TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINGKAWANG – Perayaan Festival Cap Go Meh Singkawang selalu menghadirkan berbagai atraksi budaya yang memukau.
Salah satunya datang dari para tatung yang melakukan aksi ekstrem sebagai bagian dari tradisi spiritual yang telah lama dijaga masyarakat Tionghoa di Kota Singkawang.
Salah satu tatung yang turut tampil adalah Alung, yang berada di bawah naungan Pekong Datok Mutaji Singkawang.
Baca juga: Di Balik Atraksi Ekstrem Tatung Singkawang, Suhu Phen Ungkap Peran Doa dan Roh Leluhur
Usai melakukan atraksi pada puncak perayaan Selasa lalu, Alung membagikan pengalamannya saat menjalani ritual tersebut.
Meski baru sekitar lima hingga enam tahun menjadi tatung, Alung mengaku merasa bahagia karena dipercaya menjalankan peran tersebut.
Baginya, menjadi tatung merupakan sebuah kehormatan karena tidak semua orang bisa terpilih untuk menjalani ritual spiritual tersebut.
Saat tampil di festival, Alung melakukan atraksi ekstrem dengan menusukkan benda tajam ke bagian pipinya. Namun menurutnya, ia tidak merasakan sakit sedikit pun ketika atraksi berlangsung.
“Waktu kemarin ditusuk di bagian pipi,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id.
Ia menjelaskan, sebelum atraksi dilakukan, seorang Suhu terlebih dahulu membacakan mantra sebagai bagian dari ritual.
Mantra tersebut dipercaya dapat membuat tubuh tatung terlindungi ketika roh leluhur masuk ke dalam dirinya.
“Waktu ditusukkan Suhu ada baca mantra. Saat ditusuk kita seperti setengah sadar, jadi tidak terasa sakit. Tidak ada darah keluar, hanya sedikit air saja,” ungkapnya.
Sebelum tampil, Alung juga harus menjalani berbagai ritual dan pantangan.
Hal tersebut dilakukan agar roh leluhur bersedia masuk dan menjaga dirinya selama atraksi berlangsung.
Meski demikian, ia mengakui sempat merasakan rasa takut di awal perjalanan menjadi tatung. Namun ia berusaha menenangkan diri dan percaya bahwa roh leluhur akan melindunginya.
“Awalnya ada rasa takut. Tapi kita berharap leluhur tetap ada di samping kita, menjaga supaya tidak terjadi apa-apa,” katanya.
Menurut Alung, saat tubuhnya sudah dirasuki roh leluhur, dirinya tidak lagi sepenuhnya sadar. Ia hanya mengikuti apa yang menjadi kehendak roh yang masuk ke dalam tubuhnya, termasuk saat melakukan atraksi tertentu.
“Kalau sudah dimasuki, biasanya roh itu yang meminta apa yang harus dilakukan,” ujarnya.
Menariknya, bekas luka dari atraksi tersebut juga tidak bertahan lama. Ia mengatakan luka bekas tusukan biasanya cepat pulih dengan sendirinya.
“Waktu dicabut keluar air sedikit, sorenya sudah kering,” jelasnya.
Bahkan ketika benda tajam dilepaskan dari tubuhnya, ia masih dalam kondisi setengah sadar sehingga tidak merasakan rasa sakit.
“Masih setengah sadar, jadi tidak terasa apa-apa. Waktu dilepaskan juga tidak sakit,” pungkasnya.
Atraksi tatung sendiri menjadi salah satu daya tarik utama dalam perayaan Festival Cap Go Meh Singkawang yang setiap tahun selalu dinantikan masyarakat.
Tradisi ini tidak hanya menampilkan keberanian para tatung, tetapi juga menjadi simbol kuatnya nilai spiritual dan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Singkawang.
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!