nextren.com - Canva memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sektor pendidikan melalui Canva Code 2.0, fitur yang memungkinkan pengguna membuat situs web, kuis, permainan, formulir, hingga aplikasi interaktif hanya dengan perintah bahasa natural.
Di Indonesia, fitur ini mulai dimanfaatkan sejumlah guru untuk membuat perangkat belajar dan dashboard sekolah tanpa harus menguasai bahasa pemrograman.
Canva Code 2.0 tersedia untuk pengguna Canva Gratis, Pro, Business, Enterprise, dan Education. Pengguna cukup menjelaskan apa yang ingin dibuat melalui prompt, lalu AI menghasilkan pengalaman interaktif yang dapat disunting kembali melalui editor visual Canva.
Canva juga menyediakan lebih dari 50 template, dukungan impor HTML, tampilan responsif, serta opsi untuk memublikasikan hasilnya sebagai situs atau aplikasi web. Menurut Canva, proses generasi kode pada versi terbaru ini 75 persen lebih cepat, sementara median waktu dari prompt hingga publikasi turun 30 persen.
Vibe Coding Mulai Masuk ke Ruang Kelas
Konsep tersebut masuk dalam tren yang dikenal sebagai vibe coding, yakni membuat perangkat lunak dengan menjelaskan kebutuhan dalam bahasa sehari-hari kepada model AI, alih-alih menulis kode secara manual.
Istilah vibe coding dipopulerkan peneliti AI Andrej Karpathy pada Februari 2025. Pendekatan ini memungkinkan orang membuat perangkat lunak dengan bantuan AI meski tidak memahami seluruh kode yang dihasilkan.
Di Indonesia, Canva menyoroti pemanfaatan Code 2.0 oleh tiga guru sekolah dasar. Setia Wati menggunakan fitur tersebut untuk membuat dashboard interaktif yang membantu guru dan orang tua memantau rutinitas siswa dalam program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Dashboard yang awalnya digunakan di satu kelas kemudian diterapkan di seluruh sekolah dan telah mencatat lebih dari 2.200 data yang dikirim orang tua untuk sekitar 790 siswa.
Guru lain, Lise Setiani, menggunakan Canva Code 2.0 untuk mengubah latihan literasi dan numerasi yang sebelumnya dibuat secara manual menjadi aktivitas interaktif yang dapat digunakan di sekolah maupun di rumah.
Canva menyebut, pada awal tahun ajaran hanya satu dari 25 siswa di kelas Lise yang mampu membaca dan berhitung secara mandiri. Pada akhir tahun ajaran, 21 siswa telah mengembangkan kemampuan tersebut setelah mengikuti latihan rutin menggunakan aktivitas interaktif ciptaan Lise.

Data tersebut merupakan laporan Canva dan tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung karena tidak disertai metodologi penelitian atau kelompok pembanding.
"Canva Code 2.0 sangat membantu saya dalam proses pembelajaran, karena memungkinkan saya mewujudkan berbagai ide menjadi materi pembelajaran interaktif tanpa harus memiliki kemampuan coding," ujar Lise dalam keterangan resmi Canva.
Sementara itu, Rijki Ramdani membangun pusat pembelajaran digital yang menyatukan absensi, laporan perkembangan siswa, permainan edukatif, dan materi pembelajaran dalam satu platform. Layanan tersebut digunakan siswa, orang tua, guru, serta pihak sekolah.
Guru Bisa Membuat Perangkat Digital Sendiri
Pemanfaatan Canva Code di Indonesia menjadi bagian dari tren yang lebih luas. Canva mengklaim lebih dari enam juta situs telah dibuat menggunakan Canva Code sejak fitur tersebut pertama diperkenalkan.
Secara global, pendidik juga memakai fitur ini untuk membuat halaman kelas, formulir, hingga permainan pendidikan. Canva saat ini mencatat lebih dari 265 juta pengguna bulanan.
Bagi sekolah, kemunculan alat seperti Canva Code berpotensi mengubah posisi guru dari sekadar pengguna aplikasi pendidikan menjadi pembuat perangkat digital yang disesuaikan dengan kebutuhan kelas.
Guru tidak lagi harus menunggu pengembang untuk membuat kuis, dashboard, atau portal sederhana. Hambatan teknis berkurang karena kebutuhan dapat dijelaskan melalui bahasa natural, sedangkan tampilan dan konten hasilnya tetap dapat disunting secara visual.
Namun, kemudahan tersebut tidak menghilangkan kebutuhan akan pengawasan. Aplikasi yang dibuat AI tetap berpotensi mengandung bug atau kesalahan logika, terlebih jika digunakan untuk mengolah informasi siswa. Canva menyatakan konten siswa pada Canva Education tidak digunakan untuk meningkatkan fitur AI dan perusahaan tidak menjual data siswa.
Canva Code 2.0 menunjukkan bahwa vibe coding mulai bergerak keluar dari lingkungan developer dan startup menuju pengguna umum, termasuk guru. Ketika pendidik dapat mengubah ide pembelajaran menjadi aplikasi sendiri, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat teknologi lebih mudah diakses, tetapi memastikan teknologi tersebut aman, efektif, dan benar-benar menjawab kebutuhan siswa.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.