SUPERBALL.ID - Surat kabar Malaysia, New Straits Times, memperingatkan bahwa sepak bola Malaysia seharusnya tidak terus-menerus menaturalisasi pemain.
Dalam laporan tersebut, Malaysia diminta fokus pada pengembangan bakat dan pelatihan pemain muda dalam negeri.
Sepak bola Malaysia sedang mengalami krisis serius menyusul skandal naturalisasi ilegal tujuh pemain keturunan Eropa dan Amerika.
Akibat kasus tersebut, tim Harimau Malaya gagal lolos ke putaran final Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
Sebelumnya, Timnas Malaysia berhasil menyapu bersih lima pertandingan awal dengan kemenangan.
Namun, tim besutan Peter Cklamovski itu harus menerima kenyataan pahit, mendapatkan sanksi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
AFC memutuskan untuk 'menganulir' dua kemenangan Malaysia atas Nepal (2-0) dan Vietnam (4-0) karena menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat.
Timnas Malaysia juga dinyatakan kalah 0-3 oleh AFC untuk kedua pertandingan tersebut.
Dengan pengurangan enam poin tersebut, Malaysia pun dipastikan gagal lolos ke Piala Asia 2027.
Penderitaan semakin berlanjut ketika mereka kalah 1-3 dari Vietnam di laga terakhir, yang membuat ranking FIFA terus merosot.
Alih-alih belajar dari pengalaman ini, muncul laporan bahwa Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) mungkin akan terus merekrut pemain naturalisasi untuk kesuksesan jangka pendek.
Hal itu memicu peringatan dari para pakar dan media lokal tentang konsekuensi jangka panjangnya.
New Straits Times berpendapat bahwa terus menaturalisasi pemain hanya untuk mengalahkan rival di kawasan (Asia Tenggara) adalah sebuah kesalahan.
Menurut mereka, sepak bola Malaysia perlu fokus pada reformasi fondasinya, mulai dari liga profesional nasional hingga pengembangan pemain muda, alih-alih mencari solusi cepat dengan pemain naturalisasi.
"Reformasi komprehensif Asosiasi Sepak Bola Malaysia dapat membawa lebih banyak manfaat daripada merekrut lebih banyak striker asing," kata surat kabar itu.
Surat kabar itu juga membandingkan negara-negara sepak bola terkemuka di Asia seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana kesuksesan berakar dari fondasi yang kokoh, sistem pelatihan yang terstruktur dengan baik, dan program sepak bola sekolah yang berkembang.
Jepang, meskipun tidak dikenal karena kekuatan fisiknya, telah mengubah keahlian teknis menjadi senjata ampuh.
Hal itu memungkinkan para pemainnya untuk unggul secara taktis dan profesional, yang berujung pada kemenangan melawan tim-tim besar seperti Jerman, Brasil, dan Inggris.
Sebaliknya, New Straits Times menekankan bahwa sepak bola Malaysia masih berjuang untuk menemukan identitasnya.
Kualitas liga domestik menurun, program pelatihan pemain muda tidak efektif, dan masuknya pemain naturalisasi memaksa pemain lokal untuk duduk di bangku cadangan.
Ketika tim nasional berkumpul, banyak pemain lokal dipanggil untuk memikul tanggung jawab mencapai hasil yang bagus tetapi kurang pengalaman, sehingga menciptakan ketergantungan yang berbahaya pada pemain asing.
Surat kabar itu juga menunjukkan bahwa mengembangkan kekuatan domestik tidak akan memberikan hasil instan, tetapi merupakan jalan yang berkelanjutan.
"Jepang dapat membentuk tim Piala Dunia dengan semua pemainnya yang saat ini bermain di Eropa," tulis laporan tersebut.
"Malaysia tidak perlu mengambil jalan pintas melalui naturalisasi, Malaysia harus melepaskan diri dari ketergantungan dan mengembangkan identitasnya sendiri."
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.