Driver-nya adalah ketersediaan infrastruktur dan pasar yang pada akhirnya akan menentukan keekonomian proyek

Jakarta (ANTARA) - Praktisi migas Benny Lubiantara mengatakan optimalisasi gas domestik perlu dimulai dari penciptaan ekosistem yang mampu memberikan kepastian keekonomian bagi pengembangan lapangan dan investasi.


Benny dalam keterangan di Jakarta, Selasa, menilai ketersediaan sumber daya dan cadangan gas saja belum cukup apabila tidak didukung infrastruktur dan pasar yang memungkinkan gas diproduksi, disalurkan, dan diserap secara berkelanjutan.


"Driver-nya adalah ketersediaan infrastruktur dan pasar yang pada akhirnya akan menentukan keekonomian proyek," kata dia.



Untuk itu, kata dia, tren eksplorasi global saat ini juga semakin mempertimbangkan kedekatan prospek dengan infrastruktur yang sudah tersedia atau yang dapat dikembangkan secara ekonomis.






"Pendekatan infrastructure-led exploration menjadi salah satu strategi yang relevan untuk mempercepat monetisasi temuan gas," kata mantan Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) itu.

Menurut Benny, kepastian keekonomian juga menjadi semakin penting ketika eksplorasi diarahkan ke wilayah yang belum banyak dieksplorasi. Selain membutuhkan data dan infrastruktur, pengembangan wilayah tersebut memiliki tingkat risiko dan kebutuhan investasi yang lebih besar.

"Untuk mendorong eksplorasi secara masif, khususnya di wilayah unexplored basins, diperlukan terobosan fiskal dan kebijakan yang mampu meningkatkan keekonomian proyek. Fiskal memang bukan satu-satunya faktor," ujarnya.


Ia menilai kemudahan berusaha, kepastian regulasi, ketersediaan infrastruktur, dan prospek pasar juga sangat menentukan keputusan investasi.

Benny menambahkan kebijakan gas domestik juga perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen.



"Gas harus memiliki harga yang kompetitif bagi industri pengguna, tetapi pada saat yang sama memberikan keekonomian yang memadai bagi produsen dan investor. Tanpa keseimbangan tersebut, pengembangan lapangan baru dan investasi infrastruktur berisiko tertunda," katanya.


Sementara itu, praktisi migas lainnya Hadi Ismoyo mengatakan optimalisasi gas domestik membutuhkan infrastruktur yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pusat permintaan secara ekonomis dan andal.






Menurutnya, pembangunan infrastruktur perlu dirancang sebagai bagian dari satu rantai pasok, bukan berdiri sendiri tanpa memperhitungkan ketersediaan pasokan maupun kebutuhan pengguna akhir.


"Jaringan pipa tetap menjadi tulang punggung distribusi gas, tetapi untuk wilayah yang secara geografis maupun keekonomian belum memungkinkan dibangun jaringan pipa, CNG, mini LNG, LNG, dan fasilitas regasifikasi dapat menjadi alternatif. Yang penting, seluruh infrastruktur tersebut dirancang terintegrasi dengan sumber gas dan pasar pengguna," ujarnya.

Menurut Hadi, kepastian pasar merupakan faktor penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur dapat mencapai skala keekonomian yang dibutuhkan.


"Gas tidak cukup hanya ditemukan dan diproduksi. Gas harus dapat dimonetisasi dan sampai kepada pengguna dengan biaya yang kompetitif. Karena itu, kebijakan, investasi, infrastruktur, dan pasar harus bergerak dalam satu desain yang terintegrasi," ungkapnya.