Jakarta -
Generasi Z (Gen Z) tercatat mengonsumsi camilan hampir 2 kali lebih banyak dibandingkan generasi baby boomer. Temuan ini membuka temuan soal pola makan baru yang digemari Gen Z.
Temuan tersebut berasal dari survei terhadap 2.000 orang yang dilakukan European Mushrooms dan dilaporkan oleh SWNS. Rata-rata responden dari Gen Z (1997-2002) mengonsumsi 81 camilan setiap bulan, sedangkan baby boomer (1946-1964) hanya sekitar 45 camilan.
Hasil ini menunjukkan perubahan pola makan, terutama di kalangan anak muda yang semakin mengutamakan kepraktisan dibandingkan jadwal makan utama seperti sarapan, makan siang, dan makan malam.
. Foto: Ilustrasi iStock |
Dilansir dari Fox News (09/07/2026), survei tersebut juga menemukan bahwa 8 dari 10 responden Gen Z mengaku mengonsumsi makanan ringan seperti keripik, biskuit, dan cokelat setiap minggu.
Namun, kebiasaan tersebut tidak selalu memberikan dampak positif. Banyak responden Gen Z melaporkan tubuh mereka merasa lesu, perut kembung, atau kelelahan setelah mengonsumsi camilan.
Dari mereka yang merasakan efek negatif, sebanyak 91% mengaku mengalami penurunan energi secara tiba-tiba. Kondisi ini umumnya terjadi sekitar pukul 15.06, ketika rasa lelah, bosan, dan rendah energi mendorong seseorang kembali mencari camilan.
Ahli pangan asal California, Darin Detwiler, menilai perubahan ini mencerminkan bergesernya definisi makan.
Menurut Detwiler, banyak anak muda kini tidak lagi mengatur aktivitas harian berdasarkan waktu makan tradisional yaitu sarapan, makan siang dan makan malam. Sebagai gantinya, anak-anak muda lebih suka ngemil protein bar, smoothie, makanan beku, hingga makanan kemasan semakin sering dijadikan pengganti makan utama.
"Pertanyaan yang sebenarnya, bukan apakah Gen Z lebih sering ngemil, melainkan apakah camilan tersebut menambah asupan gizi atau justru menggantikan asupan gizi?" ujar Darin.
plate of Japanese gyoza, dumplings snack , with soy sauce Foto: Istock |
Hasil survei menunjukkan 41% responden Gen Z lebih memilih camilan dibandingkan makanan lengkap, sementara pada seluruh responden angkanya mencapai 31%. Lebih dari sepertiga responden juga mengaku mempunyai jenis camilan yang dinantikan sepanjang hari.
Di sisi lain, banyak responden menyatakan ingin memiliki pilihan camilan yang lebih sehat. Ahli gizi asal Inggris, Carrie Ruxton, mengatakan pemilihan waktu dan jenis camilan yang tepat dapat membantu mencegah penurunan energi pada sore hari.
"Mengonsumsi camilan dengan cermat dapat membantu menstabilkan energi dan mencegah penurunan tersebut," katanya.
Menurut Ruxton, tujuan utamanya bukan menghentikan kebiasaan ngemil, melainkan memilih camilan yang mampu memberikan energi lebih tahan lama sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.

