TRIBUNJATIM.COM - Bulan Ramadan selalu identik dengan tradisi ngabuburit, yakni kegiatan menunggu waktu berbuka puasa. 

Di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, ada satu tradisi unik yang dilakukan warga sekitar, yakni Kumbohan.

Kumbohan merupakan kegiatan berburu ikan munggut atau ikan ‘mabuk’ di aliran Sungai Bengawan Solo. 

Tradisi ini menjadi cara warga mengisi waktu menjelang maghrib sekaligus menjaga kebersamaan dan biasa dilakukan warga Lamongan saat sore hari menjelang berbuka. 

Ketika air sungai surut, banyak ikan yang mudah ditangkap sehingga warga berbondong-bondong turun ke sungai.

Istilah munggut atau ‘mabuk’ bukan berarti ikan benar-benar mabuk.

Kondisi tersebut terjadi karena perubahan air sungai, sehingga ikan lebih banyak menepi dan mudah ditangkap.

Tradisi ini tak hanya soal mencari lauk berbuka, tetapi juga menjadi momen kebersamaan antarwarga yang sudah berlangsung turun-temurun.

Baca juga: Tradisi Padusan di Pantai Parangtritis, Ramai Warga Menyucikan Diri Sebelum Puasa

Berawal dari Fenomena Alam Sungai Bengawan Solo

Kumbohan erat kaitannya dengan fenomena alam di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo yang melintasi wilayah Gresik dan Lamongan.

Dikutip dari Kompas.com, fenomena ikan munggut terjadi hampir setiap tahun, terutama saat hujan deras pertama turun setelah musim kemarau panjang.

Perubahan air yang semula jernih menjadi keruh membuat ikan beradaptasi dan banyak yang naik ke tepian sungai.

Tak hanya warga Lamongan, masyarakat dari daerah lain pun ikut berburu ikan. 

Mereka datang sejak subuh hingga sore hari demi mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya.

Selain di Lamongan, warga di Desa Karangcangkring dan Desa Jrebeng, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik juga turut meramaikan tradisi ini setiap tahunnya.

Baca juga: Menjelang Ramadan 2026, Alun-alun Merdeka Malang Bisa Jadi Pilihan Favorit Ngabuburit

Cara Menangkap dan Jenis Ikan yang Diburu

Dalam tradisi Kumbohan, warga menggunakan berbagai alat tangkap. 

Ada yang membawa jala, jaring, tombak ikan, hingga alat menyerupai senapan angin.

Tradisi ini diikuti dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua, baik laki-laki maupun perempuan.

Mereka berlomba-lomba menangkap ikan yang menepi di sepanjang sungai.

Jenis ikan yang didapat pun beragam, seperti mujair, bader, nila, keting, hingga udang congah. 

Baca juga: Tradisi Resik Lawon Menjelang Ramadhan, Simbol Penyucian Diri dan Warisan Budaya Banyuwangi

Dikutip dari Gramedia.com, warga menunggu air menjadi keruh dan surut agar ikan mudah naik ke permukaan.

Biasanya hasil tangkapan tidak hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Sebagian warga membagikan ikan kepada tetangga dan kerabat sebagai bentuk berbagi di bulan Ramadan.

Tradisi ini bukan sekadar mencari ikan, tetapi juga mempererat hubungan sosial. 

Warga saling membantu, bercengkerama dan menikmati suasana sore Ramadan bersama.

Kumbohan pun menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat di sepanjang Bengawan Solo, sekaligus bukti ngabuburit bisa dilakukan dengan cara yang unik, bermanfaat, dan penuh kebersamaan.

Baca Lebih Lanjut
Pasar Kebon Roek, Spot Ngabuburit Favorit Berburu Takjil Tradisional di Mataram
Laelatunniam
4 Rekomendasi Pasar Ramadan di Jogja yang Bisa Jadi Tempat Ngabuburit
Muhammad Fatoni
Daftar 10 Lokasi Ngabuburit Favorit Masyarakat Gorontalo di Bulan Ramadan
Fadri Kidjab
Daftar Tempat Ngabuburit Seru di Kota Ketapang yang Wajib Disambangi saat Ramadan 2026
Faiz Iqbal Maulid
7 Tempat Ngabuburit yang Hits di Kota Bogor, Asyik Buat Santai, Olahraga hingga Berburu Takjil
Ardhi Sanjaya
5 Tempat Berburu Takjil yang Wajib Dikunjungi di Ketapang, Dari Pasar Juadah hingga Cafe Anak Muda
Faiz Iqbal Maulid
Itinerary Ngabuburit di Taman Bekapai Balikpapan, Bujet Rp 63 Ribuan
Muhammad Yurokha May
Warga Polman Berburu Ayam Kampung di Pasar Jelang Ramadan, Harga Naik Rp 150 Ribu per Ekor
Nurhadi Hasbi
Rekomendasi Kuliner Khas Ramadan di Kendal, Pedas Gurih Telur Mimi Dicocol Sambal Kelapa
Rival al manaf
Lokasi yang Cocok untuk Ngabuburit di Kota Sanggau Kalimantan Barat
Rivaldi Ade Musliadi