BANJARMASINPOST.CO.ID - Makin berat saja tantangan yang dihadapi perajin rotan termasuk di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain masih sulitnya mendapatkan bahan baku, daya beli masyarakat pun turun.

Padahal, dulu kerajinan rotan sempat naik daun karena memiliki daya tahan serta estetika khas yang menambah keindahan interior maupun eksterior. Produk berbahan rotan kerap dimanfaatkan oleh hotel dan kafe sebagai bagian dari dekorasi.  

Hal ini dirasakan Banten, perajin rotan di Balikpapan, yang menekuni usaha ini sejak 1998.

Sebelumnya, ia bekerja pada sebuah perusahaan tambang di Balikpapan, namun memilih keluar untuk membuka usaha sendiri. Pada masa itu, produk berbahan rotan memiliki banyak peminat sehingga ia melihat peluang besar di bidang ini.  

Di tempat usahanya yang bernama Rotan Samudra, yang berlokasi di Jalan Mr. Iswahyudi, Gunung Bakaran, Kecamatan Balikpapan Selatan, Banten menjual berbagai produk rotan. Mulai dari keranjang parcel, tas, sofa, kursi, meja, hingga perabotan lainnya. Bahan baku rotan ia peroleh dari pemasok di Melak, Kutai Barat.  

Pria asal Toraja, Sulawesi Selatan, ini juga aktif mengikuti berbagai pelatihan kerajinan, baik di dalam maupun luar kota. Ia telah mendatangi berbagai daerah seperti Aceh, Samosir, Cirebon, dan beberapa kota lainnya.

Bukti keseriusannya dalam bidang ini terlihat dari banyaknya sertifikat pelatihan yang tergantung di tempat usahanya.    

Namun, seiring berjalannya waktu, usaha kerajinan rotan milik Banten mulai kehilangan peminat. Pada tahun 2000, ia sempat memiliki 20 karyawan untuk memenuhi pesanan.

“Mulai dari tahun 2000 sampai 2012 itu masih ada 20 orang, sekarang tinggal saya sendiri,” ujarnya.  

Pandemi Covid-19 semakin memperburuk keadaan, menyebabkan permintaan rotan anjlok. Dahulu, pembeli terbesar produk rotannya adalah warga negara asing.  

“Yang paling itu orang Barat, yang paling suka lah. Kalau saya itu 95 persen pembeli itu orang Barat,” katanya. 

Kini, ia hampir tidak lagi memproduksi perabotan berbahan rotan. Sebagian besar pekerjaannya adalah reparasi kursi dan meja rotan yang rata-rata dipesan oleh hotel di Balikpapan.  

“Selama ini hampir 300 biji, tapi reparasi, bukan produksi. Kalau produksi, tahun ini tidak ada saya produksi,” katanya.  

Meski menghadapi tantangan besar, Banten tetap bertahan dalam usahanya. Baginya, pekerjaan ini adalah bagian dari hidupnya.  

“Mungkin saya bisa bertahan karena saya buat sendiri. Saya mau alih profesi, tapi dari awal saya sudah dari situ. Saya merasa sayang sama kemampuan saya,” tuturnya.  

Sayangnya, tidak ada penerus yang bersedia melanjutkan usahanya. Ia mengungkapkan anak-anaknya enggan untuk menekuni bidang ini.  

Banten juga menyoroti pentingnya pemberdayaan pengrajin lokal daripada sekadar berambisi mengekspor produk ke luar negeri. 

 “Tidak usahlah muluk-muluk mau ekspor, buktikan dulu di daerah kita. Kalau ada tamu datang, ini loh kerjanya perajin kami,” katanya. (tribunkaltim/raynaldi paskalis)

Baca Lebih Lanjut
Pantas Tetap Eksis, Ini Alasan Warga Masih Setia Belanja di Pasar Swalayan Lokal Manado Sulut
Frandi Piring
Kue Kembang Goyang yang Tetap Eksis, Produsen Jajanan Lawas Ini di Jombang Banjir Pembeli
Dyan Rekohadi
Kue Kembang Goyang, Jajanan Lawas yang Masih Eksis di Meja Lebaran Warga Jombang
Ndaru Wijayanto
Irma Suryati, dari Kursi Roda Semakin Mendunia dengan Kain Perca
Muslimah
Penyebab Kebakaran Ruangan di Lantai 3 Polda Banten Masih Diselidiki
Detik
YKKS Semarang bersama ChildFund Gelar Pelatihan Swipe Safe untuk Aparat Penegak Hukum
Sulap Limbah Lidi Sawit Jadi Kerajinan, UMKM Rokan Hilir Panen Cuan hingga Tembus Pasar Global!
Content Writer
Digemari Pelanggan, Kue Kering Dian Cookies Majalengka Makin Eksis
Timesindonesia
Dulunya Pedagang Sayur, Richanah Kini Eksis sebagai Perajin Batik Tegalan 
Muslimah
Bupati Banyuwangi Tetap Prioritaskan Infrastruktur di Tengah Efisiensi Anggaran
Timesindonesia