TRIBUNJABAR.ID, LEMBANG – Aktivitas offroad liar di kawasan hutan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kini memicu kemarahan warga.
Masyarakat Kampung Cipariuk, Desa Sukajaya, menyatakan jengah dan melakukan aksi nyata dengan menutup akses masuk-keluar kawasan hutan ke pemukiman mereka.
Langkah tegas ini diambil lantaran kendaraan offroad, baik mobil maupun motor trail, secara terus-menerus merusak infrastruktur vital milik warga.
Kerusakan itu terutama terlihat pada saluran air bersih dan jalur pertanian.
Tokoh masyarakat Kampung Cipariuk, Dadang Aziz Muslim (50), mengungkapkan bahwa pipa-pipa saluran air yang melintasi kawasan hutan kerap pecah terlindas ban kendaraan offroad.
Baca juga: Perhutani Tutup Akses Offroad Lembang yang Rusak Aliran Air dan Jalan Warga, Singgung Offroad Liar
Kondisi ini membuat warga kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
"Sekarang pipa-pipa itu terpaksa dinaikkan (digantung) ke atas karena kalau di tanah sering hancur terlindas ban-ban ganas offroad," ujar Dadang, Kamis (19/2/2026).
Selain masalah air, lintasan yang saban hari digunakan warga untuk mencari rumput dan akses ke kebun kini rusak parah.
Jalur yang dulunya rata kini berubah menjadi alur dalam dan berlumpur yang sulit dilalui manusia maupun ternak.
Warga pun sempat menggelar unjuk rasa pada Minggu (15/2/2026) lalu untuk menuntut penutupan jalur yang merusak lingkungan tersebut.
Kerusakan tidak hanya terjadi di dalam hutan.
Jalan kampung yang menjadi akses keluar-masuk kendaraan offroad kini dalam kondisi memprihatinkan.
"Jalan desa ini kalau tidak di-hotmix, ya parah sekali. Padahal 4 tahun lalu kondisinya masih bagus."
"Sekarang sudah rusak parah karena terus-menerus dilewati kendaraan berat," jelas Dadang.
Setelah dilakukan mediasi yang melibatkan pihak Desa, Perhutani, dan komunitas pegiat offroad, diputuskan bahwa akses di Kampung Cipariuk ditutup sementara.
Warga mendesak Perhutani untuk lebih selektif dan memberikan teguran keras bagi pelaku offroad liar.
Dadang membedakan antara komunitas resmi dan pelaku liar.
Menurutnya, komunitas resmi seperti komunitas Land Rover (Lendi) lebih mudah berkoordinasi karena memiliki pengelola dan bertanggung jawab atas perbaikan jalan.
"Yang perlu diantisipasi itu yang liarnya. Kami minta ada pemetaan ulang dan minimal ada peringatan tegas di jalur-jalur keluar masuk yang tidak resmi agar tidak semakin merugikan masyarakat," tandasnya.
Perhutani telah melakukan penutupan akses offroad di Kampung Cipariuk, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Penutupan itu merupakan buntut dari protes warga atas kerusakan jalan kampung, saluran air dan lintasan di hutan tempat offroad.
Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, Cucu Supriatna mengatakan, penutupan dilakukan objek wisata Nyawang Bandung yang kerap menjadi akses masuk dan keluar kendaraan offroad.
"Kami hari ini bersama masyarakat dan mitra kami Safari Hutan, melakukan pemasangan banner penutupan sementara wisata Nyawang Bandung, jadi dua akses masuk ke akses wisata ini, sementara kita tutup," kata Cucu, Kamis (19/2/2026).
Cucu mengungkapkan, warga mengeluhkan adanya kerusakan aliran air, jalur lintasan warga, dan kerusakan jalan kampung akibat aktivitas offroad, baik mobil maupun sepeda motor trail.
Nyawang Bandung di Kampung Cipariuk merupakan salah satu akses utama bagi salah satu komunitas mobil untuk melakukan offroad di kawasan hutan.
"Jadi yang dipermasalahkan (warga) cross sama offroad yang melewati akses masyarakat. Itu yang menjadi permasalahan, dan makanya kita melakukan penutupan," ujarnya.
Perhutani berharap permasalahan ini tidak berlarut-larut. Dia mendorong pengelola Nyawang Bandung segera duduk bersama untuk mendapatkan solusi atas hal yang dipermasalahkan warga.
"Mudah-mudahan Nyawang Bandung cepat ada solusi, cepat ada kesepakatan antara pengelola dengan warga. Mudah-mudahan menjelang lebaran, sudah buka lagi," ujarnya.
Cucu menambahkan, Safari Hutan merupakan satu-satunya mitra wisata offroad dari Perhutani. Dia tak menampik, masih ada aktivitas offroad liar yang dilakukan secara mandiri maupun secara berkelompok.
"Jadi mudah-mudahan dengan adanya gerakan ini, diharapkan aktivitas offroad liar bisa gabung ke Safari Hutan. Jadi yang terbaik itu kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat," tandasnya.