SURYA.co.id | TULUNGAGUNG - Dinas Kesehatan Tulungagung menggelar Bakti Sosial (Baksos) bersih-bersih telinga di SDIT Nurul Fikri, Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Gang Masjid Ali Tulungagung, Selasa (25/2/2025).

Kegiatan ini bagian peringatan Hari Pendengaran Sedunia (World Hearing Day), yang jatuh pada 3 Maret 2025 mendatang.

Salah satu yang merasakan dampak dari kegiatan ini adalah EG (8), salah satu siswa yang dibersihkan telinganya.

Dokter mengeluarkan kotoran sebesar jari kelingking dari masing-masing lubang telinganya.  

EG pun tersenyum bahagia dan mengaku pendengarannya jadi lebih baik.

Ketua Komda Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Tulungagung, dr Mochammad Mundir Arif SpTHT-KL, menilai selama ini pendengaran sering diremehkan.

“Orang sakit jantung langsung diobati, orang kecelakaan tangannya patah langsung diobati. Tapi orang gangguan pendengaran tidak segera ditolong,” ujar dr Mundir.

Lanjutnya, gangguan pendengaran memang tidak tampak dari luar dan tidak mengancam jiwa.

Orang yang tuli tetap bisa hidup, namun ketuliannya bisa mengancam masa depan.

Karena itu kegiatan ini digelar untuk mencegah salah satu faktor pemicu gangguan pendengaran.

“Orang tuli tidak akan mati, tapi dengan tuli  akan mati masa depannya,” tegasnya.

Ada 5 faktor yang menyebabkan penurunan pendengaran, yaitu faktor sejak lahir, kopokan atau congekan, karena suara keras, kotoran telinga dan faktor usia.

Untuk Tulungagung, mayoritas kasus gangguan pendengaran karena faktor usia.

Bukan sekedar faktor usia, namun juga ada tambahan penyakit lain, seperti darah tinggi dan diabetes.

Dari proses pembersihan telinga, 20 persen para siswa dalam kondisi telinga kotor.

Telinga yang kotor akan menghambat hantaran gelombang suara pada anak.

Kondisi ini bisa menyebabkan anak terganggu prestasi akademiknya.

“Anak-anak bukan tidak pintar, tapi tidak dengar. Gurunya bilang apa, tapi dia menangkapnya lain,” sambung dr Mundir.

Total ada 105 siswa SD dan 40 siswa SMP yang ikut dalam pembersihan telinga ini.

Para siswa juga mengikuti tes pendengaran dengan alat khusus yang disiapkan.

Tes pendengaran itu kita memeriksa penghantaran tulang dan penghantaran udara.

Gangguan hantaran tulang disebabkan oleh saraf pendengaran yang rusak.

Meski tidak ada kotoran, gendang telinga bagus, dan tulang pendengaran bagus, tapi jika saraf rusak tetap tidak bisa mendengar.

“Risikonya, selama ini kalau saraf tidak bisa balik, tidak bisa diobati,” tandasnya.

Baca Lebih Lanjut
Pekan Bakti Sosial Peringati Hari Pendengaran Sedunia Diharapkan Tingkatkan Kesadaran Masyarakat
Anita K Wardhani
Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak
Timesindonesia
Tahun 2025 belum Genap 2 Bulan, Ada 4 Pasien DBD di Tulungagung Meninggal, Dinkes Lakukan Fogging
Dwi Prastika
Kasus DBD Meningkat Drastis, Empat Anak di Tulungagung Meninggal
Agus Bondan
Batuk dan Pilek Bisa Sebabkan Gangguan Pendengaran pada Anak, Ini Penjelasannya
Anita K Wardhani
Belum Genap 2 Bulan, Sudah 4 Pasien DBD Meninggal Dunia di Tulungagung
Cak Sur
30 Ucapan Selamat Hari Kepanduan Sedunia 22 Februari 2025 : Kirim ke Temanmu Pecinta Pramuka
Hanang Yuwono
Hari Kepanduan Sedunia Diperingati Tanggal 22 Februari, Berikut Sejarahnya
Tribunnews
Puluhan Siswa SDN di Jombang Keracunan Massal Setelah Jajan di Sekolah, 42 Siswa Dilarikan ke Faskes
Dyan Rekohadi
Ada 23 Kasus DBD dan 8 Kasus Chikungunya di Kota Batu, Dinkes Ingatkan Langkah Pencegahan
Dyan Rekohadi