Grid.ID – Sebagai salah satu motor penggerak dalam Komite Festival Film Indonesia (FFI) selama tiga tahun terakhir, Prilly Latuconsina semakin dewasa dalam menyikapi ekspektasi publik. Menjelang perhelatan FFI 2026, aktris berusia 29 tahun ini menegaskan kesiapan komite dalam menerima segala bentuk kritik dan masukan dari masyarakat.

Ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026), Prilly mengungkapkan bahwa menjalankan ajang sebesar FFI bukanlah perkara mudah. Namun, ia memilih untuk menghadapinya dengan pikiran terbuka.

"Semua itu akan ringan kalau kita menjalankannya dengan hati yang lapang gitu ya. Pasti menjalankan sebuah acara enggak luput dari kritik dan masukan," ujar Prilly Latuconsina.

Kritik sebagai Bentuk Kasih Sayang

Bagi Prilly, ramainya kritik yang sering dialamatkan kepada FFI, mulai dari sistem penjurian hingga pemilihan pemenang, bukanlah hal yang negatif. Sebaliknya, ia melihat hal tersebut sebagai bukti bahwa masyarakat sangat peduli dengan masa depan sinema Indonesia.

"Aku melihatnya kritikan masukan itu karena orang-orang itu sayang sama industri filmnya. Jadi pengen FFI itu memberikan yang terbaik dan bisa menjadi wadah untuk semua orang," lanjutnya.

Kekasih Omara Esthegal itu menjelaskan bahwa tugas utama komite saat ini adalah menjadi pendengar yang baik bagi para pelaku industri dan pencinta film.

Meski terbuka terhadap saran, Prilly mengakui bahwa komite harus melakukan filtrasi yang ketat. Menurutnya, tidak semua keinginan publik bisa langsung diwujudkan karena adanya batasan realita di lapangan.

"Tugasnya komite di dalam FFI adalah mendengarkan, mendengarkan, dan reality check. Banyak saran tapi belum tentu bisa dilakukan gitu kan. Nah, jadi apa yang bisa dilakukan, apa yang bisa membuat FFI lebih baik lagi dan itu sesuai sama realita, pasti sebisa mungkin kita akan tampung," jelas bintang film Budi Pekerti tersebut.

Prilly membeberkan bahwa setiap hari komite yang dipimpin oleh Ario Bayu selalu melakukan diskusi dan evaluasi. Tahun ini, FFI bahkan melakukan beberapa perubahan signifikan, termasuk pada sistem penjurian dan program-program tambahan.

"Setiap harinya komite selalu berdiskusi, selalu mengevaluasi. Dari penjurian juga ada perubahan tahun ini, itu kan juga merupakan perkembangan dan evaluasi dari kita semuanya. Program juga kita evaluasi lagi, kira-kira apa lagi yang bisa lebih baik dari tahun lalu," tambahnya.

Menutup pembicaraan, Prilly menekankan bahwa posisi komite bukanlah sebagai penguasa panggung, melainkan pelayan bagi ekosistem perfilman Indonesia. Pemilihan Duta FFI seperti Morgan Oey dan Nirina Zubir tahun ini pun menjadi bagian dari strategi untuk merangkul lebih banyak lapisan masyarakat.

"Tugas kita di sini adalah melayani industrinya dan memberikan yang terbaik. Kita ingin FFI 2026 ini terus mendorong dan mendukung ekosistem perfilman kita agar semakin solid," pungkasnya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.