BOLASPORT.COM - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyinggung soal Tragedi Kanjuruhan buntut terjadinya kerusuhan suporter Persijap Jepara Vs Persis Solo. Ia menilai suporter seolah telah melupakan memori kelam Tragedi Kanjuruhan yang jadi sejarah menyakitkan di sepak bola dunia.
Belakangan ini kerusuhan suporter kembali menjadi sorotan setelah terjadi insiden tak menyenangkan dalam laga Persijap Jepara Vs Persis Solo.
Derbi Jawa Tengah pada pekan ke-24 Super League 2025/2026, ini bergulir di Stadion Gelora Bumi Kartini, Jepara, Kamis (5/3/2026) dengan berakhir skor imbang 0-0.
Namun, yang menjadi sorotan karena laga ini berakhir dengan adanya kerusuhan suporter.
Sebenarnya sejak awal pertandingan sudah terasa ada ketegangan, karena suporter saling ejek.
Akan tetapi, situasi semakin memanas hingga terjadi kerusuhan suporter, bahkan pagar pembahas suporter solo dan tribun VIP nyaris roboh.
Ketegangan semakin berasa karena ada aksi saling lempar botol, hingga ada perusakan fasilitas umum.
Ada tindakan anarkis yang merusak infrastruktur stadion dan mengancam nyawa.
Menanggapi hal ini, Arya Sinulingga menyinggung soal suporter yang seolah lupa dengan insiden kelam sepak bola Tanah Air yakni Tragedi Kanjuruhan.
Padahal itu merupakan catatan paling kelam sepak bola dunia, karena memakan korban 135 nyawa.
Pasalnya, kejadian itu seperti tak memberikan efek jera kepada suporter dan kerusuhan masih terlihat di beberapa pertandingan.
“Ini suporternya lupa sama (Tragedi) Kanjuruhan dan lain-lain,” ujar Arya Sinulingga kepada awak media di Lapangan C Kawasan GBK, Jakarta.
“Jadi, mereka lupa sepertinya, itu yang membuat kami sedih juga,” ucapnya.
Arya mengatakan bahwa sebenarnya PSSI juga telah menetapkan regulasi larangan suporter tamu datang ke stadion.
Akan tetapi, larangan tersebut seperti tak diindahkan karena suporter masih banyak yang datang, dan itu yang terjadi dalam laga Persijap vs Persis.
“Sebenarnya kami sudah bilang tidak boleh away (tandang), tapi tetap saja dilanggar,” kata Arya.
“Kemarin juga ada itu satu pertandingan away, itu bagus antarsuporter, terus saya ditanya, 'Ini bagus, ayo dong buka away-nya'. Ternyata, itu hanya satu, ini hanya satu. Ini tidak hanya satu. Ini menyangkut nyawa gitu,” tegasnya.
Arya mengingatkan bahwa emosi yang tak terkontrol tak hanya akan merugikan klub secara finansial, tetapi juga mengancam keselamatan semua pihak.
Untuk itu, ia menegaskan bahwa seharusnya suporter paham betul apabila masuk dalam keadaan baik, dan keluar pun harus baik.
“Kita berharap teman-teman suporter bisa ingat janji kita ketika masuk stadion itu bajunya putih, keluar juga bajunya putih, jangan ada warna lain yang membuat kita celaka,” jelas Arya Sinulingga.
“Buat apa kita harus ada korban-korban lagi, emosi yang ada di situ terus, buat apa. Itu jadi pertanyaan kita juga. Maka dari itu, sampai sekarang kami tetap membuat larangan away.”
Arya menyoroti bahwa tensi kompetisi Super League 2025/2026 saat ini sedang berada pada titik rawan.
Persaingan yang sangat ketat, baik di papan atas untuk perebutan gelar juara maupun di papan bawah demi menghindari degradasi memicu emosi tinggi yang mudah meledak di level suporter.
Bahkan hal ini juga terjadi di Championship yang memperebutkan tiket promosi.
“Sekarang kita sedang diskusi. Kenapa diskusi? Di PSSI kita sedang diskusi. Karena sekarang lagi menuju kondisi-kondisi yang rawan, kan ini menuju akhir (musim),” ungkap Arya.
“Jadi, ini kondisi rawan. Ini yang kita harapkan, mudah-mudahan. Ini perangkat pertandingan dikejar-kejar, semua dikejar-kejar, infrastruktur stadion dirusak.”
“Mereka tidak tahu di luar pulau Jawa itu stadion saja tidak ada, sangat disayangkan punya stadion seperti itu. Ini yang sedang kami diskusikan dengan ketat, mulai dari pak Rudi dari keamanan juga sangat ketat melakukan diskusi membicarakan lebih detail mengenai kondisi ini.”
“Karena menuju akhir-akhir liga (Super League) sedikit rawan, baik dari Liga 1 (Super League) maupun Liga 2 (Championship) karena masalah promosi. Liga 1 ketat sekali di atas, di bawah pun juga dekat.”
“Maksudnya yang di atas mau juara, yang di bawah tidak mau degradasi. Jadi, harus ada perhatian khusus,” tuturnya.
Buntut kerusuhan suporter Persijap Vs Persis ini, PSSI bakal memperpanjang larangan suporter away musim depan.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.