TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kawasan Selo, Boyolali, jawa Tengah, menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan saat musim libur, terutama ketika momen Lebaran tiba.
Terletak di antara dua gunung besar, yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, kawasan ini menawarkan panorama alam pegunungan yang sejuk dan menenangkan.
Sejumlah tempat wisata di wilayah ini kerap dipadati pengunjung yang ingin menikmati pemandangan alam sekaligus berburu spot foto menarik.
Baca juga: 5 Kuliner di Dekat Stasiun Palur Karanganyar, Cocok Untuk Buka Puasa, Ada Rica Mentok Mbah Modin 2
Beberapa destinasi populer yang wajib dikunjungi di antaranya Embung Manajar dan Bukit Gancik yang dikenal memiliki panorama perbukitan yang indah.
Selain menawarkan udara yang sejuk khas pegunungan, berbagai objek wisata di Selo juga menyuguhkan pengalaman liburan yang cocok untuk keluarga.
Tak heran jika kawasan ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin menghabiskan waktu libur Lebaran 2026 dengan menikmati keindahan alam Boyolali dari ketinggian.
Berikut 5 wisata di Selo Boyolali Jawa Tengah yang cocok untuk libur lebaran 2026:
Embung Manajar merupakan waduk buatan yang berada di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dari sini, pengunjung dapat menikmati panorama Gunung Merapi dan Merbabu sekaligus.
- Lokasi: Dusun III, Desa Samiran, Selo, Boyolali.
- Jam buka: 24 jam.
- Tiket masuk: Rp 5.000.
- Tarif parkir: Rp 3.000 (motor).
Catatan: Akses hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Disarankan menggunakan ojek lokal jika kendaraan pribadi tidak memungkinkan.
Embung Manajar berjarak 47 km dari Titik Nol Kilometer atau pusat Kota Solo, bisa ditempuh 1 jam 16 menit sepeda motor.
Taman bunga berwarna-warni dengan latar belakang megah Gunung Merapi menjadi daya tarik utama Merapi Garden.
Tempat ini cocok sebagai spot foto Instagramable, dilengkapi ornamen kincir angin, gazebo, dan D'Garden Café.
- Lokasi: Dusun IV, Desa Samiran, Selo, Boyolali.
- Jam buka: 09.00 – 18.00.
Tiket masuk: Rp 5.000.
- Tarif parkir: Rp 3.000 (motor), Rp 5.000 (mobil).
- Fasilitas tambahan: Paralayang, outbond, dan jeep wisata
Merapi Garden Selo berjarak 46 km dari Titik Nol Kilometer atau pusat Kota Solo, bisa ditempuh 1 jam 11 menit sepeda motor.
New Selo menyuguhkan lanskap alami Gunung Merbabu yang spektakuler.
Lokasi ini sering dijadikan titik istirahat oleh para pendaki atau tempat bersantai sambil menyeruput kopi hangat.
- Lokasi: Desa Samiran, Selo, Boyolali.
- Jam buka: 08.00 – 19.00.
- Tiket masuk: Rp 10.000.
- Tarif parkir: Rp 2.000 (motor), Rp 5.000 (mobil).
New Selo berjarak 47 km dari Titik Nol Kilometer atau pusat Kota Solo, bisa ditempuh 1 jam 16 menit sepeda motor.
Berada di kaki Gunung Merbabu, Bukit Gancik menawarkan pemandangan dari ketinggian serta spot matahari terbit yang memukau.
Jalurnya juga bisa menjadi alternatif pendakian Merbabu.
- Lokasi: Dukuh Selo Nduwur, Dusun I, Selo, Boyolali.
- Jam buka: 24 jam.
- Tiket masuk: Rp 5.000.
- Tarif parkir: Rp 3.000 (motor), Rp 5.000 (mobil)
Bukit Gancik berjarak 46 km dari Titik Nol Kilometer atau pusat Kota Solo, bisa ditempuh 1 jam 16 menit sepeda motor.
Tempat ini merupakan ruang publik yang menawarkan pemandangan Gunung Merapi dari kejauhan.
Tersedia fasilitas rekreasi seperti sepeda listrik, kuda tunggang, hingga delman.
Deretan pedagang makanan juga siap memanjakan lidah pengunjung.
- Lokasi: Jl. Blabak-Boyolali, Desa Samiran, Boyolali.
- Jam buka: 09.00 – 22.00.
- Tiket masuk: Gratis.
- Tarif parkir: Gratis
Simpang Paku Buwono VI berjarak 45 km dari Titik Nol Kilometer atau pusat Kota Solo, bisa ditempuh 1 jam 11 menit sepeda motor.
Terletak di jantung pegunungan Jawa Tengah, tepatnya di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Kecamatan Selo di Kabupaten Boyolali telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata unggulan.
Keindahan alam yang memesona, budaya lokal yang hidup, dan cerita sejarah yang kaya menjadikan kawasan ini daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Diapit Dua Gunung, Dikayakan Alam
Secara geografis, Selo berada di kaki Gunung Merapi bagian utara.
Posisi strategis ini tidak hanya membuatnya dikenal sebagai titik awal pendakian gunung, tetapi juga menghadirkan panorama alam yang luar biasa.
Dari Selo, pengunjung bisa menikmati pemandangan dua gunung besar sekaligus Merapi dan Merbabu dalam satu bentang lanskap yang menakjubkan.
Selain sebagai jalur pendakian favorit, Selo juga terkenal akan pertanian sayur-mayur.
Tanaman seperti kobis (kol), tembakau, dan adas sayuran khas beraroma segar yang nikmat dijadikan pecel mudah ditemui di lahan-lahan warga.
Selain itu, banyak warga yang menggantungkan hidup dari beternak sapi perah, menjadikan Selo sebagai penghasil susu segar di wilayah Boyolali.
Keunikan Selo tak berhenti pada alam dan pertanian.
Di sini, budaya tradisional masih dijaga dengan baik.
Kesenian seperti Topeng Ireng, Jatilan, Reog Ponorogo, dan Ketoprak kerap tampil dalam acara desa maupun festival wisata.
Suasana desa yang ramah dan kehidupan warga yang membumi membuat pengalaman wisata semakin berkesan.
Untuk wisata kuliner, pengunjung bisa mencicipi jadah bakar, camilan khas yang disajikan bersama tempe atau tahu bacem.
Rasanya gurih dan legit, cocok dinikmati sambil menyeruput teh hangat di udara pegunungan yang sejuk.
Salah satu spot paling menarik adalah New Selo, pos pemantauan Gunung Merapi yang juga berfungsi sebagai basecamp pendakian.
Ada juga jembatan gantung di Desa Jrakah yang menjadi favorit wisatawan untuk berfoto dengan latar belakang puncak Merapi yang dramatis.
Wilayah Kecamatan Selo terdiri dari 10 desa, di antaranya Jeruk, Jrakah, Klakah, Lencoh, Samiran, Selo, Senden, Suroteleng, Tarubatang, dan Tlogolele.
Dari semua itu, Desa Selo, Samiran, dan Lencoh menjadi yang paling populer dalam hal pariwisata.
Di balik keindahan alamnya, Selo juga menyimpan cerita sejarah menarik.
Nama "Selo" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "sela" atau "longgar", merujuk pada lokasinya yang berada di sela-sela Gunung Merapi dan Merbabu.
Menurut cerita warga setempat, dahulu kawasan ini adalah hutan lebat yang menjadi tempat persembunyian dari kejaran tentara Belanda.
Hutan tersebut dipercaya memberikan perlindungan alami bagi mereka yang berada di dalamnya.
Dari sinilah kemudian tumbuh permukiman yang kini menjadi Desa Selo.
(TribunNewsmaker.com/TribunSolo.com)