- Ayah rupanya membiarkan ibu tiri menyiksa anak. Dia tidak melarang bahkan membela sang anak sampai kemudian tewas di rumah sakit.
Dugaan kekerasan yang dialami NS (12) ternyata sudah berlangsung sejak lama.
Santri yang duduk di kelas 1 SMP tersebut rupanya sering mendapat perlakukan kasar dari ibu tirinya.
Ibu kandung NS, Lisna, sudah lama sekali tak bertemu sang anak.
Ia mengaku akses komunikasi dengan anak dibatasi oleh ayah kandung, Anwar Satibi (38).
"Susah kalau mau ngehubungin anak juga susah, banyak dilarang sama ayahnya, jadi susah komunikasi sama anak," katanya.
Sebagai ibu kandung, Lisna terakhir bertemu NS sekitar 7 tahun silam.
"Terakhir ketemu 7 tahun yang lalu. Waktu bayi mah sama neneknya, sama keluarga saya. Mau nelepon juga sama anak susah," katanya.
Pernah suatu momen, NS berhasil bertemu neneknya.
Kata Lisna, NS begitu banyak menumpahkan cerita tentang yang dia alami.
"Dia juga pengen ikut sama umi, sehari aja tapi gak dibolehin sama ayah," katanya.
Anwar bahkan tidak menceritakan ke Lisna bahwa NS pernah menjadi korban kekerasan ibu tiri, TS (42).
Padahal Anwar sampai melaporkan TS ke polisi.
"Kalau tahu gak bakalan dikasihin lagi sama ibu. Bahkan saya sudah dianggap meninggal sama mantan suami juga," katanya.
Kuasa hukum Lisna, Mira Widyawati, mengatakan Anwar menginformasikan ke kliennya bahwa NS sakit paru-paru.
Lalu TS mengatakan bahwa NS menderita kanker darah, Leukimia dan autoimun.
Mira mengungkap bahwa Anwar mengatakan ke NS bahwa ibu kandung sudah meninggal dunia.
"Menurut pengakuan dari klien kami, Lisna, bapaknya itu menyatakan bundanya sudah tidak ada, sudah meninggal. Handphone dan lain-lain sudah lost," katanya.
Sementara ayah NS, Anwar Satibi percaya begitu saja terhadap ucapan istrinya.
Ibu tiri mengatakan kulit NS melepuh karena demam.
"Kulit anak saya pada melepuh seperti luka bakar. Saya tanya ke istri saya, 'mah ini kenapa ulit si raja seperti ini ?'. Istri saya jawab, 'si raja kan sakit panas makanya suka begitu kulitnya kaya kesiram air panas'," kata Anwar.
Barulah di rumah sakit, petugas medis dan dokter mengungkap bahwa kulit melepuh NS bukan karena demam, melainkan tindak kekerasan.
"Dia menegaskan pak bu kan ini medis sesakit apapun panas tidak menimbulkan luka seperti ini. Ada indikasi terjadi kekerasan," katanya.
Dan benar saja, NS juga mengku bahwa ia menerima tindak kekerasan dari ibu tiri.
"Sempat menjawab, dipaksa minum air panas. Di situ pun ada anggota kepolisian," katanya.
Anwar pun mengakui bahwa istrinya kerap bertindak kasar pada sang anak.
"Memang tipikal istri saya itu dia selalu anak saya tuh gak boleh main. Anak saya sering dikunci dengan alasan mau disiplin. 'Kenapa harus dikunci di rumah', 'biar disiplin belajar'. Jadi alasannya ini masuk logika saya," kata Anwar.
Bahkan dia tidak percaya atas aduan yang diberikan sang anak.
Meski anaknya sudah mengungkap perlakuan kasar, namun Anwar tetap membelas istrinya.
"Setahun lalu di SD, sering ngadu ke saya. Cuman saya positif aja, mungkin ini cara mendidik istri saya biar anak lebih disiplin, saya gak mempermasalahan kan itu. Karena yang membuat saya percaya istri saya berpendidikan, sarjana, terus pegawai," katanya.
Kapolres Sukabumi AKBP Samian memastikan bahwa status perkara NS naik dari penyelidikan menjadi penyidikan.
Menurutnya polisi menemukan unsur pidana dalam kematian NS.
"Perkara sudah kita naikkan pada tingkat penyidikan karena kita sudah menemukan beberapa alat bukti yang tentunya bisa kita yakini ini ada peristiwa pidana, yaitu pidana dugaan kekerasan baik fisik ataupun psikis terhadap korban anak yakni saudara NS," katanya.
Samian mengatakan polisi melakukan penyelidikan dengan mengutamakan unsur scientific crime investigation.
"Kita melakukan kolaborasi dengan dinas terkait, mulai dari psikologi forensik hingga melibatkan Mabes Polri untuk melakukan vaksin forensik. Kita melakukan tindakan-tindakan penyidikan secara ilmiah," katanya.