TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Marmar Herayukti adalah seniman asal Gemeh yang menjadi konseptor ogoh-ogoh Sapa Warang.
Seorang maestro yang karyanya selalu ditunggu tiap Pangrupukan setiap tahun.
Marmar dikenal sebagai salah satu tokoh yang gencar mengampanyekan pembuatan ogoh-ogoh tanpa bahan styrofoam (gabus sintetis).
Ia lebih memilih menggunakan bahan alami seperti bambu, rotan, dan kertas untuk menjaga tradisi sekaligus melestarikan lingkungan.
Selain sebagai kreator ogoh-ogoh, ia adalah seorang seniman tato terkemuka. Ia memulai karier merajah tubuh ini secara otodidak setelah lulus SMA dan kini mengelola Marmarherrz Studio.
Baca juga: Gung Tommy Jadi Sosok Nyata Pengusaha Lokal Bali Brand-nya Tumbuh di Luar Negeri
Tahun ini, ia menjadi konseptor ogoh-ogoh yang mampu menghipnotis ribuan penonton saat malam Pengerupukan di Catus Pata atau Titik Nol Denpasar, Rabu 18 Maret 2026 lalu.
Sapa Wayang hadir dengan bentuk yang tidak biasa.
"Jadi sebenarnya secara angle itu sebenarnya wajahnya bolak-balik. Jadi yang umum kita lihat dari bawah itu sebetulnya bagian belakangnya, tapi seolah-olah dia menghadap ke depan, padahal itu sebenarnya bagian belakang," ujar Marmar saat wawancara khusus Tribun Bali pada Sabtu 21 Maret 2026 di Sangmong Coffee & Eatary Jl Mayjend Sutoyo, Denpasar.
Pesan yang Ingin Disampaikan
Menurutnya Sapa Warang berbicara tentang ada satu hal yang sangat alamiah, yang sangat kodrati, yang dibawa oleh manusia sejak lahir.
Dia itu bagaikan mantra pertama yang diucapkan oleh manusia pada saat dia lahir. Itu adalah tangisan.
Dalam segi bahasa tangis itu mengandung tangi. Tangi itu artinya sadar atau bangun. Begitu juga dalam bahasa Bali disebut ngeling atau eling. Eling juga berarti ingat.
Baca juga: Sosok Dewa Gede Palguna, Hakim Konstitusi Termuda, Pernah Jual Koran hingga Jadi Pemain Film
"Saya berpandangan bahwa tangis ini adalah satu alat yang diberikan Tuhan pada kita untuk mengiringi kita dalam perjalanan hidup kita. Karena sangatlah sudah diatur bahwa manusia dalam hidupnya itu akan menemui banyak rintangan, tantangan. Bahkan itu mungkin menyesakkan, menyakitkan dan lain sebagainya. Bahkan menyenangkan sekalipun. Semua itu diiringi oleh tangisnya itu sendiri," tambahnya.
Sehingga menurutnya Sapa Warang sebenarnya kita harus ingat pada diri kita dan apa sebenarnya tujuan kita hidup.
Jadi hidup itu gak tentang senang-senang, gak tentang mencari kebahagiaan saja. Hidup itu justru tentang melewati tantangan demi tantangan. Hidup itu juga justru melewati peristiwa demi peristiwa. Sehingga kita sadar fungsi kita hidup ini seharusnya seperti apa.
"Pesan Sapa Warang ini adalah sebenarnya kalau kita ingin tahu, jadi kita harus mengalami. Kalau mengalami itu awalnya pasti kita ingat dulu. Ketika kita ingat, maka kita akan bangkit. Kalau sudah bangkit, nanti muncul rasa rindu. Nah kalau orang yang sudah rindu, tanpa berangkat ke sana, dia sudah ada di sana," ujarnya lagi.
Berkarya dengan Jujur
Dalam mengejewantahkan karyanya, Marmar selalu berusaha berkarya dengan jujur.
"Ini agak sulit. Tapi yang jelas kalau saya berkarya, saya selalu berkarya dengan sejujur mungkin. Apa yang ingin saya sampaikan, saya sampaikan."
"Tapi saya punya satu prinsip dalam berkarya itu bahwa seni itu sarana komunikasi yang dibuat dengan sangat indah sehingga orang mau terpancing untuk berkomunikasi di dalamnya," tambahnya.
"Jadi bertukar pikiran itu dimulai dari sesuatu yang indah. Ibaratnya kalau kita ngobrol, skill berbicara kita harus diatur dulu. Apa yang harus kita ucapkan, mana yang tidak perlu diucapkan. Begitupun berdalam berkesenian."
"Itu kira-kira yang bisa menggambarkan saya dalam berkarya sebetulnya. Bukan berarti saya terlalu banyak perhitungan atau banyak menjaga perasaan orang, tidak,"
"Saya tetap akan berbicara dengan sangat tegas dan dengan sangat lugas tapi dengan bahasa-bahasa yang sebisa mungkin saya bikin indah," ujarnya lagi. (*)