Jam koma yang sering dialami oleh Generasi Z atau Gen Z biasanya terjadi di jam berapa sih? Faktanya, tidak ada waktu yang pasti. Jam koma bisa melanda pagi-pagi, siang, maupun malam hari.
Sebagai informasi, jam koma adalah istilah yang saat ini ngetren di kalangan Gen Z. Keadaan tersebut dikaitkan saat seseorang tiba-tiba kehilangan fokus, sehingga lupa akan sesuatu hal dan mengacaukan aktivitas sehari-hari.
Claudio (17) seorang pelajar di Malang mengaku kerap mengalami 'jam koma' di sore atau malam hari sepulang sekolah.
"Kadang sore, kadang malam. Pas pulang sekolah biasanya, karena kecapekan mungkin," ujar Claudio saat dihubungi detikcom, Jumat (25/10/2024).
Ia biasanya beristirahat sebentar untuk membuat tubuhnya kembali fokus.
Meski bukan Gen Z, Ardi (30), seorang pekerja swasta di Jakarta Selatan, juga mengaku mengalami jam koma. Pria yang dikategorikan generasi milenial ini mengalaminya pada sore hari.
"Waktu itu saya ngalaminnya di sore hari, sekitar jam 4 atau 5 gitu," ujar Ardi.
"Kecapekan sih paling, waktu itu pas banget lagi banyak pikiran masalah kerjaan," lanjut dia.
Lain halnya dengan Hanaly (22), seorang karyawan swasta di Jakarta Barat. Ia justru sering mengalami jam koma di pagi hari.
"Pagi sih biasanya, sebelum ke kantor jam 6 atau 7 karena buru-buru," katanya.
NEXT: Faktor-faktor penyebab jam koma
Menurut psikolog Rosdiana Setyaningrum, ada beberapa faktor yang menyebabkan jam koma, yaitu:
Salah satu faktor utama dari jam koma adalah kurangnya mindfulness, atau kesadaran penuh dalam melakukan aktivitas.
"Kalau istilah anak zaman sekarang kan very demure, very mindfull, beneran dijalanin nggak tuh mindfull-nya? Sering kali banyak mikir macam-macam pada satu waktu. Yang kita kerjain itu biasanya rutinitas, jadinya bikin nggak fokus," jelas Rosdiana saat dihubungi detikcom, Rabu (23/10/2024).
Mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula berlebih dapat menyebabkan kadar insulin turun drastis, yang membuat tubuh merasa lesu dan mengantuk. Rasa kantuk ini, tentu saja, berdampak langsung pada kemampuan otak untuk fokus.
"Anak zaman sekarang itu kan banyak ya yang makan manis. Sebaiknya dikurangi, ganti nutrisi yang lebih bagus," kata Rosdiana.
Media sosial juga berperan besar dalam fenomena jam koma. Menurut Rosdiana, banyak beredar bahwa kebiasaan berlebihan menggunakan media sosial menyebabkan turunnya kemampuan seseorang untuk fokus dalam jangka waktu lama.
"Kurangin main media sosial, lebih baik yang bertemu langsung biar langsung bersosialisasi," jelas Rosdiana.
Kualitas tidur juga memiliki dampak besar pada kemampuan untuk fokus. Kurangnya tidur berkualitas dapat menyebabkan otak tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Ketika gelombang otak tetap yang berperan penting dalam penyimpanan memori berkurang, seseorang cenderung menjadi pelupa.
\n