TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Viral di media sosial memperlihatkan seorang warga protes terhadap juru parkir di area luar rumah sakit di kawasan Citarum, Semarang Timur.

Dalam video tersebut, seorang perempuan terlihat kesal dan menunjuk pria bertopi putih yang diketahui juru parkir.

Perempuan itu menunjukkan kekesalan karena dilarang meninggalkan lokasi sebelum membayar parkir, bahkan saat ia meminta izin untuk mengambil uang terlebih dahulu.

Pada video yang beredar, tampak seorang wanita kemudian memanggil pria tersebut untuk membayarkan dan meminta karcis.

Baca juga: "Ojo Lungo Nek Rung Bayar!" Intimidasi Jukir Citarum Sampai Bikin ART Bingung Lupa Bawa Uang Rp3.000

Baca juga: Nasib Jukir Tahan Pemotor di Citarum, Dishub Semarang Ancam Cabut Izin Jika Berulah Lagi

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang mengonfirmasi adanya kejadian yang viral di media sosial pekan lalu itu.

Kepala Bidang Parkir Dishub Kota Semarang, Andreas Caturady Kristianto menyebut, juru parkir yang ada di lokasi tersebut bukan jukir liar, melainkan telah memiliki izin resmi dari Dishub.

"Jukir itu tidak liar. Jukir itu sudah berizin dan dia aktif. Untuk retribusinya juga aktif," ujarnya menanggapi narasi Jukir liar yang beredar, dihubungi Tribun Jateng, Selasa (10/3/2026).

Andreas mengatakan, pihak Dishub sudah menindaklanjuti kejadian yang viral itu dengan melakukan pembinaan kepada yang bersangkutan.

Ia mengklaim, Dishub telah memberikan teguran kepada juru parkir tersebut.

Selain itu, pihaknya juga menjadwalkan pemanggilan ke kantor untuk klarifikasi lebih lanjut terkait kejadian dalam video yang beredar.

"Kita sudah lakukan pembinaan kemarin dan hari ini. Terus kemudian besok pagi, kita undang ke kantor untuk klarifikasi soal hal tersebut," katanya.

Terkait kejadian yang viral itu, Andreas menyebut memang Dishub sudah beberapa kali menerima sejumlah aduan masyarakat terkait pengelolaan parkir di lokasi tersebut.

Aduan itu di antaranya mengenai penataan kendaraan yang terkadang sampai tiga lapis, parkir yang mendekati shelter BRT, hingga dugaan pelanggaran tarif.

"Nah ini kita evaluasi. Apabila nanti mereka seperti itu lagi, kita evaluasi untuk izinnya.

Apakah kita cabut izinnya dengan mereka enggak boleh parkir atau gimana, besok kita berikan pembinaan bikin surat pernyataan. Kalau hal itu terjadi lagi ya izinnya terpaksa kita tarik," paparnya.

Andreas menambahkan, selama ini mekanisme pembinaan biasanya dilakukan secara bertahap mulai dari teguran di lokasi, pemanggilan untuk klarifikasi, hingga kemungkinan pencabutan izin apabila pelanggaran terus berulang.

Ia juga menjelaskan, keberadaan parkir di luar area rumah sakit kemungkinan dipengaruhi beberapa faktor, seperti kapasitas parkir di dalam yang terbatas serta tarif parkir di dalam yang menggunakan sistem progresif sehingga dinilai lebih mahal oleh sebagian pengunjung.

"Karena (di dalam area rumah sakit) pakainya progresif jam-jaman toh, kemudian mungkin parkir di dalam penuh, terus kemudian yang ketiga masyarakatnya mungkin lebih mudah, lebih cepat di luar," terangnya.

Sementara itu, pihaknya mengklaim jika sebenarnya parkir yang berada di luar itu sebenarnya telah menerapkan sistem parkir elektronik sehingga pengunjung bisa membayar melalui sistem pembayaran digital.

"Yang area luar yang viral itu elektronik. Yang parkir di situ bisa membayar pakai QRIS," jelasnya.

DISHUB - Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang mendatangi lokasi parkir yang viral di di area luar rumah sakit di kawasan Citarum, Semarang Timur.
DISHUB - Petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang mendatangi lokasi parkir yang viral di di area luar rumah sakit di kawasan Citarum, Semarang Timur. (TRIBUN JATENG/istimewa/dok Pemkot Semarang)

Viral di Media Sosial

Suasana tegang menyelimuti area parkir sebuah rumah sakit di kawasan Jalan Citarum, Semarang Timur, belum lama ini.

Ketika seorang asisten rumah tangga (ART) diduga menjadi korban intimidasi oknum juru parkir hanya karena perkara uang Rp3.000.

Kejadian yang terekam kamera dan viral di media sosial ini memperlihatkan sisi kelam pengelolaan parkir di ibu kota Jawa Tengah, di mana korban dilarang masuk ke rumah sakit untuk mengambil uang pembayaran hingga motornya terus diawasi secara berlebihan.

Seorang asisten rumah tangga (ART) diduga mengalami intimidasi dari juru parkir saat menunggu di depan rumah sakit di kawasan Jalan Citarum, Semarang Timur, Kota Semarang. 

Peristiwa itu terjadi ketika ART tersebut hendak menjemput majikannya yang sedang mengurus tindakan operasi anaknya di rumah sakit.

Kejadian tersebut kemudian viral di media sosial setelah terekam dalam sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan memprotes juru parkir di lokasi.

Majikan ART tersebut, Akta, warga Kota Semarang, menceritakan bahwa saat kejadian dirinya sedang berada di dalam rumah sakit untuk mengurus tindakan operasi anaknya.

“Saya di RS sedang antre untuk anak saya tindakan operasi. 

Karena saya pikir sebentar lagi selesai, saya hubungi ART saya untuk jemput naik motor dan menunggu di depan RS, tidak masuk ke dalam,” kata Akta kepada Tribunjateng.com, Selasa (10/3/2026).

Namun setelah ART-nya datang dan menunggu di depan rumah sakit, antrean di dalam ternyata masih cukup lama. 

Sementara anaknya yang masih kecil disebut sudah mulai berlarian sehingga ia membutuhkan bantuan ART tersebut.

Akta pun meminta ART-nya masuk ke dalam rumah sakit untuk membantu menjaga anaknya.

Bayar Parkir Rp3.000

Saat hendak masuk ke rumah sakit, ART tersebut diminta membayar biaya parkir sebesar Rp3.000 oleh juru parkir yang berada di depan rumah sakit.

Namun ART tersebut tidak membawa uang tunai karena awalnya hanya diminta menunggu sebentar untuk menjemput majikannya.

ART tersebut kemudian menyampaikan kepada juru parkir bahwa dia hendak masuk ke rumah sakit untuk mengambil uang terlebih dahulu dari majikannya.

“Saat mau masuk dimintai uang Rp3.000.

Karena ART saya tidak bawa uang, dia bilang mau masuk ambil uang dulu ke saya di dalam RS untuk bayar parkir,” jelas Akta.

Mengaku Diintimidasi dan Dilarang Masuk

Menurut Akta, alih-alih diberi kesempatan untuk mengambil uang terlebih dahulu, ART-nya justru dimarahi dan dilarang meninggalkan lokasi sebelum membayar parkir.

Dia menyebut juru parkir tersebut bahkan berjalan memutari ART-nya sambil terus mengawasi agar tidak pergi.

“Tukang parkir itu malah memaki ART saya dan melarang masuk kalau belum bayar. 

Dia juga mengintimidasi dengan berjalan memutari ART saya sambil memantau dan bilang ‘ojo lungo nek rung bayar, koncomu kon rene wae’,” ungkap dia.

Karena merasa ketakutan, ART tersebut terus mengirim pesan kepada Akta untuk meminta bantuan. 

Situasi itulah yang kemudian direkam Akta dalam video dan akhirnya beredar luas di media sosial.

Akta mengaku tidak mempermasalahkan kewajiban membayar parkir. 

Namun dia menyayangkan sikap juru parkir yang dinilai berlebihan hingga melarang ART-nya masuk rumah sakit untuk mengambil uang.

“Yang saya tidak suka kenapa harus mengintimidasi sampai mengawasi dan melarang masuk RS. 

Padahal motor tidak dibawa, dan sudah bilang mau bayar tapi ambil uang dulu,” katanya.

Dia juga menyebut ART-nya tidak menerima karcis parkir saat kejadian tersebut. 

Selain itu, dari informasi yang ia dengar, kejadian serupa disebut sudah cukup sering terjadi.

“Katanya korbannya banyak kalau tidak mau bayar di awal dimaki,” ujar dia.

Menanggapi kejadian tersebut, pihak kepolisian memastikan peristiwa itu telah ditindaklanjuti aparat di wilayah setempat.

Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Agung Setiyo Budi, mengatakan penanganan telah dilakukan oleh Polsek Semarang Timur.

“Iya, sudah ada tindak lanjut Polri setempat, dalam hal ini Polsek Semarang Timur,” ungkap Kompol Agung kepada Tribunjateng.com, Selasa (10/3/2026).  (idy)

 

 

Baca Lebih Lanjut
Parkir Liar di Bandung Jadi Sorotan, Dishub Perketat Pengawasan Selama Ramadhan dan Libur Lebaran
Kemal Setia Permana
Voucher Parkir Suroboyo Bisa Dibeli di Minimarket, Ada Promo Beli 10 Gratis 2
Ndaru Wijayanto
Farhan Buka Peluang Bentuk Satgas Untuk Berantas Getok Parkir dan Parkir Liar Selama Libur Lebaran
Ravianto
Parkir Liar dan Getok Parkir Jadi 'PR' Pemkot Bandung saat Libur Lebaran, Farhan: Mesti Pakai Satgas
Seli Andina Miranti
Ramai Ziarah Jelang Lebaran, Pemkot Surabaya Pastikan Parkir di Area Makam Gratis: Tak Ada Penarikan
Januar
Personel Polsek Mempawah Hulu Sambangi Tukang Parkir dan Pedagang, Sampaikan Pesan Kamtibmas
Jamadin
Satpol PP Jaktim tertibkan PKL dan parkir liar di Duren Sawit
Antaranews
Program Tukang Hebat Semen Gresik, Apresiasi Tukang dengan Hadiah Motor
Abduh imanulhaq
Dishub Makassar Turunkan 400 Personel Urai Kemacetan Jelang Lebaran
Muh Hasim Arfah
Dishub Makassar Sisir 12 Titik Terminal Bayangan di Jalan Perintis Kemerdekaan
Saldy Irawan