Grid.ID - Aksi Dedi Mulyadi usulkan skema ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan dan bisa atasi kerusakan hutan sekaligus mendadak jadi sorotan. Ya, Gubernur Jawa Barat rupanya ingin daerah di bawah kepemimpinannya bisa berfokus untuk kedua masalah itu secara bersamaan.
Usut punya usul, alasan Dedi Mulyadi usulkan skema ekonomi kali ini karena mempertimbangkan kawasan pegunungan. Dimana nantinya pembangunan tak semata-mata hanya fokus pada pertumbuhan industri wilayah hilir.
Namun juga bisa bisa dimulai dari kawasan hulu yang menjadi sumber daya alam dan kehidupan. Lebih lanjut, Dedi menilai bahwa selama ini banyak program lingkungan yang tidak memberikan hasil nyata.
Atau lebih tepatnya hanya bersifat seremonial yang menghambur-hamburkan anggaran. Sebagai contoh, Gubernur Jawa Barat itu mengatakan ada program reboisasi yang menghabiskan hingga Rp 500 miliar namun endingnya tanamannya dimakan kambing.
"Program reboisasinya merupakan suar atau seremoni. Upacaranya habis Rp 500 juta, nanamnya tidak ada yang jadi satu pun karena dimakan kambing," beber Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari TribunJabar.id (16/2/2026).
Berdasarkan pengamatannya itu, Dedi Mulyadi menawarkan satu solusi. Yakni dengan mengubah pendekatan dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam kegiatan pelestarian hutan melalui skema ekonomi.
Dimana hal itu bisa mengentaskan kemiskinan hingga pelestarian hutan. Dedi Mulyadi usulkan skema ekonomi kali ini juga dilandasi agar tidak terjadi disparitas orang miskin dengan orang kaya yang terlalu jauh.
Nantinya setiap warga yang ikut dalam programnya akan diminta mengurus tanah 2 hektare dengan upah Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta.
"Hari ini mulai di Kuningan, Ciremai, kemudian di Gunung Gede semuanya ditanemin. Tapi yang nanamnya digaji selama 4 tahun.
Jadi satu orang itu harus urus 2 hektare dengan upah Rp 1,5 juta sampai Rp 2,5 juta.
Karena itu cara menyelesaikan kemiskinan dan cara menyelesaikan problem kerusakan hutan," ungkap Dedi Mulyadi.
Lebih lanjut, selain Dedi Mulyadi usulkan skema ekonomi dengan cara itu, ia mengingatkan pula soal keberlangsungan kawasan industri di Jawa Barat sangat bergantung pada kelestarian sumber air dari pegunungan.
"Industri di Rebana akan mati, industri di Subang akan mati, industri di Karawang akan mati, industri di Cirebon akan mati, industri di Bekasi akan mati, kalau sumber airnya kering, yang berasal dari puncak-puncak gunung sebagai sumber air," ujar Dedi Mulyadi dikutip dari Kompas.com.
Oleh karena hal itu, Dedi Mulyadi berharap daerah yang menghasilkan air dan oksigen perlu mendapat perhatian lebih.
“Maka hitungannya adalah daerah penghasil air, debitnya harus mulai dihitung. Daerah penghasil oksigen, debitnya harus dihitung.
Sebagai apa? Keadilan fiskal, sehingga nanti lemburnya tetap terurus, kotaknya tetap terjaga," tandasnya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.