BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak mau rujuk pada DJ Nathalie Holscher, komedian Sule kini mulai merencanakan menikah lagi.
Kini, Sule sudah tiga tahun terakhir menjalin hubungan dengan Santyka Fauziah.
Bahkan, hubungan mereka telah mendapat restu dari anak-anaknya. Sule pun menyinggung soal pernikahan tahun depan.
Setelah resmi bercerai dari Nathalie Holscher pada Agustus 2022 silam, Sule sempat jomblo dan akhirnya dikabarkan berpacaran dengan Santyka Fauziah.
Lama tak mengunggah kebersamaan di media sosial, Sule dan Santyka sempat dikabarkan putus hubungan.
Namun rupanya, hubungan itu tetap berlanjut meski mereka tak gembar-gembor di media sosial.
Tak disangka, diam-diam Sule dan Santyka sudah menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya.
Baca juga: Mau Nikahi Santyka Fauziah, Sule Malah Diminta Rujuk pada Nathalie Holscher, Mencuat Gegara Adzam
Sebelumnya, Sule sempat dikabarkan akan segera menikah lagi, namun hal itu belum terjadi karena Sule belum mendapatkan restu dari anak-anaknya, bahkan dari menantunya, Mahalini.
Dalam sebuah acara, Mahalini terang-terangan melarang ayah mertuanya untuk menikah lagi.
Namun, larangan itu rupanya luruh ketika momen Idulfitri kemarin.
Sule sudah mendapatkan lampu hijau dari anak-anaknya untuk menikah lagi.
“Kata Lini ayah boleh nikah tahun depan, kata Putri juga ayah boleh nikah tahun depan,” ujar Sule saat menjadi bintang tamu acara Pagi Pagi Ambyar TransTV, Senin (30/3/2026).
Restu sudah dikantongi, namun Sule mengaku malah tak ingin terburu-buru.
Sebaliknya, ia memilih untuk menjalani hubungannya dengan Santyka sesantai mungkin.
Meski begitu, rencana menikah akan tetap ada.
“Sudah tiga tahun (pacaran), ngalir aja lah, tahun depan kita lihat saja nanti, ya rencana (nikah) pasti ada lah. Nunggu tanah yang di Bogor laku,” canda Sule.
“Bukan belum yakin, pasangan yang baik itu bukan dicari tapi dibentuk, kita harus bentuk semuanya, kita gak sempurna, tapi saling menyempurnakan, kan tiga tahun kemarin itu penyamaan karakter, belajar karakter,” katanya.
Sule dan Santyka memiliki perbedaan latar belakang status pernikahan, Sule yang berusia 49 tahun sudah pernah melewati dua kali kegagalan pernikahan.
Sementara itu, Santyka yang baru berusia 32 tahun, sama sekali belum pernah menikah.
Terkait hal itu, Sule mengaku sama sekali tak mempermasalahkan.
Begitu pula dengan Santyka, perempuan asal Sumedang itu juga disebut-sebut santai dengan sejarah status pernikahan Sule.
“Dia belum pernah menikah,” sahut Sule.
“Ya dari keluarga nanya, ‘kamu mau sampai kapan sendiri? Harus ada target’, doain saja lah yang terbaik,” ujar Sule.
“Kalau kepastian (nikah) sudah 40 persen ada, menuju 50 persen, habis itu 60 persen, sudah ada (kepastian) tapi namanya kita manusia emosional manusia berubah-ubah, ini proses meyakinkan dianya,” ujar Sule.
Dua kali gagal berumah tangga sudah lebih dari cukup bagi Sule.
Makanya, ia menyebut jika Santyka adalah pelabuhan terakhirnya.
Ia tak ingin memaksakan pernikahan kepada Santyka, pun mengamini jika perempuan itu mau diajak ke pelaminan.
“Kayaknya enggak deh (buka hati lagi). Kalau saya serius, saya sih sama ini (Santyka) pelabuhan terakhir,” tegas Sule.
“Kalau dia gak mau (nikah), ya saya jalani sendiri, saya kan capek kalau dari awal lagi. Ya sudah kita jalani gini aja, kalau Santyka gak mau (nikah), ya sudah,” katanya.
“Ya dijalanin saja dulu, tahun depan, tahun depannya lagi ya saya gak tau.”
Hubungan Sule dengan mantan istrinya, Nathalie Holscher, jauh lebih baik pasca mereka berdua bercerai.
Mereka menjalani co-parenting dengan santai demi sang buah hati, Azam.
Rupanya, kekompakan Sule dengan Nathalie itu membuat banyak penggemar mereka baper.
Tak jarang Sule diminta untuk rujuk dengan Nathalie, apalagi hubungan Sule dan Santyka belum terlihat ujungnya.
Namun, meski berkali-kali diminta netizen untuk rujuk dengan Nathalie, Sule menolak. Menurut Sule, ia dan Nathalie bisa memiliki hubungan baik ketika bercerai dan menjadi orangtua untuk Azam.
“Kalau akur kan kita sudah bestie, kalau rujuk kan rujuk bukan karena anak, tapi hati dan kitanya mau atau enggak,” kata Sule.
“Karena kalau kita cuma melihat karena anak, tapi satu sama lain saling menyakiti, ya buat apa. Kan netizen gak tau apa yang kita rasakan,” katanya.
“Bukan bicara soal ego, kalau Tuhan tak hendaki kita bersama, ya bagaimana, ya kini tentang kebahagiaan aja,” tegas Sule.
Keputusan sepasang mantan suami istri untuk rujuk sering kali dianggap sebagai akhir yang bahagia.
Namun, memulai kembali lembaran yang sempat robek menyimpan tantangan emosional yang jauh lebih kompleks dibandingkan saat pertama kali menikah. Banyak pasangan berharap, dengan bersatunya kembali ikatan pernikahan, segala rasa sakit dan konflik di masa lalu akan sirna begitu saja.
Padahal, setiap luka yang pernah tercipta meninggalkan bekas yang akan memengaruhi dinamika hubungan ke depannya.
Pendiri layanan kesehatan mental Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog mengatakan, kondisi psikologis keduanya tidak akan pernah benar-benar kembali ke titik nol atau sama persis seperti sebelum badai perceraian menerjang.
"Tentunya tidak, karena hubungan tersebut seperti kertas yang sudah kita remas. Lalu, ketika kita buka kertas itu kembali, sudah tidak rapi seperti sebelumnya," tutur dia saat dihubungi pada Senin (2/3/2026).
Membangun hubungan baru dengan luka lama
Rujuk pasca-cerai sebaiknya tidak dipandang sebagai upaya menghidupkan kembali masa lalu, melainkan membangun sebuah hubungan yang benar-benar baru.
Fitri menjelaskan bahwa pasangan yang kembali bersama harus siap beradaptasi dengan kenyataan bahwa mereka membawa "bagasi" emosional dari masa lalu ke dalam rumah tangga yang baru ini.
Perasaan-perasaan negatif seperti kecurigaan, trauma, hingga rasa sakit hati yang pernah ada, tidak hilang secara otomatis.
Pasangan dituntut untuk belajar menjalani kehidupan sehari-hari sambil mengelola residu emosi tersebut agar tidak kembali merusak fondasi yang sedang dibangun ulang.
"Ketika rujuk, bukan berarti kembali menjalin hubungan seperti masa lalu. Mereka membangun hubungan baru dan berusaha beradaptasi menjalani kehidupan, dengan membawa perasaan-perasaan negatif dalam diri," papar Fitri.
Menurut dia, ini sama seperti menjalani hubungan dengan adanya kecurigaan atau rasa sakit hati yang masih tertinggal dari pernikahan sebelumnya.
Efek memori dan respons otak
Tantangan rujuk ternyata tidak hanya datang dari perasaan, tetapi juga dari cara kerja saraf manusia yang cenderung otomatis.
Psikolog klinis dewasa, Adelia Octavia Siswoyo, menjelaskan, ketika pasangan kembali bersama, otak cenderung akan memanggil kembali (recall) pola-pola lama, baik itu emosi yang menyenangkan maupun sudut pandang negatif.
“Kondisi emosional kerap kali muncul dengan cara yang sama ketika sebelum bercerai, karena tubuh dan otak kita biasanya akan recalling memori kebersamaan dahulu, serta respons, emosi, atau sudut pandang kita dulu,” ucap dia, Senin.
Oleh karena itu, sangat lazim jika reaksi emosional yang muncul setelah rujuk terasa mirip dengan kondisi sebelum bercerai.
Tanpa kesadaran penuh untuk mengubah pola tersebut, pasangan berisiko terjatuh ke dalam lubang konflik yang sama yang dahulu menyebabkan mereka berpisah.
Pentingnya memutus siklus konflik lama
Agar hubungan setelah rujuk bisa bertahan lama, Adelia menekankan, penting bagi pasangan untuk melakukan refleksi mendalam mengenai penyebab utama perceraian mereka di masa lalu.
Memahami pola perilaku buruk yang pernah dimiliki adalah kunci untuk mengembangkan cara berkomunikasi yang lebih sehat di masa depan.
Tanpa adanya evaluasi terhadap kesalahan masa lalu, upaya untuk bersatu kembali hanya akan menjadi pengulangan siklus yang menyakitkan. Pasangan harus berkomitmen untuk tidak hanya sekadar tinggal satu atap lagi, tetapi juga secara aktif memperbaiki cara mereka merespons satu sama lain.
"Penting untuk bisa memahami pola negatif apa yang pernah dimiliki dan mungkin jadi penyebab perceraian,," pungkas Adelia.
(Banjarmasinpost.co.id/Grid.id)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.