TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Masalah klasik tabungan siswa yang mandek di Kabupaten Pangandaran kembali memanas.
Meski kasus ini sudah bergulir lama, nyatanya ribuan siswa dari empat angkatan belum juga mendapatkan hak mereka.
Hal ini terungkap saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melakukan kunjungan kerja ke Pangandaran, Senin (16/2/2026).
Seorang warga di Kecamatan Parigi nekat mengadang rombongan Gubernur untuk mengadukan nasib tabungan anaknya yang raib tak berbekas.
Pria tersebut mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa di wilayah Kecamatan Parigi saja, dana tabungan siswa yang tidak dibayar mencapai miliaran rupiah.
Baca juga: Guru di Pangandaran Embat Uang Tabungan Murid Ratusan Juta untuk Usaha, Kini Tak Bisa Kembalikan
Mirisnya, kondisi ini menimpa hampir separuh sekolah dasar di kecamatan tersebut.
"Di SD sudah empat angkatan tabungan siswa tidak dibayar, totalnya sebanyak Rp2,5 miliar. Hampir 50 persen SD di Parigi (mengalami hal serupa)," adu pria tersebut di hadapan Dedi Mulyadi.
Berdasarkan aduan warga, mandeknya uang tabungan ini bermula dari kebijakan sekolah yang menitipkan dana tabungan siswa ke koperasi sebagai modal.
Ironisnya, dana tersebut kemudian dipinjamkan kembali ke oknum guru-guru.
Masalah memuncak saat koperasi dinyatakan bangkrut, sementara para guru yang meminjam uang enggan transparan mengenai catatan utang mereka.
"Saya sudah minta catatan utang guru-gurunya, tapi tidak diberi," keluh orang tua siswa tersebut dengan nada kecewa.
Mendengar aduan mengenai kasus lama yang tak kunjung tuntas ini, Dedi Mulyadi langsung bereaksi tegas.
Ia berjanji akan menerjunkan tim Inspektorat Jawa Barat untuk melakukan audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap aliran dana tabungan tersebut.
"Ya sudah, nanti saya periksa lewat inspektorat. Kita periksa dulu. Kan intinya orang tua ingin uangnya kembali," tegas Dedi sambil menenangkan warga.
Gubernur yang akrab disapa Kang Dedi ini pun berusaha mencairkan suasana dengan berkelakar, namun tetap menekankan komitmennya.
Baginya, tugas gubernur tak hanya membangun infrastruktur seperti jalan dan jembatan, tapi juga menjadi penengah dalam konflik sosial yang merugikan rakyat kecil.
"Sudah kita tengahi, mudah-mudahan ada jalan lewat pintu dan jendela, alias jalan keluar," pungkasnya.
Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran Jawa Barat ungkap alasan pensiunan guru di SD Negeri 1 Mekarsari Kecamatan Cimerak memakai uang tabungan murid hingga ratusan juta.
Pensiunan guru ini bernama Cicih dan saat bertugas di SD Negeri 1 Mekarsari sempat memakai uang tabungan untuk keperluan usahanya.
Nominalnya, itu mencapai sekitar Rp Rp 343.900.000.
"Saya memang tidak tahu secara detil, tapi menurut informasi sebelum tahun 2017 lalu, si guru itu ada usaha," ujar Darso Kabid SD Disdikpora Kabupaten Pangandaran kepada Tribun Jabar di kantornya, Selasa (24/6/2025) pagi.
"Niatnya mungkin baik, ada usaha, dia pinjam uang tabungan untuk modal, tapi nyatanya usahanya itu tidak berhasil. Makanya, menjadi utang guru itu."
Terkait kejadian tersebut, Ia menegaskan bahwa uang tabungan murid yang dititipkan di sekolah tidak boleh dipinjam guru.
"Sebetulnya itu hal yang tidak diperbolehkan, jangankan sampai sebesar itu. Itu tidak boleh," katanya.
Ia pun menceritakan beberapa waktu lalu sempat ada kepala sekolah yang koordinasi terkait penggunaan uang tabungan murid.
"Contoh, ada kepala sekolah mau pinjam uang karena ada guru yang mau nikahan, pinjam uang sebesar Rp 3 juta, saya bilang kalau mau pinjam silahkan pinjam di luar, apa bedanya uang tabungan dengan uang pinjam di luar," ucap Darso.
Karena, jika ingin meminjam uang tabungan murid tentu izinnya harus ke semua orang tua didik yang menabung di sekolah.
"Uang tabungan itu merupakan uang titipan orang tua peserta didik. Kalau mau pinjam silahkan di luar, silahkan, mau ke Bank atau ke koperasi. Maka, alhamdulilah bisa tercegah," ujarnya.
Sementara kasus uang tabungan murid mandek yang sekarang mencuat merupakan kejadian tahun - tahun sebelumnya.
"Makanya, karena kejadiannya pada tahun 2017 lalu, kami tidak bisa berbuat banyak," kata Darso.