkan bahan pangan impor mahal seperti ikan salmon.
Bahan pangan lokal justru sangat kaya gizi dan ramah kantong, seperti telur, ikan lokal, daging, dan ayam.
Baca juga: Studi: Kurangi Protein Tertentu Berpotensi Memperpanjang Umur, tapi Tak Berlaku untuk Semua Orang
Dalam pembahasannya, Sandi juga menyinggung perihal Gerakan Tutup Mulut (GTM) atau kesulitan makan pada anak.
Kesulitan makan pada anak, kata Sandi, menjadi sumber kecemasan utama bagi para orang tua.
Ketika anak menolak makan, kecukupan nutrisi harian anak terganggu dan risiko penurunan berat badan hingga kelainan tumbuh kembang menjadi ancaman.
Salah satu penyebab utama timbulnya GTM pada anak usia 6 bulan hingga 2–3 tahun adalah kegagalan membangun interaksi saat makan.
"Usia 6 bulan itu adalah usia di mana sebenarnya anak mulai bisa mendapatkan makan. Di usia 6 bulan bahkan mungkin sampai usia 2 sampai 3 tahun, kita menyebutnya feeding, bukan eating," terang dr. Sandi.
Menurut Sandi, eating adalah proses makan yang hanya melibatkan diri kita sendiri.
Sedangkan feeding adalah proses makan yang melibatkan interaksi antara anak dengan orang tua ataupun pengasuh.
"Gerakan tutup mulut ini banyak terjadi akibat ketidak-ikutsertaan seorang anak," kata Sandi.
Pada fase usia 6–8 bulan, secara perkembangan motorik anak memiliki dorongan untuk memasukkan benda atau makanan ke dalam mulutnya sendiri.
Sandi mengatakan, biarkan tangan anak memegang makanan untuk menstimulasi sensoriknya agar ia mengenal bentuk, tekstur, dan aroma makanan.
Baca juga: Protein Hewani Mengandung Asam Amino Esensial, Penting untuk Pertumbuhan Fisik Anak
Jika anak mengalami GTM berkelanjutan hingga berat badannya tidak naik sesuai target Kenaikan Berat Minimum (KBM) pada lembar KMS/Buku KIA, dr. Sandi menyarankan agar orang tua segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak.
Terdapat empat pilar skrining utama ketika anak GTM:
Sandi mengatakan, anak harus diperiksa riwayat prematuritas, Penyakit Jantung Bawaan (PJB), kelainan organ, infeksi TBC, hingga Anemia Defisiensi Zat Besi (ADB).
Kelimanya ini menurut Sandi terbukti menurunkan nafsu makan secara dramatis.
Sandi juga menyatakan, dokter juga perlu memeriksa status gizi ibu menyusui serta memastikan komposisi MPASI mengandung makronutrien lengkap.
Sehingga lanjut Sandi, komposisi MPASI yang diberikan bukan sekadar menu tunggal, melainkan harus mencakup karbohidrat, protein hewani, dan lemak.
Orang tua juga perlu menghentikan kebiasaan memberi makan dengan distraksi gawai.
Sebab, hal itu dapat membuat anak GTM. Orang tua, kata Sandi, perlu membangun proses makan secara sadar.
Sandi juga menyarankan agar adanya dukungan penuh dari suami atau ayah kepada ibu agar ibu tidak stres.
Lingkungan pengasuhan yang kondusif antara ibu, ayah, pengasuh, dan kakek atau nenek, sangat menentukan keberhasilan makan anak.
(Tribunnews.com/Whiesa)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.