TRIBUNJAKARTA.COM - Dokter Spesialis Anak dari Eka Hospital M.T. Haryono, dokter Rania Ali mengungkapkan sejumlah gejala anemia pada anak-anak yang kerap tidak disadari oleh orangtua.
Anemia sendiri adalah kondisi medis saat tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau hemoglobin (Hb) berada di bawah batas normal.
"Jadi, anemia itu kalau misalkan kita cek darah, ternyata HB atau kita bilang hemoglobin itu padanya di bawah nilai normal," ucap dokter Rania, kepada TribunJakarta pada Jumat (13/2/2026).
"HB itu biasanya di atas 11. Nah, baru kita katakan anemia kalau levelnya di bawah 11, entah dia jadi 10 atau dia jadi,"
"Nah, kalau misalkan anak udah teenager, kalau anak laki-laki itu bagusnya kalau HB-nya di atas 13. Tapi kalau anak perempuan, bagusnya HB-nya di atas 12," imbuhnya.
Menurut dokter Rania gejala awal anemia kerap kali terlewat, dan baru ketahuan ketika kondisinya sudah memburuk
"Gejala awal itu terkadang dia tidak terdeteksi. Begitu dia sudah mulai berjalan lebih lama lagi, barulah dia mulai ada gejalanya," ucap dokter Rania.
Dokter Rania lalu mengungkapkan sejumlah gejala awal dari anemia pada anak, yang biasanya terlihat dari aktivitas sehari-hari.
Pertama, anak menjadi lebih mudah capek walau melakukan sedikit aktvitas.
Kedua, anak sering tertidur di sekolah.
Ketiga, performa atau prestasi anak di sekolah tampak menurun.
"Anak sekolah biasanya gurunya komplain, kok performa di sekolahnya dia menurun? Atau anaknya kok kayaknya terlihat lelah atau terlihat kayak mudah capek? Aktivitas sedikit, udah mengeluh, capek. Terus sering juga tertidur pada saat di sekolah. Terus prestasinya dia mulai menurun,"
"Itu yang mungkin ya kayak early detection dulu yang biasanya suka disampaikan oleh guru di sekolahnya,"
Umumnya, orangtua baru menyadari anaknya mengalami anemia, ketika buah hatinya tersebut terlihat pucat.
Padahal anak yang terlihat pucat, adalah gelaja lanjutan dari anemia.
Anak yang pucat, dapat dipastikan kandungan HB dalam darahnya sudah sangat rendah.
"Namun terkadang bisa juga nih dari penampakannya. Biasanya anaknya tampak lebih pucat dibandingkan teman-temannya, kita harus hati-hati. Biasanya tuh pucat baru tampak kalau HB-nya udah sangat rendah, terutama kalau udah di bawah 7," kata dokter Rania.
"Nah, itu makanya dia gejalanya tuh baru late-nya, baru terlambat mulai muncul," imbuhnya.
Anemia dan zat besi memiliki hubungan erat, kekurangan zat besi adalah penyebab utama anemia (anemia defisiensi besi) karena zat besi diperlukan tubuh untuk memproduksi hemoglobin.
Rendahnya zat besi menurunkan produksi hemoglobin.
Lantas utuk mencegah terjadinya anemia, dokter Rania membeberkan sederet makanan tinggi zat besi yang bersumber dari non hewani dan hewani.
"Zat besi itu bisa kita dapatkan dari makanan. Makanan apa yang kayakan zat besi? Dibagi di dua, ada zat besi yang kita dapat dari hewani ada juga zat besi yang kita dapat dari tumbuh-tumbuhan atau non hewani, yang paling bagus adalah zat besi yang didapat dari hewani," jelas dokter Rania.
"Nah itu komponen namanya heme atau hem, hewani itu apa aja salah satunya dari daging, ayam, bebek, seafood, dan telur, itu dia banyak kandungan zat besinya, terus dari hati, baik itu hati sapi hati, kambing hati, dan ayam,"
"Kalau yang dari tumbuh-tumbuhan yang banyak itu, biasanya sayuran yang berwarna kehijauan, misalkan kayak bayam,brokoli, dan buncis,"
"Selain itu bisa juga kita dapat dari kacang-kacangan, sebetulnya tahu dan tempe itu juga ada komponen zat besinya," imbuhnya.