Jakarta (ANTARA) - Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia akan menyelenggarakan Festival Raksha Loka pada 22–23 Mei 2026 mendatang di M-Bloc Space, Jakarta Selatan, untuk mengangkat aksi komunitas dalam menjaga lingkungan.
GEF Focal Point Indonesia Erik Teguh Primiantoro menegaskan, program ini tidak hanya berbicara tentang pelestarian lingkungan, tetapi juga mendorong lahirnya ekonomi baru berbasis konservasi karena dana hibah yang diberikan kepada masyarakat harus menjadi pemicu kolaborasi dan inovasi, bukan sekadar bantuan sesaat.
"Kalau kita bicara lingkungan hanya romantisme, masyarakat akan lapar. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan harus mampu menciptakan ekonomi baru yang membuat masyarakat merasa memiliki dan menjaga alamnya sendiri," ujar Erik di Jakarta, Rabu.
Mengusung tema "Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan" dalam festival ini, GEF SGP Indonesia ingin menunjukkan bahwa komunitas lokal memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus menciptakan solusi ekonomi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Erik mencontohkan berbagai praktik kreatif yang telah dilakukan masyarakat, seperti wisata edukasi penanaman mangrove di wilayah pesisir hingga transplantasi terumbu karang berbasis wisata selam di Bali. Melalui pendekatan tersebut, kegiatan konservasi tidak lagi menjadi beban biaya semata, tetapi mampu menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal sekaligus mendukung restorasi lingkungan.
Sementara itu, Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala menjelaskan, program ini juga memiliki strategi keberlanjutan melalui skema pendanaan lanjutan bagi komunitas yang dinilai berhasil mengembangkan programnya, salah satunya melalui program Bantuan Usaha Melalui Investasi (BUMI) yang memungkinkan kelompok masyarakat memperoleh dukungan tambahan untuk meningkatkan kapasitas usaha berbasis lingkungan.
"Program ini tidak berhenti setelah hibah selesai. Kami punya strategi keberlanjutan agar kelompok masyarakat bisa naik kelas dan terus berkembang," kata Sidi.
Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL) Yani Witjaksono menambahkan, berbagai komunitas dampingan telah membuktikan bagaimana potensi sumber daya alam lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi, mulai dari pengolahan madu hutan, pengembangan hasil laut, hingga penguatan koperasi nelayan berbasis energi terbarukan.
Sementara itu, Anggota Panitia Pengarah GEF SGP Indonesia Latipah Hendrarti mengemukakan, pelajar dan anak muda akan diajak mengenal empat bentang alam dampingan GEF SGP Indonesia melalui kegiatan edukatif dan interaktif.
"Anak muda perlu melihat langsung bahwa mereka bagian dari ekosistem. Oleh karena itu, pendekatan pendidikan lingkungan harus terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari dan konteks lokal masyarakat," ujar Latipah.
GEF SGP Indonesia merupakan program hibah lingkungan berskala kecil yang didukung oleh Global Environment Facility (GEF), diimplementasikan oleh United Nations Development Programme (UNDP), dan dilaksanakan secara nasional oleh Yayasan Bina Usaha Lingkungan (YBUL).
Program ini fokus pada pemberdayaan kelompok masyarakat akar rumput dan organisasi masyarakat sipil dalam isu konservasi keanekaragaman hayati, perubahan iklim, pengelolaan hutan berkelanjutan, hingga perlindungan wilayah pesisir dan perairan melalui pendekatan empat bentang alam, yakni Daerah Aliran Sungai (DAS) Bodri di Jawa Tengah, DAS Balangtieng di Sulawesi Selatan, kawasan Nantu dan Tahura di Gorontalo, serta Pulau Sabu Raijua di Nusa Tenggara Timur.
Selama Fase Operasional ke-7, GEF SGP Indonesia telah menyalurkan lebih dari USD 2,8 juta dana hibah dan melibatkan lebih dari 80 mitra aktif dari unsur komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi.