TRIBUNJAKARTA.COM -  IPB University menjadi tuan rumah STABLE Summer School 2026, sebuah program sekolah musim panas internasional bertema “Building Resilience Highland to Ocean (H2O): The Role of Nature-Based Solutions in Supporting a Sustainable Blue Economy.” 

Program ini dirancang untuk memperkuat kolaborasi akademik dan penelitian internasional dalam mendukung pengembangan ekonomi biru berkelanjutan. 

Kegiatan ini diikuti oleh 26 peserta yang berasal dari Indonesia, Jerman, Belanda, Malaysia, Myanmar, Uganda, dan Kenya.

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Beginer Subhan, mengatakan bahwa program tersebut mempertemukan mahasiswa, dosen, dan pakar dari berbagai institusi untuk mempelajari pengelolaan sumber daya perairan darat, pesisir, dan laut secara berkelanjutan di Indonesia.

“Melalui pendekatan lintas disiplin, peserta akan memperoleh wawasan mengenai pengelolaan risiko pesisir dan kelautan, solusi berbasis alam, serta praktik ekonomi biru yang relevan dengan tantangan global saat ini. Salah satu lokasi pembelajaran lapangan berada di Demak, Jawa Tengah,” ujar Beginer dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/7/2026).

Guru Besar sekaligus Ketua Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP) FPIK IPB University, Prof. Hefni Effendi, menjelaskan bahwa STABLE Summer School 2026 bertujuan memperkuat kerja sama akademik dan riset internasional.

“Program ini secara khusus membekali peserta dengan pemahaman mengenai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut, serta menonjolkan kearifan lokal Indonesia sebagai perspektif penting dalam memahami ekonomi biru,” terang Prof. Hefni.

Menurut Prof. Hefni, STABLE Summer School tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga wadah untuk membangun jejaring penelitian internasional yang berkelanjutan.

Pembelajaran Lapangan di Demak

Kabupaten Demak menjadi salah satu lokasi kunjungan lapangan dalam Inisiatif Building with Nature Indonesia, sebuah program pemulihan hutan mangrove yang bertujuan mengatasi hilangnya garis pantai akibat erosi, penurunan muka tanah, dan alih fungsi mangrove menjadi tambak budidaya.

Koordinator Program Pesisir dan Delta Wetlands International Indonesia, Aji Nuralam Dwisutono, menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang diterapkan untuk mengurangi erosi di pesisir Demak adalah pembangunan struktur permeabel. 

Struktur tersebut berfungsi memulihkan proses pengendapan sedimen sehingga memungkinkan mangrove tumbuh kembali secara alami di sepanjang sekitar 20 kilometer garis pantai.

“Kami juga menggunakan teknologi Associated Mangrove Aquaculture (AMA) atau Budidaya Mangrove Terpadu, yaitu membangun zona penyangga mangrove di luar batas tambak. Caranya dengan membuat dua baris tanggul sejajar dengan tepi sungai yang dilengkapi pintu air untuk mengatur aliran air dan mendorong pengendapan sedimen di antara kedua tanggul,” jelas Aji.

Aji menambahkan melalui pembelajaran lapangan ini, peserta STABLE Summer School 2026 diharapkan memperoleh pemahaman langsung mengenai penerapan solusi berbasis alam dalam pemulihan ekosistem pesisir, sekaligus melihat keterkaitannya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.

Ketua Kelompok Onggojoyo sekaligus petambak, Maskur, mengatakan bahwa penerapan teknologi AMA di tambaknya memberikan dampak positif terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga dan keberlanjutan usaha anggota kelompok.

“Uji coba budidaya kepiting berkelanjutan di Kelompok Onggojoyo Jaya menghasilkan penjualan sebanyak 51,5 kilogram kepiting dengan laba kotor sebesar Rp3.015.000 selama dua bulan. Hal ini menunjukkan bahwa budidaya kepiting layak menjadi salah satu pilihan mata pencaharian masyarakat,” ujar Maskur.

Maskur menambahkan bahwa sejak sistem AMA diterapkan, keberadaan mangrove membantu menjaga kualitas air, menyediakan habitat perlindungan, serta menjadi sumber pakan alami bagi biota tambak. Kondisi tersebut turut meningkatkan produktivitas budidaya perairan di tambak.

“Hasilnya langsung kami rasakan. Pemasaran hasil budidaya juga semakin lancar, sehingga masyarakat di Demak sangat terbantu,” tegasnya.

Berita Lainnya

  • Baca juga: World Habitat Day 2025, 1.000 Bibit Mangrove Ditanam di Pesisir Kepulauan Seribu

  • Baca juga: Hadiri Penyerahan World Habitat Award, Anies Harap Kampung Susun Akuarium Bisa Beri Inspirasi Dunia

  • Baca juga: Teluk Jakarta Jadi Lokasi Transit 3 Jenis Burung yang Terancam Punah, Perlu Perlindungan Habitat

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.