TRIBUNTRENDS.COM - Media sosial baru-baru ini diguncang oleh aksi kontroversial seorang influencer bernama Dwi Sasetyaningtyas, atau yang akrab disapa Tyas.
Ia dengan bangga memamerkan paspor Inggris milik buah hatinya sembari melontarkan kalimat yang merendahakan paspor Indonesia "Cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan."
Tyas dinilai telah bersikap seperti kacang lupa kulitnya. Bagaimana tidak, Tyas ternyata alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sebuah fasilitas pendidikan yang dibiayai oleh pajak rakyat Indonesia.
Kekecewaan publik seolah disiram bensin saat fakta baru terungkap ke permukaan.
Ironisnya lagi, Arya dilaporkan belum menunaikan kewajiban pengabdian di Tanah Air.
Padahal hal tersebut merupakan syarat bagi penerima beasiswa.
Kombinasi antara privilese pendidikan dari negara dan sikap merendahkan status kewarganegaraan ini membuat Tyas dinilai tidak tahu terima kasih.
Di tengah gelombang hujatan yang tak terbendung, Tyas akhirnya menyampaikan permohonan maaf melalui media sosial.
Ia berdalih bahwa ucapan sinis tersebut merupakan luapan rasa lelah dan akumulasi kekecewaan terhadap berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia.
Meski telah mengakui kesalahannya, jejak digital tersebut telanjur meninggalkan luka bagi masyarakat yang merasa uang pajaknya justru digunakan untuk membiayai sosok yang menghina identitas bangsanya sendiri.
Baca juga: Gegara Kalimat yang Diucap Dwi Sasetyaningtyas, 44 Penerima LPDP Terancam Bayar Miliaran Plus Bunga
Setelah Sasetyaningtyas viral, banyak pihak yang kemudian mengurai pengalaman buruknya bersama istri Arya Pamungkas Iwantoro tersebut.
Menurut akun Thread @artbynega yang merupakan kakak kelasnya, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Tyas memperlakukan orangtuanya.
Akun itu mengaku kenal dengan Tyas saat suami istri menggunakan jasanya beberapa waktu lalu.
"mbak saset ini emang mudah ngamuk, mudah maki orang. merasa mrk lbh tinggi dr orang lain," tulisnya.
Bahkan ia yang merupakan kakak kelasnya pun, diperlakukan kasar hingga trauma oleh Tyas.
"Pdhl sy kakak kelas alumninya, mrk pake jasa sy secara kekeluargaan, trnyata sy yg trauma," tulis dia.
Ia melihat langsung Tyas tantrum ke orangtuanya secara meledak-ledak.
Bahkan usaha yang dibangunnya itu juga sampai diviralkan buruk oleh Tyas.
Kini ia tak menyangka kalau Tyas akhirnya menuai apa yang ia perbuat selama ini kepadanya.
Baca juga: Mulutmu Harimaumu, Dwi Sasetyaningtyas Panen Kerugian Imbas Hina Negara, Purbaya: Saya Blacklist Dia
"Sy menyaksikan sendiri mbak ini tantrum ke ortunya meledak2. ke vendor lain. dan mrk ngeviralkan buruk usaha sy, gak nyangka akhirnya ada keadilan yg 100x lbh viral buat keburukan mereka," tulisnya.
Akun @ayud.ya juga mengaku trauma dengan perlakuan Tyas beberapa waktu lalu.
Ia mengaku diteriaki oleh Tyas karena hal kecil yang masih bisa didiskusikan.
"Kaakk seriuss?! Dia pernah jadi klien temenku, temnku pernah di teriakin sm dia di telepon, dia tantrum cuma grgr ada hal yg ga sesuai sm yg dia mau pdhl itu minor dan masih bisa di bicarakan baik-baik, ku kira ke kami doang dia kayak gt. Ternyata oh ternyataa," tulisnya.
Tak hanya itu, tetangga Tyas juga membenarkan perlakuan buruknya.
Ia bahkan menyarankan Tyas untuk segera mencari pertolongan ke ahli.
"Ybs tetanggaku di Limo Depok, relate dengan pengalaman kaka. Buah busuk ngga usah dicucuk emang, pada waktunya dia jatuh sendiri," tulis akun @julia4j.
Ia mengatakan kalau Tyas pernah menyidang tetangganya tengah malam untuk satu urusan.
Baca juga: Beda dari Dwi Sasetyaningtyas, Artis Ini Pindah ke Kanada dengan Uang Sendiri, Suami Jadi Tukang Las
"Cerita traumatik tetangga lain juga ada karena disidang Saset tengah malam.
Semoga ybs nyari pertolongan ya, supaya karakternya bisa bertumbuh ke arah yg konstruktif krn dia juga sedang mengasuh dan mendidik karakter 2 anaknya," tulisnya.
Bukan cuma itu, akun @nabhanchoiron juga menyebut kalau suami Tyas punya karakter yang sama.
"Iya saya bisa confirm benar. Beberapa Temen saya yg kebetulan seangkatan waktu di ITB bilang, mereka berdua sejak mahasiswa juga yg entitled, sok paling tinggi (entah tinggi badan, kasta sosial, yg pasti gak jelas) dan sering memandang rendah orang lain," tulisnya.
(TribunTrends.com)(TribunnewsBogor.com/Vivi)