Sejarah bus ALS diawali pada 1966. Awalnya penyedia jasa penyewaan truk untuk mengangkut hasil panen lalu bertransformasi menjadi perusahaan otobus.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Terjadi kecelakaan maut di Jalan Lintas Sumatera di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, pada Rabu, 6 Mei 2026. Insiden ini melibatkan Bus ALS dan truk tangki yang mengakibatkan 16 orang meninggal dunia.

Dalam dua tahun terakhir, setidaknya sudah empat kali bus ALS terlibat dalam kecelakaan. Sebelum kecelakaan Musi Rawas, raja Sumatera ini terlibat dalam kecelakaan di Padang Pariaman pada 7 September 2025, kecelakaan Padang Panjang pada 6 Mei 2025, dan kecelakaan Tapanuli Utara pada 10 Agustus 2025.

Terlepas dari itu, bus ALS tetap menjadi moda transportasi andalan di sepanjang jalur Sumatera.

Sejarah bus ALS

Sebelum ke sejarah, kita bahas dulu kecelakaan di Musi Rawas Utara. Menurut Kepala Bidang Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, mengonfirmasi bahwa kecelakaan tersebut menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.

“Tim kami sedang di lapangan bersama Satlantas untuk proses evakuasi. Laporan sementara ada 16 korban jiwa yang sudah teridentifikasi meninggal dunia,” katanya, sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Menurut data awal yang dihimpun di lapangan, peristiwa terjadi sekitar pukul 12.39 WIB. Korban terdiri atas 14 penumpang bus ALS, 1 sopir truk tangki, dan 1 kenek truk tangki.

Selain itu, ada juga korban luka-luka berat yang jumlahnya empat orang. “Yang selamat ada empat orang, yang tiga luka bakar serius dan satu orang luka ringan,” ujar Mugono.

Insiden berawal ketika bus ALS melaju dari arah Lubuklinggau menuju Medan atau Pekanbaru. Saat melintas di wilayah Kecamatan Karang Jaya, bus diduga mengalami gangguan yang ditandai dengan munculnya percikan api dari bagian kendaraan.

Untuk menghindari risiko yang lebih besar, sopir bus berusaha mengarahkan kendaraan ke sisi kanan jalan. Namun, pada saat bersamaan, dari arah berlawanan datang truk tangki dengan kecepatan tinggi.

Tabrakan frontal pun tidak dapat dihindarkan. Benturan keras menyebabkan kedua kendaraan mengalami kerusakan parah dan banyak penumpang terjebak di dalam kabin.

Tim BPBD Muratara bersama Satlantas segera melakukan evakuasi terhadap korban, terutama yang terjepit di dalam kendaraan.

PO Antar Lintas Sumatera (ALS) adalah perusahaan otobus legendaris Indonesia, khususnya di Sumatera, yang sudah ada sejak 1966 lalu. Perusahaan ini didirikan oleh Haji Sati Lubis, yang awalnya merupakan pedagang hasil pertanian.

Awalnya, perusahaan transportasi ini adalah penyedia jasa truk untuk mengangkut hasil panen yang kemudian juga digunakan untuk mengangkut penumpang. Melihat tingginya kebutuhan transportasi, ia kemudian beralih menggunakan bus untuk melayani penumpang secara lebih layak.

Awalnya ALS hanya melayani rute pendek seperti Medan–Kotanopan. Tapi seiring berjalannya waktu, rutenya berkembang hingga menjangkau berbagai kota di Sumatera dan Jawa.

Sejak 1970-an, ALS menjadi pelopor trayek panjang Medan–Jakarta, bahkan hingga ke Jember, dengan waktu tempuh mencapai 3 hingga 4 hari. Saat ini, ALS dikelola oleh generasi kedua keluarga pendirinya, dengan manajemen dipimpin oleh Chandra Lubis.

Yang unik, dalam sistem operasional ALS armada bus tidak sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan pusat. Tapi oleh mitra atau individu yang bekerja sama di bawah nama ALS, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Kepemilikan armada biasanya dapat dikenali dari nomor tertentu pada badan bus, yang menunjukkan pemilik unit tersebut – yang biasanya disebut dengan istilah “nomor pintu”.

Angka terakhir dari “nomor pintu” menjadi penanda siapa yang memiliki armada tersebut. Misalnya, angka 1 milik keluarga Sati Lubis (Direktur Utama pertama ALS), angka 3 milik keluarga Rasyad Nasution, angka 5 milik keluarga Japarkayo Hasibuan, angka 7 milik keluarga Muhammad Arif Lubis, angka 8 milik keluarga Abdul Wahab Lubis dan Hasbullah Lubis, angka 9 dan 0 milik keluarga Nursewan Lubis dan Rangkuti, dan lain sebagainya.

Nah jika kamu kebetulan melihat ada bus ALS dengan nomor pintu 313, artinya armada itu milik keluarga Rasyad Nasution.

Saat ini, bus ALS menggunakan berbagai jenis karoseri seperti Adiputro, Laksana, dan Morodadi Prima. Dan didukung mesin dari merek ternama seperti Mercedes-Benz, Hino, dan Scania.

Tak hanya Raja Sumatera, ALS juga dikenal sebagai Raja Jalanan karena reputasinya. Kantor pusat perusahaan otobus ini berada di Kota Medan, yang sekaligus menjadi titik awal keberangkatan bus mereka.

Sebagaimana disebut di awal, pada awal-awal, ALS hanya melayani rute Medan-Kotanopan yang ada di Kabupaten Mandailing Natal. Di Kotanopan juga perusahaan ini didirikan.

Setelah itu, menyusul rute Medan-Bukittinggi. Rute ini menandai transformasi ALS dari perusahaan otobus lokal menjadi perusahaan otobus skala Sumatera bagian utara dan barat.

Langkah besar terjadi pada 1972 ketika ALS membuka trayek baru ke kota-kota besar di seluruh Sumatera. Ada rute ke Banda Aceh, ada rute ke Padang, ada rute ke Pekanbaru, ada rute ke Jambi, ada rute ke Bengkulu, Palembang, hingga Bandar Lampung di Sumatera bagian selatan.

Pada dekade itu, meskipun belum ada kendaraan darat yang bisa menyeberang ke Pulau Jawa karena keterbatasan moda transportasi laut, ALS sudah berani membuka trayek ke pulau tetangganya itu.

Caranya, ALS memanfaatkan jasa agen yang mengurus pemberangkatan penumpang dari Pelabuhan Merak dengan menggunakan kendaraan lain menuju kota tujuan di Pulau Jawa.

Baru pada 1980-an, ketika penyeberangan feri ro-ro sudah memungkinkan kendaraan darat menyeberang ke seberang pulau, ALS membuka trayek langsung ke Jawa. Di antaranya ke Jakarta, ke Bandung, ke Semarang, ke Yogyakarta, dan ke Surabaya.

Menyusul kemudian ke Malang dan ke Jember (sebagai informasi, trayek ASL dari Medan ke Jember menjadi trayek transportasi darat terpanjang di Indonesia dengan panjang 2.800 hingga 3.100 km dengan waktu tempuh sekitar 5 hari hingga 1 minggu).

ALS juga sempat membuka trayek ke Bali tapi pada 2003 trayek itu ditutup karena pertimbangan waktu tempuh yang sangat panjang. Selain itu, mesin bus juga disebut belum terlalu mendukung.

“Naik sebagai penumpang, turun sebagai saudara”

Ada jargon populer di kalangan para pengguna bus ALS, yaitu “naik sebagai penumpang, turun sebagai saudara”. Jargon itu ada karena pengalaman perjalanan yang begitu panjang dan lama yang memungkinkan para penumpang juga kru bus saling mengenal satu dengan yang lain.

Dari situ juga lahirlah apa yang dikenal sebagai ALS Mania, wadah atau komunitas penggemar dan pengguna bus ALS. Anggotanya sudah ratusan ribu, yang sebagian besar tersebar di media sosial Facebook. Praktis yang bisa menyaingi besarnya anggota ALS Mania adalah Haryanto Mania, komunitas penggemar dan pengguna bus Haryanto.

Di luar itu semua, kita berharap supaya tidak terjadi lagi kecelakaan fatal yang melibatkan tak hanya bus tapi juga moda transportasi lainnya. Bagaimanapun juga, tujuan semua orang bepergian adalah pulang dan bertemu keluarga dengan rasa bahagia.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.